Blogging di Ruteng: Mahal dan Asing

Baca Juga

Setelah seminggu menggeluti dunia blogging, saya berkesimpulan sementara bahwa blogging di Ruteng itu mahal dan asing. Kesimpulan sementara itu muncul berdasarkan situasi yang saya alami selama seminggu menggeluti dunia blogging.



Blogging setidaknya telah membawa saya pada dua rutinitas wajib yang masuk daftar kesibukan selain kuliah. Dua rutinitas itu adalah membaca dan menulis. Saya juga mulai ‘meraba-raba’ dunia jurnalistik. Dua rutinitas itu menyenangkan sekaligus melelahkan. Setelah membuat blog, saya mulai giat menulis. Fokus saya selama seminggu ke depan adalah mengisi blog saya dengan konten sebanyak-banyaknya. Konten blog adalah hal yang penting saat menggarap blog. Tanpa konten, sebuah blog tak berfaedah.

Untuk itu, saya perlu mencari sekian banyak referensi tulisan di perpustakaan kampus untuk dituliskan di blog. Entah mengapa, saya merasa blog telah menjadi bagian dari keseharian saya.

Blog tak hanya mempertemukan saya dengan dunia informasi dan teknologi, tetapi juga membuat saya semakin rajin membaca dan belajar menulis. Bagi saya, dua kegiatan itu sama-sama gampang dibicarakan, sulit dilakukan. Tetapi dua-duanya adalah senjata ampuh untuk membunuh kemalasan. Dua kegiatan itu juga merupakan solusi bijak mengubur kepanikan dan stress. Membaca membantu saya menemukan banyak kosa kata baru. Membaca juga memudahkan saya menemukan inspirasi bagi tulisan yang akan dilansir di blog. Selalu ada hal baru yang saya temukan dari membaca. Saya akhirnya mengerti mengapa banyak orang percaya dengan ungkapan ‘buku adalah jendela dunia’.

Di tengah proses belajar blogging, saya menemukan berbagai fakta yang relevan dengan situasi yang saya alami. Kesimpulan itu bisa digambarkan seperti ini; Betapa mahalnya blogging di Ruteng, betapa susahnya mencari warnet, betapa mahalnya akses internet. Apakah terlalu berlebihan jika berceloteh seperti itu? Bagi saya, kalimat-kalimat ocehan itu wajar.

Beberapa fakta yang saya temukan selama seminggu bergelut di dunia blogging, antara lain;

Pertama, mahalnya tarif warung internet (Warnet).

Di Ruteng, sebagian besar peselancar dunia maya harus datang ke warnet untuk mendapatkan akses internet yang cukup lancar. Sebagian besar pemilik warnet meberlakukan tarif yang sama untuk setiap satu jam pemakaian internet: Rp. 5000. Saya menganggap tarif ini mahal sebab kadang tak sebanding dengan kecepatan yang internet yang didapatkan.

Artinya, bagi seorang mahasiswa, jika mempertimbangkan tarif itu, dalam keadaan yang super santai sekalipun, anda tak bisa berleha-leha untuk searching¬ hal-hal yang sifatnya baru untuk dipelajari selain mencari referensi tugas kuliah. Makalah, misalnya. Untuk blogging, anda tentu harus membutuhkan banyak biaya jika ingin menggelutinya secara serius. Sebab, tentu saja berkonsekuensi membutuhkan waktu yang lama di warnet. Apalagi jika anda adalah blogger pemula seperti saya.

Kedua, Tidak semua warnet dibuka 24 jam.

Jika anda seorang blogger dan masih menggunakan layanan internet di warnet sebagai fasilitas utama untuk megutak-atik blog anda, maka anda perlu mempersiapkan diri untuk kecewa. Apalagi jika blogging, bagi anda, adalah rutinitas utama. Anda hanya bisa bermain di depan komputer warnet dari jam 9 pagi, hingga jam 10 malam (09.00-22.00 WITA). Sebab, setelahnya, tuan warnet akan meminta anda untuk berhenti dengan alasan warnetnya akan ditutup. Maka tentu saja sebagai blogger pemula saya kecewa. Jika hari mulai gelap, saya mesti segera pulang. Dengan membawa kekecewaan pastinya.

Ketiga, blogging itu aktivitas asing!

Saya seringkali, dengan percaya diri, membagikan pengalaman blogging ke teman-teman saya di kampus. Hampir sebagian kisahnya adalah tentang hal-hal unik dan baru yang saya temukan selama berselancar di dunia blogging. Setelah selesai bercerita, tidak ada yang bertanya untuk maksud untuk mengetahui lebih jauh seputar aktivitas itu. Semuanya diam, dan menganggap apa yang saya lakukan sebagai kegiatan sampingan yang asing dan dipaksakan untuk menjadi rutinitas. Mereka bahkan menyebut saya sebagai ‘The man with a big internet power syndrome'. Untuk hal ini, saya jawab dengan lantang; “Yes, I am!”. Faktanya, hampir tiap hari saya masuk warnet untuk belajar tentang blog.

Keempat, blogging mengancam asmara.

Jika saja saya memiliki pacar selama saya menjalani rutinitas ini, tentu hubungan kami tak bertahan lama. Potensi untuk cek-cok tiap hari juga tinggi.


Yang saya tahu, dalam berpacaran, intensitas komunikasi menentukan seberapa lama hubungan itu bertahan. Sederhananya, anda akan sibuk dengan komunikasi-komunikasi non formal seperti menanyakan kabar, menanyakan sedang melakukan apa, bercerita ngalor-ngidul tak jelas biar dibilang dekat dan romantis, dan bla bla seterusnya. Silahkan ditambahkan sendiri daftar kebiasaan orang berpacaran.

Intensitas komunikasi itu tentu akan terganggu manakala saya telah berada di depan komputer dan mulai mengerjakan blog. Biasanya dimulai dari urusan merapikan tulisan, mengedit template, mencari gambar yang relevan, mengatur tata letak, dan mempromosikan konten blog di mesin pencari.

Untuk setiap aktivitas itu, tentu dibutuhkan konsentrasi penuh, tidak setengah-setengah, juga waktu yang tidak sedikit. Dengan demikian, pacar akan marah jika smsnya tak dibalas, dan panggilannya ditolak. Untung saja saya belum punya pacar.

Jadi untuk berasmara, saya lebih memilih berasmara dengan blog saya.

Seminggu menggeluti blogging, itulah tiga fakta yang saya temukan. Saya belum tahu fakta apa lagi yang akan saya temukan kedepannya. Yang jelas, akan ada banyak fakta menarik lainnya yang bakal saya temukan. Tunggu saja!



Pojok Kampus, Ruteng
Marsel Gunas
Blogging di Ruteng: Mahal dan Asing Blogging di Ruteng: Mahal dan Asing Reviewed by Marsel Gunas on Jumat, Maret 30, 2007 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.