Krisis Nalar: Kurang Baca

Baca Juga

Saya teringat suatu pagi, saat ayah dengan galaknya memarahi penghuni rumah lantaran buku bacaannya tergeletak di tempat yang tak seharusnya buku itu berada. Di dapur.

Krisis Nalar: Kurang Baca
Ilustrasi: Dua orang balita sedang asyik membaca buku. Foto: charliewynnjones

Hari itu hari terakhir hari libur Natal, 2003. Hari masih sangat pagi. Suara burung-burung kecil yang datang menikmati madu bunga pepohonan di belakang rumah masih cerewet karena berebutan kuncup. Ibu tak menyahut apapun terhadap ocehan ayah dari teras belakang. Ia sibuk dengan kegiatan paginya; kasi makan babi. Saudari saya yang kedua, Maria Suryani, sedang membersihkan piring kotor di tenda belakang. Sementara yang bungsu, Natalia Delastry, menemani ibu. Saya sudah di meja makan, siap melibas sarapan pagi. Hihi..



Ayah terus mengoceh. Sesekali terselip pengalamannya kala masih bekerja di eS-Ve-De; saat menjadi sopir seorang pastor, misionaris luar negeri. Baca itu penting! Itu inti ocehannya. Ayah bilang, dia tak berpendidikan tinggi, dia bukan sarjana. Tapi dia mengenal banyak hal, bahkan mampu mengerjakan banyak hal, karena sering baca buku. Ia menceritakan tentang dirinya, yang secara formal mengenyam pendidikan formal di sekolah pertukangan, namun bisa mengerjakan pekerjaan memperbaiki listrik, jaringan pengairan, bahkan memperbaiki alat elektronik. Apa hubungannya? Nah, di situ, kata dia, buku menjadi penting. Dia bisa seperti itu (mampu di berbagai bidang) karena banyak baca buku.

Maka, dalam kasus buku yang diletakkan di dapur itu, kesadaran membaca dan menganggap buku penting masih belum dimiliki oleh penghuni rumah. Saya, sang pelaku yang meletakkan buku itu di dapur, adalah sasaran utama ocehan itu. Bagi ayah, tindakan saya itu masuk kategori buruk. Tidak mengindahkan ilmu pengetahuan dan jauh dari kesadaran mengembangkan potensi diri.

Jika mengamati alasan besar dari ocehan ayah pagi itu, hanya sikap setuju yang terbersit. Faktanya, ayah memang seorang yang gemar membaca: majalah, buku, bahkan makalah-makalah yang-entah oleh siapa-mendarat di rumah. Buktinya, di rumah ada peti berukuran besar, yang terbuat dari kayu. Peti itu sudah ada sejak saya lahir. Di dalamnya, hampir semua buku usang bacaan ayah di masa mudanya. Ada buku teologi pembebasan (entah dari mana datangnya), ada buku elektronik, ada buku tentang jaringan listrik, ada buku tentang mesin pompa air. Juga Kitab Suci Perjanjian Lama yang ditulis dalam Bahasa Indonesia ejaan lama. Ada juga buku tentang keluarga kristiani.

Apakah ayah membaca semua buku itu? Saya tidak tahu persis. Tetapi faktanya, ayah selalu menjawab benar jika ditanya inti pembahasan pada bab per bab dalam buku-buku itu. Untungnya, pagi itu kami kedatangan tamu. Ocehannya terjedahi, ia lalu berbicara dengan tamu, seorang guru SMP yang datang meminta ayah untuk memperbaiki seterikanya. Katanya, sudah sebulan seterika itu rusak dan tak bisa dipakai.

Sementara ayah ganda dengan tamu di ruang tengah, saya dan ibu serta kedua saudari saya menikmati sarapan pagi. Ibu, dengan suara yang tak sekeras suara ayah, mengingatkan untuk: jika selesai membaca buku, sebaiknya bukunya dikembalikan ke tempatnya. Ayah seorang yang sangat menghargai buku.

Pesan ayah sebelum tamu itu datang rupanya relevan dengan situasi hari ini, di saat banyak pihak meninggalkan kebiasaan membaca.

Tradisi bedah buku, menggali pemikiran penulis dari sebuah buku kian tak terlihat. Kebiasaan itu berdampak pada rusaknya cara kebanyakan orang menyerap informasi yang didapatkan dari pihak lain atau, bahkan, dari media massa. Dampak paling parah adalah mengafirmasi informasi singkat yang diterima sebagai kebenaran, yang utama.

Padahal, yang muncul hanya lah sepotong interpretasi yang masih jauh dari kebenaran. Hal ini berdampak pada perkembangan perilaku sosial; soal beradab atau menjadi biadab dengan lingkungan dan sesama manusia. Menghakimi orang lain berlaku salah dan menganggap diri paling benar.

Tidak sedikit kisah tentang ‘pengadilan jalanan’ terhadap manusia lain terjadi karena kesimpangsiuran informasi yang diinterpretasikan secara salah dan emosional. Padahal, bukankah banyak persoalan akan menemukan solusi yang tepat jika kita lebih menggunakan penalaran yang tepat dan objektif?

Ayah mungkin salah soal tempat penempatan buku. Sebab, tingkat pemahaman pembaca buku itu tidak bergantung pada tempat ia meletakkan buku setelah dibaca, kan? Tetapi, kesadaran untuk meningkatkan habitus membaca banyak buku-inti pesan ayah-, harus saya setujui.

Habitus itu perlu dibangun seiring dengan peningkatan kemampuan diri berinovasi di berbagai bidang.

George Martin, dalam A Dance with Dragons, barangkali benar: “A reader lives a thousand lives before he dies. The man who never reads lives only one.”
Krisis Nalar: Kurang Baca Krisis Nalar: Kurang Baca Reviewed by Marcell Gunas on Selasa, Januari 02, 2007 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.