Raniva dan Keistimewaannya

Baca Juga

Jujur saja, saya bukan seorang yang kompeten dalam menghasilkan karya fiksi. Tidak mahir, kata orang. Tapi saya selalu mencoba. Tentu dengan resiko menghasilkan banyak kesalahan. Ini salah satu karya fiksi saya. Statusnya: fiksi coba-coba. Hehehe


Raniva dan Keistimewaannya
Ilustrasi foto: Alex Jones (Unsplash.com)


Raniva dan Keistimewaanya

Kertas- kertas masih berserakan di atas meja kerjanya. Cangkir tua dengan ampas kopi yang mengering juga masih tegak berdiri di antara kertas-kertas itu. Semalaman dia di situ. Melanjutkan tulisannya. Seperti yang selalu ia katakan, ia akan menyelesaikan novelnya pada awal tahun ini. Sebab, katanya, tahun depan ia akan melakukan riset di pedalaman Aceh.

Kring…kring…kring,” handphone Raniva berdering. Ada panggilan masuk.
“Halo,” sapa Raniva kepada penelpon. Dia masih ngantuk.
“Niv..segera ketemu Gio. Kertasmu yang kemarin itu Niv, ternyata ketinggalan di kantin,” sahut Adda cepat, lalu menutup percakapan. Adda sedang dalam bus atau mungkin angkot. Dari nada bicaranya, ia seperti sedang berdesak-desakan dalam angkot.

Mrs. Adda, begitu ia biasa dipanggil di kantor, adalah manager program yang sehari yang lalu baru saja merekrut Raniva dalam project-nya. Keduanya sudah cukup lama berteman. Pertama kali bertemu di Benteng Marlborough, Bengkulu, 4 tahun silam.

Dengan raga yang masih lemah, dan mata yang masih berat, Raniva meninggalkan tempat tidurnya. Ia menuju meja bundar di ruang kerjanya. Namun, yang ia dengar di telephone tadi masih menyisakan tanya. “Kertas? Bu Kantin? Maksudnya..?” ucap Raniva dengan nada bingung.

Oh My God. Waduh.”

Raniva baru ingat, empat hari yang lalu ia kehilangan tiga lembar kertas. Isinya: separuh dari bagian III novel yang sedang digarapnya.

Hari masih pagi. Raniva bergegas, tak sempat menyeruput kopi. Padahal, biasanya, ia tak bisa keluar rumah saat kopinya belum menyisakan ampas. Raniva seorang pencinta kopi. Kopi hitam, bukan white coffee atau yang coffee latte.

“Selamat pagi, Mbak,” Raniva menyapa Ephie, rekan kerjanya.
“Selamat pagi juga. Hey, Niv. Kok buru-buru?”
“Mbak, Gio udah dateng belum, ya?"
“Kayaknya belum. Eh…iya, tadi udah dateng. Tapi, tadi masuk ruangan bentar, langsung keluar lagi.”
“Kemana ya?”
Ahh..paling lagi nyarap di kantin. Biasalah.”
Thank you, Mbak.”

Raniva berlalu. Meninggalkan ruangannya dan berjalan cepat menuju kantin. Dalam hatinya, ia sangat berharap Gio membawa tiga lembar kertas yang telah dicarinya selama tiga hari.

“Gio…,” sapa Raniva sambil memegang pundak pria kelahiran Sukabumi, 23 Desember 1990 itu.
“Ahh…kamu Niv. Kertas-kertasmu aku simpan di laci. Tiga lembar kan?” ucap Gio sambil menaburkan garam halus ke mie rebus buatan ‘bu kantin, menu sarapan andalan Gio.
“Iya, brother. Thanks banget lho, ya,” sahut Raniva. Ia melempar senyum.
“Bu, kopi ‘item,ya,” Raniva memesan kopi ke Bu Kantin.

Usai menikmati sarapan, keduanya kembali ke kantor. Tiga lembar kertas Raniva yang sempat hilang itu akhirnya kembali ke tangannya. Tiga lembar kertas itu langsung disimpannya di dalam tas, digabung dengan puluhan helai kertas lainnya. Semuanya adalah lembaran novel yang tengah digarapnya.

Gimana novelmu, Niv?” tanya Ephie. “On going process, Mbak," jawab Raniva. “Wow..udah hampir selesai atau gimana?” “Nah..itu dia. Tinggal satu bagian lagi sih, Mbak. Cuman masih bingung ending-nya gimana. Konsentrasiku terbagi."

Raniva memang sempat bingung untuk finishing novelnya. Ia kesulitan untuk memberi pesan dari keseluruhan alur cerita dalam novelnya. Novel itu berkisah tentang kehidupan pribadinya. Asmara, kesehatan, kuliner, hobby, dan juga, novel-novelnya; semua ada dalam novel itu. Ia menjelaskan potongan-potongan kisah itu dengan “Raniva dan Keistimewaannya”. Raniva menyebut semua kisah yang dialaminya sebagai keistimewaan pribadinya.

“Aku selalu bersyukur untuk setiap waktu dan peristiwa yang aku alami. Aku menganggap semuanya baik. Semua itu pula lah yang membuat aku menjadi istimewa. Ya, aku istimewa. Karena aku manusia, karena aku bisa marah, karena aku bisa ‘nangis, bahkan karena aku pernah menjalani hubungan serius tanpa menikah dengan lelaki yang gak pernah aku tahu nama aslinya. Aku juga merasa aku istimewa karena aku pernah jatuh cinta pada seorang dokter, pada seorang mahasiswa, bahkan pada seorang yang masih remaja. Keistimewaanku adalah aku, Raniva, perempuan, dan penikmat kopi."

Begitulah Raniva menuturkan sisi personalnya lewat novel itu. Ia mengemasnya dengan terbuka. Tak ada yang ia tutupi tentang kehidupannya. Anak pertama dari dua bersaudara itu seperti sedang menelanjangi kehidupan pribadinya lewat novelnya. Baginya, cara-cara yang dilakukan untuk mengisi hari-harinya adalah istimewa.

Ia selalu menyebut peristiwa yang ia alami sebagai keistimewaannya. Bagi sebagian sahabatnya, Raniva dianggap “gila keistimewaan”. Ada juga yang menyebutnya “salah paham keistimewaan”. Tetapi, begitulah Raniva. Ia dan keistimewaanya adalah istimewa.



***

Jelang isya, Raniva kembali ke rumahnya. Kini semua draft novelnya telah lengkap. Ia mulai menulis. “Nyanyi Sambil Mandi”, judul tulisannya malam itu.

Tiba-tiba, Raniva terdiam. Tangannya kaku. Tulisannya berhenti. Ia menitikkan air matanya. Raniva mengenang Betran, lelaki yang pernah membawanya ke Jepang saat ia masih berumur 22 tahun. Betran juga lah yang memperkenalkan Raniva pada dunia novel. Karena Betran, Raniva berteman dengan banyak novelis.

Betran dan Raniva cukup lama menjalani kisah asmara. Lima tahun. Ibu Betran, Ny. Catalia, merestui Raniva menjadi pasangan hidup putranya. Baginya, Raniva adalah wanita yang tepat untuk anak semata wayangnya.

“Tran..Tran…,” Raniva terkenang. Ia mengingat peristiwa kematian Betran di kamar mandi. Betran menghembuskan nafas terakhirnya di kamar mandi, setelah melantunkan Imagine, karya John Lennon. Saat jatuh, Raniva sedang di dapur, menyiapkan sarapan pagi mereka. Ia sulit melupakan peristiwa itu. Di kamarnya, foto-foto Betran masih banyak yang terpajang. Tak satu pun yang ia buang.

“Lima tahun aku menemukan keistimewaan lain. Bersamamu. Kita pernah nyanyi sambil mandi. Berdua. Sungguh, kau telah menambah keistimewaanku: sebagai Raniva, sebagai perempuan. Dan, bisakah kau nyanyikan lagi sebait lagu untukku kini?” tulis Raniva.

Kisah tentang Betran adalah bagian akhir novelnya. Bagian itu sekaligus menjadi catatan Raniva demi menjawab tanya yang sering didapatkan dari banyak sahabatnya: “Kapan move on, Niv?”

*Fiksi mini pertama kali ditayangkan di blog nataslime.com. Kini disiarkan kembali (dengan beberapa perbaikan) di marselgunas.com. Alasannya, blog nataslime.com sudah tidak aktif. Sudah mati. Blog itu adalah blog lain yang saya kelola. Maafkan jika masih jauh dari kesempurnaan. Saya bukan penulis fiksi. Koreksi dan kritik dari kalian sangat saya nantikan.

Raniva dan Keistimewaannya Raniva dan Keistimewaannya Reviewed by Marsel Gunas on Selasa, Februari 09, 2016 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.