Ayah Membanggakan, Ibu Menyejukan

Baca Juga

Keluarga menyajikan segalanya. Cinta, sukacita, kebersamaan, keharmonisan, dukacita, konflik, perbedaan pandangan, dialog, pendidikan, segalanya ada. Begitulah keluarga. Keluarga memiliki segalanya.


Ayah Membanggakan, Ibu Menyejukan


Kami dilahirbesarkan dalam keluarga sederhana. Ayah adalah seorang tukang kayu dengan pengalaman hidup selangit. Dan ibu adalah wanita biasa dengan segudang cinta dan kasih sayang, juga humanis. Penghasilan mereka pas-pasan, secukupnya. Ayah dan Ibu memiliki kesamaan cara pandang untuk membangun keluarga kami. Mereka berangkat dari hal-hal yang sederhana namun bermanfaat untuk kebutuhan anak-anaknya. Kami cuma bertiga, saya laki-laki seorang diri dan dua saudari.
Ayah adalah sosok pria berbakat. Multi talenta; kaya kemampuan. Di Borong, ia dikenal sebagai “tukang misi”, sebutan bagi mereka yang bersekolah di sekolah pertukangan milik misionaris Eropa yang diselenggarakan di Ruteng, dulu. namun memiliki kemampuan yang tak dapat dianggap enteng dalam bidang mesin otomotif, dan bidang elektrik. Eh, belio juga seorang penjahit handal. Satu lagi, dia tukang pangkas rambut yang hebat.

Ia juga sopir sekaligus mekanik yang hebat. Di tangannya—sebagaimana yang kami saksikan sejak kecil—banyak kendaraan roda dua dan roda empat bermasalah diperbaiki. Kata banyak orang tentangnya, “dia tidak hanya bisa mengendarai kendaraan dengan lihai, namun memahami sistim mesin kendaraan bekerja.”

Ibu membesarkan kami dengan kepolosanya. Ia tak berlimpah ilmu pengetahuan. Namun, Regina—nama sang ibu—memahami dengan sungguh bagaimana seharusnya menjadi seorang istri dan seorang ibu. Sosilisasinya dengan tetangga dan kerabat juga berkesan baik. Dia tak suka berkonflik, atau berkonfrontasi dengan pihak lain. Ia panjang sabar, penuh senyum.

Kesederhanaan membentuk keduanya menjadi tangguh. Karena kesederhanaan itu jua lah janji pernikahan mereka dirawat dan abadi. Mereka jauh dari amarah. Mereka tak pernah bertengkar. Pun jika sedang tertimpa masalah keluarga, keduanya lebih memilih berdiskusi mencari jalan keluar terbaik bagi masalah itu tanpa mengumbar masalah kemana-mana.

Ayah seorang yang terbuka, praktis dan to the point. Ayah menghargai setiap ide yang tumpah saat diskusi. Ia mendengar, lalu memberi tanggapan terhadap ide yang terungkap saat diskusi. Seperti yang saya ulas di catatan sebelumnya, bagi ayah, diskusi adalah pertukaran ide, bukan pertukaran amarah atau dendam.

Ayah, juga ibu, tak pernah marah jika ide yang diajukan kurang pas alias lebih banyak salahnya. Mereka menghargai, sekaligus menerima itu sebagai bentuk perbedaan cara pandang dalam menilai sebuah persoalan.

Seperti yang terjadi di rumah tangga lainnya, kehidupan keluarga kami kerap bermasalah secara finansial. Kondisi itu amat terasa saat ayah telah memutuskan berhenti dari pekerjaannya di sebuah perusahaan jasa kontruksi puluhan tahun lalu. Ayah kemudian memilih bekerja di rumah, melayani pembuatan meubel, lemari, tempat tidur, meja dan kursi, dan beberapa furniture rumah tangga berbahan kayu lainnya.

Usai memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan kontraknya di perusahaan itu, ayah lebih banyak menghabiskan waktu di bawah pohon mangga, di halaman rumah sebelah barat. Di situ ada sebuah meja yang cukup panjang, namun tak lebar, tempat ayah menggarap pekerjaanya sebagai tukang kayu.



Peralatan yang ia gunakan terbilang sederhana namun antik. Ayah pernah cerita, sebagian besar alat pertukangan yang dipakainya adalah alat-alat buatan Eropa. Ayah bilang, alat-alat itu adalah pemberian dari ayah angkatnya, Bruder Sis Laus, SVD. Konon, ayah telah menjadi anak angkat pastor asal Polandia itu sejak ayah berumur 14 tahun. Sayangnya, ayah tak pernah bercerita secara detail tentang pertemuan awalnya dengan Bruder Sis. Tapi bagi ayah, Bruder Sis telah mewariskan bekal yang amat hebat bagi kehidupan ayah saat ini. Bekal itu bernama disiplin.

Tadi pagi, ayah menelpon untuk menyampaikan capan selamat ulang tahun untuk saya. Hari ini saya berulang tahun. Usia rasanya sudah makin tua. He he. Doa saya tak lain hanyalah memohon kepada Yang Kuasa untuk senantiasa mendampingi ayah dan ibu dan menguatkan kehidupan mereka dengan Kasih dan Cinta-Nya sendiri. Amin.

Tabe -- Marsel Gunas

Ayah Membanggakan, Ibu Menyejukan Ayah Membanggakan, Ibu Menyejukan Reviewed by Marsel Gunas on Selasa, Juni 02, 2009 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.