Nampong yang Berkabut dan Tim KKN yang Jadi Keluarga

Baca Juga

Ada pemandangan tak lazim saat kami tiba pertama kali di Nampong. Kabut pekat menghalangi pandangan, menutup rumah-rumah warga setempat. Bagi saya, ini mungkin tak lazim. Maklum, di tempat asal saya, di Borong, suhu udaranya panas. Sebagaimana tempat-tempat lainnya yang berstatus daerah pinggir pantai.

Nampong yang Berkabut dan Tim KKN yang Jadi Keluarga
Foto: Dok. marselgunas.com

Nampong tidak dekat pantai tapi di bawah kaki gunung “Poco” Golo Lusang. Jika anda mengunjungi wilayah Satarmese, Nampong adalah wilayah pertama yang akan kalian temui setelah meliuk-liuk di tengah hutan Golo Lusang. Dia adalah salah satu perkampungan yang ada di Desa Umung. Dari Ruteng, perlu waktu 45 menit untuk sampai ke Nampong.



Kami akan berada di Nampong selama dua bulan untuk menyelesaikan program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Selama KKN, kami diwajibkan untuk melaksanakan praktik mengajar di sekolah, terlibat aktif di kegiatan keagamaan, dan membantu aparatur pemerintahan desa dalam menjalankan program pemerintah desa setempat. Jadi, singkatnya, akan ada tiga tempat yang akan menjadi wilayah aktivitas kami: di sekolah, di Kantor Desa, dan di Gereja.

Tiga wilayah kerja itulah yang akan mempertemukan kami dengan realitas kehidupan masyarakat di Desa Umung. Mahasiswa yang melaksanakan KKN di wilayah tertentu, selama waktu tertentu, tidak hanya hadir untuk mengamati kehidupan masyarakat setempat, tetapi turut ikut berpartisipasi dalam berkontribusi positif bagi masyarakat setempat. Itu kata berkontribusi kadang kalau dipikirkan, rasanya bagaimana begitu…He he

Tim KKN untuk Desa Umung beranggotakan 7 orang: saya, Willy Jebarus, Cois Lemorai, Regina Ani Edan, Helena Hanul, Modesta Lindut, dan Ochyn Ode.

Willy Jebarus adalah anggota tim yang paling tua di antara kami. Berhubung tempat asalnya juga masih di wilayah Satarmese, bolehlah kalau dibilang Willy adalah anggota tim yang paling sering menjadi korban. Anda bisa bayangkan kalau tiap Sabtu kami harus angkut sayur dan menu-menu enak dari diap rumah di Iteng sana dan dibawa ke Nampong untuk kami habisi tanpa melibatkan beliau? Oh Tuhan, ampunilah kami karena kami tahu yang kami perbuat.

Tapi Willy orang baek. Meski terkadang terlampau joak kalau omong, tapi belio bisa diandalkan kalau ada pihak yang ingin melukai kami. Fisik beliau menjanjikan lah ya untuk hantam orang. Wkwkwkwkwk (Eh, apa baiknya ge?).

Nasib serupa juga dialami Ochyn Ode yang juga anak asli Ponggeok. Tidak jarang, tiap kami berkunjung ke rumahnya di Ponggeok, selalu ada barang-barang siap santap dari dapur yang kami angkut ke Nampong. Dihabisi bersama, kadang-kadang, bahkan lebih sering tanpa Ochyn. Hahaha…

Di Nampong, kami diberikan tempat tinggal khusus di sudut lapangan sekolah SDI Nampong, satu-satunya sekolah di Nampong. Di situ lah tempat kami praktik mengajar. Guru-guru di Nampong adalah orang tua sekaligus pembimbing kami selama menjalankan tugas KKN di sana. Mereka tidak hanya akrab sebagai guru pembimbing tetapi juga menjadi guru pengajar nilai-nilai kehidupan bermasyarakat.


Dari mereka, kami diperkenalkan dengan realitas kehidupan masyarakat di desa yang harus dihadapi seorang guru (jika kelak menjadi guru) dan bagaimana (sebagai seorang guru) berkontribusi bagi kehidupan sosial kemasyarakatan. Intinya, di kehidupan sosial, guru tidak hanya profesi yang diakui sebagai sumber ilmu pengetahuan, sumber informasi yang akurat, tetapi juga acapkali dipandang sebagai sumber opini publik yang positif bagi perkembangan masyarakat, penentu arah gerak dinamika sosial. Guru menjadi teladan bagi kehidupan sosial.

Kembali ke tim kami. Tim kami masuk kategori tim KKN yang sangat kompak. Nilai kekeluargaan dibangun dengan kokoh. Kami tidak hanya saling berbagi tentang perkuliahan, tentang urusan pribadi kami sebagai mahasiswa, tetapi juga kerap berbagi tentang suasana dan latar belakang kehidupan keluarga kami masing-masing. Amat sering kami bercerita tentang ayah-bunda kami di rumah, apa yang mereka kerjakan sehari-hari, dan beberapa masalah keluarga yang kerap mendera. Kami berbagi tanpa takut dan malu. Sebab, kembali, kekeluargaan dalam tim sangat erat.

Itulah kenapa, saya yang tak pernah ke Nterlango, sebelumnya, kini menjadi dekat dan seperti merasa keluarga Helen di Nterlango seperti keluarga sendiri. Dengan keluarga Any Edan di Nekang, Ruteng dan keluarga Om Willy di Iteng juga demikian.

Tentu saja saya bersyukur bisa dipertemukan dengan 6 orang sahabat ini. Mereka orang-orang bersahaja dengan segudang kebaikan dalam dirinya. Mereka akan selalu menjadi orang-orang hebat yang pernah menjadi bagian penting dalam catatan perjalanan ke depan.

Terimakasih, Nampong!

Nampong tentu saja tak akan pernah selesai untuk dikisahkan. Kabutnya, keramahan orang-orangnya, kopi hitamnya, juga sopinya, akan membekas di ingatan. Ke Nampong, izinkan saya menyampaikan terima kasih untuk beberapa nama ini: Bp. Yosep Wasi, Mama Blandina, Aris, Tommi, Tanta Ana, Ibu Risa Gunis, Om Lexi, Ibu Hilda, ‘Ma Jage’, Pa Blasius, Pa Kepala Desa dan ibu dan keluarga besar Beo Umung.

Terima kasih juga untuk keluarga-keluarga di Senggong, yang sudah sering sekali culik kami ke mbaru gendang untuk diskusi tentang pemberdayaan masyarakat desa. Terima kasih kepada murid-murid di SDI Nampong yang sudah panggil saya dengan nama “Pa Mancek”. Hehehe

Semoga keluarga-keluarga di Nampong senantiasa dianugerahi kesehatan jiwa dan raga dan kesuksesan dalam berkarya.

Tabe
Nampong yang Berkabut dan Tim KKN yang Jadi Keluarga Nampong yang Berkabut dan Tim KKN yang Jadi Keluarga Reviewed by Om Marcell on Rabu, Desember 12, 2012 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.