Blora Mustika: Setelah Jakarta

Baca Juga

Tulisan "Blora Mustika" adalah tulisan yang terpampang di gapura sebelum memasuki kota Blora, Jawa Tengah. Saya akrab dengan kota itu sejak tahun 2014. Kota Blora adalah kota yang unik, meski hanya sebuah kecil. Jutaan pohon Jati tumbuh di berbagai sudut kota itu.

Di malam hari, anda akan melihat ratusan pedagang kecil berjejeran di alun-alun kota. Mereka menjajakan cemilan, berbagai jenis masakan tradisional dan sate Blora yang terkenal itu. Tak jarang, alun-alun Kota Blora juga jadi tempat konser music, dari musik bergenre dangdut hingga rock.


Sebuah kereta malam menghantar saya ke Blora, 6 Maret 2015. Saya turun di Stasiun Cepu. Itu kali pertama saya datang ke wilayah itu. Untuk melanjutkan perjalanan ke Blora, saya harus menunggu bus jurusan Surabaya- Purwodadi yang, biasanya, melintas wilayah Cepu paling lambat pukul 00.00 WIB. Saya menunggu di sebuah persimpangan, 500 Meter dari Stasiun Cepu jaraknya.

Tak ada yang menjemput saat tiba di stasiun Cepu. Selain karena saya baru pertama kali ke Cepu, saya juga tak punya sahabat yang berdomisili di Cepu.



Setelah menunggu sekitar 2 jam lamanya, bus yang ditunggu akhirnya datang jua. Penumpangnya padat. Saya tak kebagian tempat duduk di dalam bus.

Dari Cepu hingga Blora, saya berdiri di lorong bus. Tak ada perasaan khawatir apalagi takut selama perjalanan, meski itu merupakan trip pertama saya ke daerah itu. Saya menikmati perjalanan itu, menikmati keberdesakan saya dengan penumpang lainnya di dalam bus. Saya turun di Tugu Pancasila, Blora.

Terang bulan di Tugu Pancasila menyambut saya malam itu. Indah nian tampaknya. Langit cerah berbintang juga turut menambah keceriaan perjalanan malam pertama di Blora. Ada beberapa tukang becak yang duduk di atas trotoar, mereka sedang menunggu penumpang yang turun dari bus yang saya tumpangi.

Kebetulan, malam itu, saya adalah satu-satunya penumpang yang turun di Tugu Pancasila. Jadi, tak susah untuk para tukang becak itu untuk mendekati dan menanyakan tujuan saya. Hanya saja, sayangnya, mereka bertanya dalam Bahasa Jawa. Saya tak punya jawaban lain, selain jujur mengatakan bahwa saya tak bisa berbahasa Jawa.

Dari Tugu Pancasila, alun-alun-alun Blora sudah kelihatan. Masih ada sinar lampu para pedagang kaki lima yang belum pulang di sana. Salah seorang tukang becak mengatakan, para pedagang kaki lima akan bubar dari alun-alun pada jam 02.00 subuh.



Sebagai seorang lelaki muda yang senang bertualang, saya sungguh menikmati setiap perjalanan yang saya alami. Saya selalu yakin, tentu ada pengalaman baru di setiap perjalanan yang saya tempuh. Ada juga sahabat dan saudara baru yang akan saya temui di setiap perjalanan saya.

Malam itu adalah perjumpaan pertama saya dan Kota Blora Mustika, sekaligus malam yang mengantar Blora menjadi Kota Kedua dalam hidup saya, setelah Jakarta. Setidaknya, sebagai tempat berakhir pekan, berlibur dan menikmati kebersamaan dengan kekasih.

Saya ke Blora, karena Sheila Romana Fransiska ada di sana. Sheila, nama panggilannya, adalah kekasih saya. Itu!


Tabe

Marsel Gunas
Blora Mustika: Setelah Jakarta Blora Mustika: Setelah Jakarta Reviewed by Marcell Gunas on Senin, April 13, 2015 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.