Kenggu: Pagi-pagi Masuk Kampung

Baca Juga

Hari masih gelap. Jalanan masih amat sepi kendaraan. Kita melintas kala bunga-bunga hutan sepanjang jalan menghembuskan aroma semerbak menanti mentari. Warga, penduduk kampung, juga masih terlelap – atau sudah bangun namun hanya berdiang di dapur karena pagi yang dingin?

Senin adalah pagi-pagi masuk kampung, sebuah istilah yang kita sepakati untuk menerjemahkan perjalanan pagi hari mengejar jam kerja, di tiap awal bulan. Kita menuju sebuah kampung di bawah lembah Poco Lia. Di situ tempat kau mengabdi, menjejakan pengetahuan dan ilmu bagi anak-anak warga kampung.

Kampung ini kampung kecil. Penduduknya tak banyak. Tapi hutan, sawah, dan sungai kecilnya menyuguhkan pesona alam yang menakjubkan. Berpadu menyajikan kesejukan. Jalanannya bebatuan. Rumah warga kampung berbaris rapi sepanjang jalan.

Tapi ada kehebatan lain di kampung ini: ia berhasil mempertemukan kita. Dari sini lah semua ini kita mulai. Dari sini. Tidak di sana, di tempat kita lebih gampang duduk bersua – di kotamu. Aku yakin, esok, atau kelak, ia akan menjadi saksi atas narasi kehidupan kita. Ia akan abadi di ingatan, selamanya.

Aku selalu tak lekas pulang setelah tiba. Kau selalu punya cara untuk membuatku bertahan sejenak di sini. Kau seperti tak membiarkanku lekas pergi, lalu kau kembali menjejal waktu tanpaku. Aku pernah berpikir ini hanya prasangkaku. Tapi rasa-rasanya air matamu sulit berbohong.



Kau juga pernah bilang kau kadang jenuh. Setelah beberapa kali perjumpaan di kotamu, kau selalu tak ingin kembali ke sini. Soal merindu. Tapi, sudahlah! Cara kita menghadapinya menentukan hari esok kita. Mungkin saja akan buram, mungkin juga akan gelap. Atau sebaliknya, terang. Kita tak tahu. Kita hanya bisa yakin kita mampu melaluinya.

Pagi ini memang terasa berbeda. Entah karena kemarin orang-orang rumah mulai bertanya-tanya, dan dengan nada miring mengomentari kedekatan, juga tentang kunjunganku ke sini? Bukankah itu cara mereka menguji seberapa kuat kita menggenggam janji tiga bulan lalu? Kita hanya tak perlu terlampau hanyut dalam cara mereka berkesan – kita sebut itu ujian.

Kenggu, medio 2009
Marsel Gunas

***

Kenggu: Pagi-pagi Masuk Kampung
SDI Kenggu, Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai | marselgunas (2009)


Kenggu: Pagi-pagi masuk kampung: catatan ini adalah sebuah catatan lepas yang ditulis sesaat setelah pamit pulang. Saya lebih menganggapnya catatan tak lengkap alias tak selesai. Tadinya ingin sekali menuliskan catatan ini lebih panjang dan lengkap. Tapi, malu, eh!. Anak-anak sekolah sudah datang - melangkah dengan tampilan yang polos namun penuh semangat mengejar ilmu di sekolah.




Yang pasti, selalu ada kesan menarik yang dibawa pulang dari setiap kunjungan ke sini. Jalanan bebatuannya, hamparan sawah yang subur, sekolah yang merebah di antara bukit, dan ase-kae yang ramah. Saya juga suka satu hal dari kampung ini: logat bahasanya. Sepintas, bunyinya mirip logat Bahasa Lembor. Tapi, sebenarnya berbeda.

KENGGU. Nama ini akan selamanya ada di blog ini. Terimakasih pernah mempertemukan, juga menghadirkan cinta. Terimakasih pula telah mengabadikan kebersamaan, pertengkaran, curahan hati serta air mata kami di sini.
Kenggu: Pagi-pagi Masuk Kampung Kenggu: Pagi-pagi Masuk Kampung Reviewed by Om Marcell on Kamis, Juni 18, 2009 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.