"Mati Kau dari Suster Yosefin"

Baca Juga

Saya mengenal dunia pendidikan formal pertama kali di Taman Kanak-Kanak (TKK) Pancasila. TKK Pancasila adalah salah satu sekolah besutan Yayasan Santo Stanislaus Borong yang dikelola oleh kongregasi Ordo Santa Ursula Borong, Flores.

Dari rumah, jarak sekolah ini hanya beberapa meter. Tidak jauh. Di sini lah saya dan beberapa sahabat sekompleks diperkenalkan dengan pendidikan dasar.


Sudah menjadi pengetahuan umum, pola pendidikan di Taman Kanak-Kanak lebih dititikberatkan pada pengelolaan kemampuan dasar seorang peserta didik. Antara lain, mengeja huruf, mengucapkan kata dan membaca, juga mengenal angka-angka (numeric). Untuk menunjang kemampuan itu, metode yang paling sering dilakukan para guru di TK adalah bernyanyi bersama, game (permainan) dan mendeklamasikan puisi.

Ada seorang guru yang sangat ditakuti selama di TKK Pancasila. Suster Yosefin. Suster Yosefin (maaf, saya lupa nama lengkapnya), adalah sosok yang menjadi pusat perhatian. Ia adalah kepala sekolah TKK Pancasila saat itu. Suster Yosefin adalah seorang yang disiplin, rajin, dan cukup keras dalam mendidik kami di TKK Pancasila. Ia mengapresiasi murid-muridnya yang berprestasi, namun serentak tak segan-segan memberi sanksi bagi siswa yang kurang disiplin, suka usil, cengeng, dan pasif dalam mengikuti pelajaran. Sanksi paling berat yang diberikan Suster Yosefin selama di TKK Pancasila adalah ‘jewer telinga’ murid. Ia tak segan-segan menjewer telinga muridnya jika ia mengetahui muridnya nakal di dalam kelas, terlambat saat masuk sekolah dan tidur saat pelajaran berlangsung. Apalagi jika muridnya ketahuan melawan guru di dalam kelas.

Rupanya, itulah alasan yang membuat sebagian besar mantan muridnya, masih lebih mengenal sosok Suster Yosefin dari pada guru-guru lainnya. Ingatan tentang Suster Yosefin lebih mengental dari paada ingatan akan kisah hebat guru-guru lainnya.

Sekali waktu, saya tidak masuk sekolah. Hari itu saya sakit. Suhu badan saya panas. Ibu tidak mengizinkan saya ke sekolah. Ayah berbaring di samping saya. Beberapa jenis obat sudah ada di meja kecil di pojok kamar. Ada juga bubur hangat yang belum disantap, buatan ibu. Kondisi badan saya drop. Pucat.

Tetapi, ada perasaan yang berbeda yang saya alami. Saya tak gelisah karena kondisi sakit yang saya alami. Saya membayangkan betapa marahnya Suster Yosefin esok hari karena saya tak hadir di sekolah. Saya ketakutan. Itu kali pertama saya tak masuk sekolah selama menjadi murid Suster Yosefin.



Ibu tahu suasana hati saya. Dari kamar tamu, ibu berbicara, "Sebentar Mama ke sekolah. Mama bawa surat sakit ke Suster nanti" Kalimat ibu sejenak menenangkan, namun tak lama diganti gelisah. Dalam pikiran saya, Suster Yosefin akan menyebut saya sebagai murid yang malas. Dengan demikian, tak akan ada lagi tepuk tangan dan apresiasi bagi saya saat saya mendeklamasikan puisi di depan kelas. Kesan Suster Yosefin terhadap saya yang selama ini positif akan berubah menjadi benci.

Setelah mengucapkan kalimat itu, saya tak lagi mendengar ada suara ibu dari ruang tamu. Saya hanya ditemani ayah yang berbaring sambil memeluk saya. Saudari saya yang kedua sedang bermain di ruangan tengah.

"Mama dimana, Bapa?"
"Mama ke sekolah. Pergi antar surat sakit ke sekolah," kata ayah.

Di luar rumah, matahari kian tinggi. Tadinya sempat ada niat untuk meninggalkan rumah dan berlari ke sekolah, meski kondisi saya sedang sakit. Namun, sadar bahwa sudah sangat telat waktunya, niat itu diurung lagi.

Hingga sore hari, kondisi saya masih lemah. Demam saya tak kunjung turun. Padahal, sejak pagi, saya sudah menelan kurang lebih empat butir obat penurun demam. Yang tak pergi adalah ketakutan akan Suster Yosefin, jangan-jangan dia marah saat ibu memberikan surat sakit padanya. Atau, jangan-jangan dia menganggap ibu sedang berbohong. Dan berbagai macam dugaan lainnya.

Selama duduk di bangku Taman Kanak-Kanak, ada ketakutan yang besar-ini dialami oleh sebagian besar murid di sekolah itu-terhadap guru. Apakah guru-guru kami saat itu adalah orang-orang yang kasar dan gemar melakukan kekerasan? Dipastikan, tidak! Guru-guru kami adalah para perempuan yang saban hari dengan lembut mengajarkan kami ilmu pengetahuan dan keterampilan-ketarampilan lainnya. Mereka adalah para penyayang. Lingkungan sekolah kami juga tidak seperti lingkungan penjara; mengekang, membatasi akses untuk bermain dan berekspresi. Dari sisi muatan materi pelajaran, juga dapat dipastikan tidak ada materi pelajaran yang berat bagi para siswa-siswi. Toh yang diajarkan hanya seputar urusan menggambar, bernyanyi bersama, berdoa bersama dan membaca serta menuliskan kata. Tidak lebih. Tidak ada alasan yang membuat kami harus takut terhadap guru-guru kami. Tetapi, Suster Yosefin telah berhasil membangun sebuah ketakutan terhadap disiplin: takut jika telat masuk sekolah, takut jika tidak mengerjakan Pe-Er, takut jika tidak menghafal puisi, takut jika tidak menghafal doa harian (doa pagi, doa aku percaya, doa Bapa Kami, doa malam).

Dalam psikologi perkembangan peserta didik, rentang usia 0-8 tahun, lazim diistilahkan anak usia dini, adalah rentang usia seorang anak dengan karakter yang unik, gemar berimajinasi, egosentris dan memiliki rasa ingin tahu yang besar. Pada rentang usia ini, seorang anak masih belum berpikir logis. Ia menyimpulkan situasi sosial yang terjadi di lingkungannya secara salah.


Anak-anak usia dini mempunyai kepekaan bagi perkembangan bahasanya. Mereka menyerap pengetahuan dan keterampilan berbahasa dengan cepat. Modus belajar yang umumnya disukai adalah melalui aktivitas fisik dan berbagai situasi yang bertautan langsung dengan minat dan pengalamannya. Walaupun mereka umumnya memiliki rentang perhatian yang pendek, mereka gandrung mengulang kegiatan atau permainan yang sama. Anak usia dini sangat cocok dengan pola pembelajaran lewat pengalaman konkret dan aktivitas motorik.

Lantas, dari mana ketakutan terhadap Suster Yosefin muncul? Dari teman-teman di sekolah, saat bermain bersama. Jika saja ada sebuah tindakan yang dianggap salah bagi sebagian besar murid, atau tindakan yang tak lazim; merusak mobil-mobilan fasilitas sekolah, membuang sampah di sembarang tempat, membuat teman sekelas menangis, terlambat masuk kelas, tidak membagikan bekal kepada teman, responnya satu: "Mati kau dari Suster Yosefin!". Hehe
"Mati Kau dari Suster Yosefin" "Mati Kau dari Suster Yosefin" Reviewed by Marsel Gunas on Selasa, April 03, 2007 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.