Angkat Kaki

Baca Juga

Perlu waktu empat hari untuk menemukan kata sepakat. Acara peminangan terancam batal. Keluarga pria kian resah dengan keluarga wanita. Fader (bukan nama sebenarnya) datang dengan keluarga besarnya. Mereka tiba subuh, empat hari yang lalu.

Tak ada tanda-tanda atau firasat dari keluarganya tentang situasi yang akan dihadapi selama peminangan berlangsung. Keluarga wanita, sanak saudara dari wanita yang akan dipinang, menyambut mereka hangat dan akrab, layaknya keluarga dekat. Ritual adat peminangan baru dimulai sehari setelahnya.

Keakraban yang didapat saat tiba perlahan berubah menjadi kegamangan. Wajah-wajah keluarga Fader mulai terlihat mengkerut, bingung, kadang panik. Mader, wanita yang akan dipinang Fader juga tampak gelisah. Dia pun tak mengerti mengapa situasinya menjadi tegang. Namun, ia tak melawan, atau menyumbang ide kepada keluarganya.

Fader dan Mader memang telah lama menjalin hubungan. Mereka berpacaran sejak masa kuliah di Denpasar. Setelah menamatkan pendidikan tinggi, keduanya kembali mengabdi di kampung halamannya masing-masing. Setahun silam, keduanya bersepakat untuk menikah. Fader telah menyampaikan niatnya itu kepada keluarga kekasihnya. Niat itu disambut baik. Toh keluarga Mader juga menginginkan hal yang sama; menikahkan putri semata wayangnya dengan sang kekasih.

Sebelum menikah, sebagaimana tradisi adat setempat, harus dilakukan proses peminangan. Tahapan itu adalah langkah menuju pernikahan-kental dengan adat istiadat setempat yang telah mentradisi turun temurun. Fader dan Mader bukan tak mengerti budayanya. Mereka tahu dan paham prosesi peminangan dalam adat setempat. Bagi keduanya, peminangan penuh dengan simbol-simbol perekat hubungan asmara keduanya, langkah awal menuju jenjang pernikahan. Tuntutannya bisa saja dipenuhi di kemudian hari, pada proses selanjutnya.

Angkat Kaki by Scott Web

Mereka tak membayangkan jika peminangan yang akan dilewatinya adalah sebuah kebuntuan, awal dari keretakan hubungan keduanya. Peminangan yang diimpikan berubah. Keluarga Mader menginginkan agar sejumlah biaya pernikahan dan biaya peminangan dibayar sesuai jumlah yang diminta. Jika jumlahnya lebih kecil, tentu ditolak. Intinya, jumlahnya harus sesuai dengan jumlah yang diminta.

Bagi keluarga Fader, urusan pembiayaan adalah urusan yang tak wajib dilunasi di awal proses peminangan. Toh, ada tahapan lain yang memungkinkan pembayarannya bisa dilakukan setelah proses peminangan berlangsung. Juru bicara keluarga Fader memegang hal itu; menyampingkan pembicaraan jumlah dan mengutamakan rencana pernikahan.

Tidak demikian bagi keluarga Mader. Pembiacaraan tentang pernikahan akan terjadi jika urusan pembiayaan telah selesai dilunasi, jumlah dengan yang dimintakan adalah kewajiban yang harus dipenuhi saat itu juga. Mader sepertinya lebih setuju dengan tawaran dari keluarga Fader; urusan pernikahan harus lah menjadi yang utama. Bukan urusan biaya peminangan.

Situasinya menjadi tegang. Juru bicara dari keluarga Mader berkata-kata dalam syair-syair adat yang menyindir dan mengejek keluarga Fader. Sesekali, kata-katanya tertuju langsung pada rombongan keluarga Fader.

Raut wajah keluarga Fader, pihak peminang, menunjukkan ketersinggungan. Beberapanya menggerutu di luar rumah karena terlampau marah. Juru bicara mereka akhirnya memutuskan untuk menjedahi perdebatan. Mereka keluar, berembuk di halaman rumah. Hasilnya, mereka sepakat untuk ‘angkat kaki’, meninggalkan rumah itu. Pulang. Fader juga mendukung keputusan itu. Ia tak mau melukai perasaan kedua orang tuannya, juga keluarga besarnya.



Hal itu disampaikannya ke Mader. Air mata menetes di pipi kanan Mader. Ia memeluk kekasihnya erat. Mader pasrah dengan keputusan itu, juga tak menolak keluarga kekasihnya meninggalkan rumahnya saat itu juga.

Keluarga Fader pun pamit. Mereka memutuskan untuk kembali. Fader tak menyahut sepatah kata pun saat hendak meninggalkan rumah. Diam. Keluarga Mader juga tak menahan. Mereka kekeh dengan keputusan keluarga Fader.

Sejak itu, hubungan Fader dan Mader mulai mengalami keguncangan. Tak dapat dibantah, keduanya terpenjara situasi dilematis saat peminangan. Mader juga tak menolak saat kekasihnya mengamuk via telepon, sehari setelah mereka kembali dari kediaman Mader.

Kepada kekasihnya, Mader tetap meminta agar hubungan mereka tetap berjalan seperti biasanya. Mempertahankan cinta, bagi Mader, jauh lebih penting dari perdebatan tentang peminangan. Fader setuju.



Wae Lengga, Manggarai Timur, 15 Juni 2013
Angkat Kaki Angkat Kaki Reviewed by Marsel Gunas on Jumat, Juni 21, 2013 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.