Guru Makin Banyak, Halo Masa Depan Lulusan STKIP Ruteng

Baca Juga

Kampus Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Santo Paulus Ruteng menamatkan sekian banyak sarjana pendidikan tiap tahunnya. Jumlah guru di Manggarai makin banyak. Apakah jumlah sekolah di Manggarai sebanding dengan jumlah guru yang tamat dari STKIP Ruteng? Bagaimana jika sekolah-sekolah yang ada sudah kelebihan jumlah guru? 

Guru Makin Banyak, Halo Masa Depan Lulusan STKIP Ruteng
Lingkungan Kampus STKIP Santu Paulus Ruteng, Manggarai, Flores, NTT | Foto: Marsel Gunas
Hari masih pagi, dan kami sudah memulai obrolan kami dengan tema itu: jumlah guru makin banyak di Manggarai dan bagaimana dengan lulusan STKIP Ruteng kedepannya. Obrolan itu tidak dalam rangka membicarakan sisi positif dan sisi negatif menjadi guru. Tetapi sekedar obrolan tentang diri sendiri di masa depan. 

STKIP St Paulus Ruteng adalah kampus di Ruteng, Ibukota Kabupaten Manggarai. Kampus itu dikelolah Yayasan Santo Paulus, sebuah yayasan yang bernaung di bawah Keuskupan Ruteng. Kampus ini memiliki tiga program studi utama, antara lain Program Pendidikan Teologi, Program Pendidikan Bahasa Inggris, dan Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD).


Lulusan tiga program studi itu lebih dominan mengabdikan diri sebagai guru di sekolah-sekolah di Manggarai raya (Manggarai Barat, Manggarai dan Manggarai Timur), mulai dari jenjang Sekolah Dasar hingga di Sekolah Menengah Atas (SMA).

Jumlah mahasiswa di kampus itu bertambah tiap tahunya. Ribuan! Proses seleksi masuk cukup ketat, melalui tahapan ujian tertulis. Dosen-dosennya rata-rata berasal dari kalangan imam keuskupan Ruteng.

Dalam diskusi kecil kami di pojok kampus, pagi itu, kami coba mengeksplorasi beberapa hal yang berkaitan dengan nasib lulusan STKIP Ruteng di masa depan. Ya, nasib kami-kami ini. Ketika sekolah-sekolah sudah mulai terisi dan tidak kekurangan guru, kami akan kerja dimana? Mungkin terlalu dini untuk memikirkan itu. Terlalu dini karena masih sangat lama untuk menamatkan studi di sini.

Semangat membicarakannya sederhana. Bahwa profesi kami - setelah lulus - adalah menjadi guru, bukan? Itu yang utama. Ya karena kami akan menyandang gelar Sarjana Pendidikan, kan? Tapi bagaimana jika setelah lulus nanti, jumlah guru di seantero wilayah Manggarai sudah menggunung di sekolah-sekolah? Kemudian akan berhadapan dengan situasi rumit: lapangan kerja terbatas, dan kami harus siap menganggur! 

Seorang teman kelas yang terlibat dalam diskusi itu lalu berceloteh, “ole..yang jelas ta, kita’p orang tua yang beban. Sudah kuliahkan anak, lalu setelah ‘jadi’, anaknya tidak kerja.”

Kami setuju dengan apa yang teman saya utarakan itu. Dari banyak situasi yang samar-samar diceritakan di berbagai kampung, relasi orang tua dan anak kerap retak lantaran urusan yang satu itu: pekerjaan anak. Semacam tidak saling menerima kenyataan kalau lapangan kerja terbatas adalah sebuah prahara besar bagi generasi lulus kuliah.

Kondisi itu tentu tidak berarti orang tua selalu benar, anak tidak pernah salah. Dalam diskusi kecil kami pagi itu, kami setuju bahwa urusan keretakan itu tidak hanya karena persoalan “tidak baku ketemu ide orang tua – anak”. Okelah, mungkin itu urusannya soal tanggung jawab anak ke orang tua. Lebih ke urusan ekonomi begitu lah. Balas jasa. 

Tapi di luar itu, persoalan itu harus dilihat dari berbagai perspektif. Dalam diskusi kecil kami pagi ini, kami cukup sepakat bahwa soal lapangan kerja perlu dimulai dari persepsi publik tentang ‘KERJA’. 

Jangan-jangan yang dimaksudkan dengan kerja adalah di kantor, pergi pagi pulang sore, berpakaian rapi, berseragam khaki cokelat mudan(?) Jangan-jangan kerja adalah ketika pamit tiap pagi dari rumah setelah bersepatu kilat, celana panjang bahan (bukan jeans) alias celana tisu dan berkemeja rapi lalu ke kantor berlantai empat di tengah kota (?)

Persepsi yang salah terhadap ‘KERJA’ setelah lulus kuliah, jika memakai dua contoh definisi di atas tentu bermasalah. Aroma gengsi sosial dalam persepsi itu juga Nampak terlihat, berkonsekuensi menimbulkan antipati, bahkan pengucilan, sosial terhadap mereka yang bekerja di sektor pekerjaan yang tak mensyaratkan ‘berkantor’ dan ‘berpakaian rapi’.

Dalam diskusi kecil kami ini, kami juga menyinggung hal sepele ini: bahwa kerja tidak harus dijalankan karena spesifikasi keilmuan yang diambil saat perkuliahan. Perlu, tapi tidak wajib. Seorang yang sekolah keguruan, misalnya, ketika sekolah-sekolah sudah menumpuk gurunya dan tidak ada lowongan kerja lainnya, lalu dia memutuskan untuk menjual sayur di pasar, itu juga kerja.

Seorang sarjana hukum, setelah tamat dan tidak menjadi pengacara atau menjadi aktivis Lembaga Bantuan Hukum, lalu dia menjual ikan keliling kampung, itu juga kerja. 

Maka, pada akhirnya, kerja haruslah diidentikan dengan inovasi: sesuatu yang dilahirkan dari sebuah gagasan besar, kemauan yang kuat, lalu dikerjakan secara serius dan mendatangkan penghasilan yang mampu mencukupi kebutuhan ekonominya (bila perlu lebih dari cukup).

Lulusan STKIP Ruteng ke depan, kami-kami ini, mungkin sudah harus mulai memikirkan secara serius soal yang satu itu; soal inovasi yang bisa menjadi opsi jika kami tidak menjadi guru kelak. Ya biar hidup. Inovasi itu bisa saja di bidang pertanian, peternakan, Usaha Kecil Menengah (UKM), dan sebagainya. Whatever lah ya!


Well, meski masih berstatus cita-cita dan cita-cita itu didiskusikan oleh orang-orang jomblo, tapi kami anggap itu hasil diskusi itu baik. Harapannya, kalau cita-cita itu diterjemahkan ke dalam tindakan nyata, mungkin saja tidak ada lagi yang sapa kami dengan “Halo masa depan lulusan STKIP Ruteng” yang tidak jadi guru di kemudian hari. Semoga!

Ruteng – Pojok Kampus!

Tabe - Marsel Gunas
Guru Makin Banyak, Halo Masa Depan Lulusan STKIP Ruteng Guru Makin Banyak, Halo Masa Depan Lulusan STKIP Ruteng Reviewed by Marsel Gunas on Kamis, Maret 05, 2009 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.