Puhsarang, Cantik Nian Dikau

Baca Juga

Puhsarang, cantik nian dikau! Itu yang menggumam dalam benak saat pertama kali menginjakkan kaki di Puhsarang, Kediri, Jawa Timur, bulan ini. Ini kali pertama saya mengunjungi Puhsarang. Tujuannya ada dua: mengunjungi calon mertua (ehhem..), pertama, dan kedua, menepati janji dengan kekasih. Tulisan ini seharusnya bermuatan romantis.



Sesungguhnya, ada latar belakang cerita (dan cerita itu ada kaitannya dengan hubungan asmara) sebelum kunjungan saya ke Puhsarang bulan ini. Tetapi karena pertimbangan orientasi blog ini yang dititikberatkan pada catatan perjalanan, urusan asmaranya lantas ditepikan. Urusan perjalanan (sebut saja petualangannya) yang diangkat ke muka.

Puhsarang, Cantik Nian Dikau
Puhsarang, Kediri | Foto: marselgunas.com

Puhsarang adalah salah satu desa di Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Desa kecil yang terletak di kaki Gunung Wilis itu berada kurang lebih 10 Km dari Kota Kediri. Puhsarang memiliki alam yang indah, hutan yang hijau, suhu udara yang sejuk, penduduk yang ramah dan beragam.

Puhsarang juga dikenal sebagai tempat wisata religi. Objek wisata religi yang terkenal di Puhsarang adalah Gua Maria Lordes Puhsarang dan Gereja Santa Maria Puhsarang. Saban hari, lebih-lebih saat hari libur, dua tempat wisata itu dipenuhi para peziarah, baik yang berasal dari Indonesia maupun mancanegara. 

Saya tiba di Kediri saat hari hampir pagi. Kota masih sangat lengang. Sepi. Dari Stasiun Kediri, saya langsung ke rumah. ‘Bapak’ di Kediri yang menjemput. Karena ini kali pertama menginjakan kaki di Puhsarang, sekaligus pertama kali datang ke rumah calon mertua (hehe..) wajar kalau sedikit canggung dan malu saat tiba di rumah. Mak’e menyambut dengan ramah dan hangat. Puri masih terlelap. Mas Syalendra terbangun untuk bersalaman. 

“Saya Marsel,” begitu saya memperkenalkan diri-nama yang kemudian tak dipakai sebagai sapaan di rumah di Kediri karena sebagian besar keluarga mertua wis kadung tresno dengan panggilan ‘Guns’. Sheila, kekasih saya yang cantik jelita itu, memperkenalkan saya ke keluarga dengan nama itu. Hihi… 

Kunjungan ini sekaligus untuk merayakan momen Paskah di Puhsarang. Dua perayaan besar, Malam Kamis Putih dan Hari Jumat Agung dirayakan di sana. Dua perayaan itu memberikan kesan tersendiri. Unik.

Misa Malam Kamis Putih menggunakan Bahasa Jawa. Cuma sesekali-saat homili-saya mendengar ucapan-ucapan dalam Bahasa Indonesia. Selain umat setempat, dua perayaan itu juga diikuti oleh para peziarah yang berasal dari berbagai kota. Perayaan berlangsung kidmat. 

Dua perayaan agung dalam tradisi Gereja Katolik itu saya lewati tanpa ditemani kekasih, Sheila, anak tuan rumah yang saya tuju di Puhsarang. Sheila ada di Blora, Jawa Tengah, di tempat dia bertugas.

*** 

Puhsarang, Cantik Nian Dikau
Gereja St. Maria Puhsarang, Kediri | Foto: marselgunas.com

Kunjungan pertama di Puhsarang memunculkan kebanggaan terhadap Puhsarang. Wisata religinya, alamnya, keramahan warganya, dan makananya, sungguh sajian Paskah yang istimewa tahun ini; terlepas dari upaya memantapkan hubungan asmara dengan wanita kelahiran Puhsarang, 5 Mei 1990 itu.




Iya, benar, Sheila awalnya ragu saya bakal senekat ini: mendatangi rumah orang tuanya sendiri-tanpa dia-dan merayakan Paskah bersama keluarganya. Ragu, bukan masalah. Toh jika pada akhirnya Sheila mengatakan tidak untuk BERSAMA, Puhsarang akan tetap membekas sebagai “saudara peziarahan hidup” dalam ingatan dan sanubari. 

Tapi, by the way, terimakasih, Puhsarang! Terimakasih Mak’e dan keluarga besar di Puhsarang. Keramahan dan ketulusanmu menerimaku selama di Puhsarang telah turut menjelaskan Indonesia yang sesungguhnya: berbeda-beda tetapi satu. (Hah! Omong opo iki?).

Tabe - Marsel Gunas
Puhsarang, Cantik Nian Dikau Puhsarang, Cantik Nian Dikau Reviewed by Om Marcell on Rabu, Maret 25, 2015 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.