Sketsa Kampungan 1: “M”

Baca Juga

Ini adalah catatan-catatan Pak Giyarno Emha, seorang bekas wartawan, sekaligus kritikus sastra asal Kediri, Jawa Timur. Rasanya, senang sekali bertemu dan menjadi bagian dari keluarga besar Pak Gi, sapaan akrab di kampungnya, Puhsarang.



Dulu (kurun 70-an), mayoritas warga kampungku mandi, mencuci dan beol di kali. Ketelanjangan perempuan, dari mbak-mbak yang masih ranum sampai mbah-mbah yang sudah reot, menjadi panorama yang mudah dipelototi.

Yang paling menarik minatku, tentu saja, payudara yang biasanya dibiarkan terbuka.

Nah, karena “dua buah di dada” itulah aku (sempat) jatuh cinta kepada M. Kebetulan saja, sewaktu memancing, aku melihat dara hitam manis itu mandi di mbelik.

Karena panorama itu, tiap sore aku jadi rajin memancing, meski tak becus dan jarang mendapatkan ikan. Sempat juga terjadi komunikasi dengan M. “Pedekate”, kata anak sekarang.

Gagal, konon karena dilarang omnya (Katanya, “Untuk apa pacaran dengan bajingan?”).

Ketika mudik September lalu, aku bertemu dengan M yang secara morfologis sudah jauh berubah. Kemanisan yang dulu memesonaku praktis tak bersisa. Toh, sampai kini aku tetap mengenangnya sebagai makhluk manis dengan payudara terindah di dunia!
Sketsa Kampungan 1: “M” Sketsa Kampungan 1: “M” Reviewed by Marcell Gunas on Kamis, April 10, 2014 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.