Sapi juga Dikorupsi

Baca Juga

Hari ini saya ke Dusun Ulungali, Desa Pongkor, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai. Perjalanan jauh akan ditempuh, harus melewati tikungan yang meliuk-liuk di bawah kaki Bukit Gololusang. Juga, tak kalah serunya-pasti-akan ada embun yang mengaburkan jarak pandang. Hore! Jalan lagi.

Saya tak sendiri. Ada Venan Jerahu, seorang mahasiswa STKIP yang berasal dari Kampung Ulungali yang akan menemani perjalanan saya hari ini. Saya hendak mendapatkan informasi yang berkaitan dengan pengelolaan dana bantuan sosial (Bansos) bagi peternak sapi yang diisukan 'bermasalah'. Ada aroma korupsi dalam pengelolaannya.

Di Ulungali, beberapa warga sudah menunggu kedatangan kami. Beberapa di antaranya adalah pengurus Desa setempat. Tentu saja, akan ada kopi hitam yang akan diseruput di sana. Kami berangkat dari Ruteng sekitar pukul 06.50 WITA. Jalanan masih sepi. Kicau burung di hutan Golo Lusang ramai terdengar saat kami melintas. Motor dengan kecepatan 80 Km/ jam melaju.

Tiga hari yang lalu, Jumat, (24/08), saya dan beberapa rekan wartawan menemui warga Ulungali di Kantor Dinas Peternakan Kabupaten Manggarai. Kantor itu letaknya di depan Toko Nugi Indah Ruteng, tempat warga Reo dan beberapa wilayah Manggarai bagian Utara menunggu kendaraan saat hendak pulang ke kampungnya.

Kedatangan warga Ulungali saat itu bertujuan untuk berdialog dengan kepala Dinas Peternakan tentang masalah yang mereka hadapi di kampungnya. Mereka menganggap, ada penyelewengan dalam pengelolaan dana Bansos di kampungnya. Khususnya yang berkaitan dengan bantuan sapi dari pemerintah. Namun, mereka tak mendapati Kepala Dinas Peternakan di kantornya. Penasaran dengan situasi yang sebenarnya terjadi di Ulungali, saya pun berinisiatif untuk datang dan menemui warga. Kesempatan untuk mewawancarai mereka, tentu bisa sekaligus dipakai untuk mengenal kampung yang terletak di bagian barat wilayah Satar Mese itu.


Dan, seperti orang Manggarai pada umumnya, keramahan menjemput kami saat kami masuk ke sebuah rumah yang telah disiapkan untuk menerima kami. Kami disuguhkan kopi hitam yang nikmat mati punya. Percakapan berlangsung cukup lama. Setiap pertanyaan yang saya ajukan, dijawab dengan runtut oleh penghuni rumah secara bergantian.

Sapi Juga Dikorupsi
Warga Ulungali, Pongkor, Manggarai, Senin, (27/08/2012). Foto: Marsel Gunas

Berawal dari konflik internal di tubuh kelompok tani “Tunas Harapan”, Dusun Ulungali, Desa Pongkor, Kecamatan Satarmese, kini indikasi adanya dugaan korupsi pengelolaan dana bansos senilai Rp. 100 juta bagi peternak sapi di Dusun tersebut semakin terkuak ke ruang publik. Hari ini, Senin (27/08/2012) pagi, sekitar 25 orang dari total 36 orang jumlah anggota kelompok Tunas Harapan mengadakan rapat internal yang dipimpin oleh sekretaris Kelompok, Adolfus Napor, di rumah milik seorang anggota kelompok tani tersebut.

“Hari ini saya kumpulkan beberapa anggota kelompok untuk menerima kehadiran staf dari Dinas, yang menurut informasi dari warga kampung Ulungali akan mendatangi kelompok ini. Dan saya dengar, kedatangan mereka bertujuan untuk mengklarifikasi persoalan yang pernah kami adukan ke Dinas Peternakan Manggarai tempo hari. Benar bahwa ada persoalan internal kelompok. Dan kedatangan mereka juga saya dengar untuk memediasi pihak yang sedang berbeda pendapat,” ujar Adolfus di sela rapat.

Rapat tersebut juga dihadiri oleh Kepala Desa Pongkor, Gerwansi Wugut. Dalam rapat itu, kepada Gerwansi, para anggota menyampaikan sejumlah alasan mereka mempersoalkan pengelolaan dana bansos khusus bagi kelompok mereka, antara lain: Ketua Kelompok, Kanisius Mandu, dan bendahara, Donatus Tanggur, dinilai dengan sengaja tidak transparan dalam melaporkan perkembangan pencairan dana bantuan bagi peternak sapi produksi.

Dana yang dicairkan dibagikan dengan jumlah yang berbeda-beda. Ada yang mendapat Rp. 175. 000, Rp. 320. 000, dan Rp. 400. 000.

Sementara, dalam sosialisasi awal oleh Dinas Peternakan Manggarai, besarnya biaya yang harus diterima setiap peternak sapi produktif berjumlah Rp. 500. 000.

Menurut warga, beberapa kali dilakukan pendataan jumlah sapi bunting milik anggota kelompok. Namun ada warga di luar anggota kelompok yang tidak memiliki sapi bunting yang juga mendapatkan dana bantuan tersebut.

Selain itu, kepada anggota kelompok diwajibkan membayar Rp. 50. 000, jika ingin mendapatkan bantuan ternak sapi dari pemerintah.

Namun, hingga saat ini, tidak ada sapi yang diberikan kepada anggota kelompok. Warga juga mengaku, anggota kelompok dipaksa untuk menandatangani kwitansi kosong yang tidak tertuliskan jumlah uang atau instansi pemberi dana.

“Kami berjanji akan meneruskan persoalan ini hingga ke pihak kepolisian untuk segera diselesaikan secara hukum. Karena, ada indikasi bahwa Ketua kelompok dan bendahara telah bekerja sama dengan pihak Dinas Peternakan untuk tidak melaporkan proses pencairan dana tersebut melalui rapat resmi bersama seluruh anggota. Buktinya, tim dari Dinas Peternakan tidak pernah mendatangi kelompok dan, jika datang ke Ulungali, hanya bertemu Kepala Desa” ujar seorang anggota kelompok lainya.


Rapat itu terlihat tegang. Saya menyaksikan semua proses diskusi mereka.

Sementara rapat berlangsung, Konstan Laut, staf pendamping Kelompok peternak sapi untuk Kecamatan Satarmese tiba di rumah itu. Namun ia tidak memberikan komentar. Bahkan, beberapa menit berselang, ia langung meninggalkan ruangan.

Saya pun mencoba mennghampiri Konstant. Ia menolak untuk diwawancarai.

Usai rapat, warga perlahan membubarkan diri dari rumah itu. Mereka kembali ke rumah masing-masing. Saya dan Venan juga pamit pulang, kembali ke Ruteng.
Sapi juga Dikorupsi Sapi juga Dikorupsi Reviewed by Marsel Gunas on Senin, Agustus 27, 2012 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.