Ada Kontraktor yang Tidak Bayar Pajak?

Baca Juga

Ini hari Senin. Hari pertama yang membuka pekan ini. Jika pekan kemarin agendanya ke Golowelu, Manggarai Barat, entah kemana lagi pekan ini. Ah, Manggarai memang tempat yang menakjubkan bagi para traveller, bagi para petualang.

Kali Wae Pesi Manggarai


Hutan yang hijau, udara yang sejuk, jalan yang berkelok-kelok, air yang segar, orang-orang yang ramah, selalu memantik rasa ingin berkeliling lintas wilayah di tanah Manggarai ini.

Handphone tiba-tiba berdering. Ada panggilan masuk.

"Halo, Om Marsel. Posisi dimana?" sapa suara pemanggil di telephone.
"Saya di Rangkat, Kae. Di PMKRI," jawab saya dengan sedikit heran, sebab saya tak mengenal si pemanggil.
"Ok. Saya ke situ," katanya lagi.

Saya akhirnya menunda pergi, duduk dan menyeruput kopi di ruang tamu Margasiswa PMKRI Ruteng. Tas ransel yang telah menggantung di punggung ditanggalkan lagi. Saya menunggu si penelepon tadi.

Beberapa menit berselang, seorang pria tiba-tiba muncul dari pintu depan. Ia mengenakan jaket kulit berwarna cokelat, dan sepatu laras panjang hitam. Di tanganya ada gulungan kertas.

"Om Marsel, kah?," ia langsung menyapa saat kaki kanannya melewati batas pintu.
"Iya, Om."
"Oh, mantap"





Kami bersalaman. Dia mengaku berprofesi sebagai seorang petugas pajak. Wajahnya asing bagi saya. Saya tak pernah bertemu dengannya di waktu sebelumnya.

"Saya sebenarnya lagi mau ketemu teman-teman wartawan. Ini k, ada kasus," katanya.
"Kasus apa ta, Kae?"
"Ada pengusaha, kontraktor dia, sampai sekarang tidak bayar pajak. Kami sudah ke dia punya rumah, tapi orangnya tidak ada," ia menjelaskan.
"O begitu, Kae? Bagaimana sudah, saya panggil teman-teman lain?"
"Jangan dulu e. Yang penting Om Marsel sudah tahu. Ini ada data-datanya," jawabnya.

Dari tangannya, saya menerima beberapa lembar kertas berisikan daftar penunggak pajak di Manggarai. Saya cukup kaget, sebab beberapa perusahaan yang ada dalam daftar itu adalah perusahaan jasa konstruksi yang cukup terkenal. Boleh dibilang perusahaan besar lah.

"Baik, Kae. Ini saya simpan dulu e. Nanti kalau bagaimana-bagaimana, saya kontak, Kae," kata saya.
"Sipp, Om Marsel. Yang penting saya sudah buka ke Om Marsel. Saya harap kita bisa ketemu di luar nanti e," katanya.

Dia pamit pergi tanpa menitipkan pesan khusus tentang dokumen-dokumen itu. Saya pun lupa, apakah dokumen-dokumen itu bisa diedarkan ke publik atau cukup disimpan.

Sejam berselang, saya berangkat menuju kantor DPRD Manggarai. Ada sidang paripurna DPRD dengan Bupati Manggarai di sana. Saya berangkat dengan rasa penasaran yang masih mengusik perasaan dan pikiran; harus dimulai dari mana untuk mendalami kasus pajak tadi.

Ibarat gayung bersambut, di ruang sidang DPRD Manggarai, hal yang sama juga disinggung. Soal pajak para kontraktor. Hal itu terungkap dalam pandangan umum fraksi PDIP di sidang paripurna itu. Fraksi PDIP Manggarai, dalam pandangannya, mensinyalir ada kontraktor yang belum membayar pajak daerah. Hal itu, menurut fraksi itu, ditemukan dalam laporan tentang pajak Galian C Wae Pesi, Kecamatan Reo.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (PPKAD) Manggarai, Felix Kasman, menyatakan bahwa dari dua perusahaan yang mengambil material di Kali Wae Pesi, hanya satu perusahaan yaitu PT Menara Armada Pratama(MAP), yang telah membayar pajak senilai Rp. 446.095.736. Satu perusahaan lainya, PT. Wijaya Graha Prima, lanjut Felix, hingga saat ini belum membayar Pajak Galian C dari Kali Wae Pesi.

“Untuk pajak galian C, memang hanya satu perusahaan yaitu PT MAP yang sudah membayar pajak galian C dari Kali Wae Pesi. Sementara yang lainya, yaitu PT WGP hingga saat ini belum membayar pajak galian C dari Kali Wae Pesi itu” terang Kasman.

Menurut Felix, pihaknya telah memanggil pemilik perusahaan tersebut secara resmi. Namun, hingga kini belum dipenuhi. Felix menegaskan bahwa pihaknya akan memanggil pemilik perusahaan tersebut secepat mungkin untuk segera melunasi tunggakannya tersebut. 

“Kami sudah pernah memanggil pemilik perusahaanya secara resmi. Namun tidak ada jawaban.Setelah ini kami akan memanggil pemilik kontraktor secepat mungkin untuk segera melunasi tunggakannya tersebut” tandas Feliks.

Sementara itu, usai rapat, Anggota DPRD Manggarai dari Partai Pelopor, Robert Kary Funay, kepada mengatakan bahwa fraksi Solidaritas Manggarai meminta pemerintah untuk memanggil pemilik perusahaan PT WGP secepat mungkin. Jika tidak, lanjut Robert, pemerintah tidak akan mendapat kontribusi Pendapatan Asli Daerah dari pajak galian C di Manggarai. 

“Saya berharap pemerintah harus secepat mungkin memanggil kontraktor yang bersangkutan untuk memenuhi kewajibanya membayar pajak galian C tersebut. Sebab,jika tidak,kita akan kehilangan kontribusi PAD dari sektor pajak Galian C khususnya dari Wae Pesi.” tegas Robert.





PT. MAP dan PT. WGP merupakan dua perusahaan di Manggarai yang mengerjakan proyek-proyek yang biayanya bersumber dari APBN. Kedua perusahaan tersebut, saat ini sedang mengerjakan paket pekerjaan jalan raya di sekitar wilayah Kecamatan Reo. Material pengerjaan proyek tersebut diambil dari Kali Wae Pesi.

Usai mengikuti kegiatan di DPRD Manggarai, saya mencoba untuk membandingkan apa yang tertulis dalam dokumen yang saya terima sebelum saya meninggalkan Margasiswa PMKRI Ruteng, pagi tadi. Benar adanya, dua perusahaan itu sedang terlibat tunggakan pajak.

Sebagian isi tulisan ini pernah diberitakan di situs theindonesianway.com. Catatan tambahan terkait artikel berita itu saya tuliskan di Gapong, Kecamatan Cibal saat sedang mampir di rumah keluarga.
Ada Kontraktor yang Tidak Bayar Pajak? Ada Kontraktor yang Tidak Bayar Pajak? Reviewed by Marsel Gunas on Selasa, September 11, 2012 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.