Do what impossible to be done!

Baca Juga



Ini tantangan penting untuk saya. Kalimat ini seperti sebuah gertakan serius dan sungguh-sungguh, setidaknya bagi saya yang minim potensi. Do what impossible to done! Lakukan apa yang tidak mungkin dilakukan! Namun, saya suka pesan di balik kalimat ini. Seperti ada pesan imperative untuk berinovasi.

Secaa sosiologis, mahasiswa masuk kelompok masyarakat menengah. Antonio Gramsci menyebut istilah intelektual organik untuk menggambarkan kelompok intelektual yang memiliki cara berpikir kritis dan melawan dominasi kekuasaan (baik politik maupun ekonomi). Mahasiswa adalah kelompok kritis.

Kritis, karena dia hidup dan begumul di lingkungan akademik, di lingkungan penuh hingar bingar teoritis, dan mengandalkan kekuatan penalaran. Karena itu, pendapat para pemikir besar tentang pentingnya peran mahasiswa lantas tidak pernah terlepas-pisah dari identitas mahasiswa itu.

Maka, wajar jika banyak inovasi dan kemajuan dunia yang lahir dari rekomendasi para intelektual di kampus. Bahkan untuk tata kehidupan dunia, kampus memberi andil besar. Kampus mempropagandakan sebuah model kehidupan yang maju dan manusiawi. Saya sadar, tanggung jawab saya sebagai mahasiswa cukup berat.

Selain tanggung jawab akademik-mendapat nilai yang memuaskan dan memenuhi tuntutan kuota SKS- saya juga memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi bagi lingkungan saya, baik keluarga maupun masyarakat pada umumnya.



Tetapi, khusus bagi lingkungan sosial, kontribusi mahasiswa tentu perlu datang dari potensinya yang terus dipertajam di lingkungan kampus. Artinya, potensi individu yang dibentuk di lingkungan kampus, menentukan konstruktif atau destruktifnya kontribusi mahasiswa bagi lingkungan sosialnya.

Untuk itu, sebagai mahasiswa, saya perlu terus memperluas wawasan saya. Tentu saja itu tidak hanya berkaitan dengan spesifikasi keilmuan yang saya geluti di kampus. Tetapi perlu lebih dari itu. Saya perlu belajar hal-hal yang tak diajarkan di kampus, yang hanya ditemukan saat saya melakukannya secara berdikari (otodidak).

Jika saya adalah seorang mahasiswa program studi pendidikan Bahasa Inggris, apakah saya tak bisa menguasai komputer? Menguasai politik? Kira-kira begitu kegelisahannya. Karena kegelisahan itulah, saya mencoba untuk mendalami hal-hal di luar jalur spesifikasi keilmuan. Dan untuk itu, membaca adalah jalan keluar paling mudah dan murah.

Inilah kira-kira intisari diskusi kami pada malam ini. Diskusi ini awalnya diskusi tanpa tema. Hanya diskusi ringan antara sesama saudara sekampung asal sambil menunggu kantuk tiba, dan kopi di toples ludes.

Ruteng, Maret 2007.
Do what impossible to be done! Do what impossible to be done! Reviewed by Marsel Gunas on Kamis, Maret 15, 2007 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.