Pesta Sambut Baru dalam Diskusi Ringan di Kampus

Baca Juga

Pesta Sambut Baru dalam Diskusi Ringan di Kampus
Foto by: Drew Taylor (Unpslash)

Di setiap perayaan penerimaan Komuni Pertama bagi anak-anak, Gereja penuh sesak. Paduan suara bernyanyi lantang, dekorasi altar lebih mewah dari Hari Minggu biasanya. Pada barisan paling depan hingga bagian tengah bangku gereja, tampak anak-anak berbusana khusus-lazimnya mengenakan jas-dengan lilin yang menyala di tangan. Mereka diapiti oleh kedua orang tuanya, atau keluarga yang mendampingi.

Di beberapa tempat, soal busana itu, ada juga yang mengenakan seragam sekolah 'Putih Merah'; atasan putih, bawahan merah. Tentu saja dengan dasi merah "Tut Wuri Handayani' di dada. Pemandangan dan kemeriahan itu akan terlihat sekali setahun. Di tiap perayaan itu, umat memadati gereja dari kursi paling depan sampai paling belakang. Di altar, tak jarang ada lebih dari dua orang pastor yang memimpin misa.


Misa perayaan komuni pertama memang selalu semarak. Hal itu tak terlepas jauh dari makna penting dari sakramen ekaristi. Karena penting dan mendasarnya makna sakramen ekaristi itu, maka upacara syukuran atas penerimaan sakramen itu juga boleh dibilang tidak main-main, ramai, semarak, dan berbiaya tinggi.

Tak ada yang salah dengan itu. Toh, sebagai orang Katolik, kita memiliki cara yang berbeda untuk mengekspresikan kebahagiaan. Kita juga masing-masing punya cara yang unik untuk menyatakan syukur kepada Tuhan. Termasuk ekspresi kebahagiaan kita ketika salah seorang anggota keluarga menjadi salah satu dalam rombongan peserta penerima komuni pertama.

Ekspresi-ekspresi itulah yang kini jadi wacana serius di kampus ini. Meski cendrung tidak terlibat dalam diskusi, namun apa yang disimak sudah amat cukup untuk menjadikan kesimpulan.

Kebanyakan menyebut pesta sambut baru sebagai musibah dalam kehidupan gereja. Alasanya karena pesta pora itu berlebihan, tekesan hedon dan menghambur-hamburkan harta. Sementara di sisi lain ada kondisi ekonomi keluarga yang masih harus diurus secara serius. Singkatnya, penggunaan keuangan untuk pesta sambut baru sebaiknya dialihkan untuk kebutuhan lain; pendidikan, misalnya. Opini lain menyebutkan, Gereja menawarkan kesederhanaan. Bukan kemewahan. Pesta, apapun bentuknya, mewah. Itu tak sejalan dengan semangat yang diajarkan Yesus tentang kesederhanaan.

Ada juga yang bilang, pesta sambut baru adalah penyebab kriminalitas di Manggarai. Opini ini berkembang lantaran adanya konflik antara kelompok tertentu yang terjadi lantaran terlibat perkelahian di tempat pesta sambut baru; Pestanya bubar, wajah babak belur.

Tiga bentuk tanggapan dan opini ini bisa saja benar. Meskipun, sepintas tampak timpang, karena hanya menilik sisi dampak pesta sambut baru. Tak ada pihak yang mengungkap opini-opini yang cukup lengkap. Misalnya, jika yang disoroti soal dampak pesta terhadap ekonomi keluarga penyelenggara pesta. Bukankah, sebagaimana tradisi orang Manggarai pada umumnya, untuk menyelenggarakan acara tertentu, biaya pesta ditanggung bersama keluarga besar (anak wina, anak rona, ase kae, dsb).

Soal kemewahan. Patokannya adalah kemah besar, bola lampu yang menyala di tiap sudut kemah, ada pemain musik dengan penyanyi cantik dan tampan, makanan yang lezat, itu?

Mungkin kita perlu bercuriga. Misalnya, jangan-jangan lampu itu dipinjam, bukan dibeli. Jangan-jangan ‘terpal’ yang dipakai sebagai atap adalah terpal yang dipinjam dari sesama petani yang kerap menggunakan terpal yang sama untuk menjemur padi setelah musim panen? Jangan-jangan kursi, meja, piring, gelas, sendok yang dipakai selama pesta adalah barang-barang pinjaman tanpa ada biaya peminjaman?

Jangan-jangan babi yang dipotong untuk disantap juga sumbangan dari keluarga lain yang kebetulan memiliki peliharaan babi? Litani kecurigaan lainnya perlu ditelisik lebih jauh, agar menghindari tuduhan serius tanpa bukti akurat. Soal pesta sambut baru sebagai pemicu kriminalitas. Ini yang agak rumit; yang keliru pestanya atau yang ikut pesta? Yang ikut pesta tentunya!


Maka diskusi kampus sebaiknya menghindari diskusi yang berbasis pada opini sempit, tanpa eksplorasi ide dan upaya pembuktian secara otentik. Kampus adalah rumah kaum intelektual yang mengandalkan cara pikir yang kritis dan objektif.

Opini yang dihasilkan sebaiknya lebih diabdikan untuk kebaikan dan keharmonisan banyak orang, termasuk lingkunga yang tak pernah mengenal dunia kampus. Toh, masih soal pesta, kesan dan opini kita tak pernah seheboh itu untuk menanggapi perayaan syukur pentahbisan para imam di berbagai kampung. Bukan?

Salam
Marsel Gunas
Pesta Sambut Baru dalam Diskusi Ringan di Kampus Pesta Sambut Baru dalam Diskusi Ringan di Kampus Reviewed by Marcell Gunas on Selasa, Maret 20, 2007 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.