Polisi dan Kekerasan Terhadap Pelajar

Baca Juga

Di Ruteng, Flores, jika saja ada yang menuliskan artikel dengan judul “polisi dan kekerasan terhadap pelajar” pada rentang waktu 2002-2007, maka tentu akan langsung mendapat tema tandingan; “polisi dan kecintaan para pelajar”.

Polisi dan Kekerasan Terhadap Pelajar


Perantau (orang yang merantau, mencari penghidupan, ilmu dan sebagainya di negeri lain) selalu punya cara unik untuk mewujudkan harapan kemajuan di daerah asalnya.


Sebelum hijrah ke Jakarta, di tempat aku kuliah dulu, polisi dan pelajar adalah tema diskusi ringan paling ramai di kalangan muda. Itu bukan tanpa alasan, bukan juga tanpa motivasi. Realita kehidupan pelajar saat itu (khususnya pelajar SMA) yang lebih mendambakan kekasih berprofesi anggota polisi membuat tema itu ramai diperbincangkan. Bahkan di sekolahku, tak sedikit pula teman wanita yang berpacaran dengan anggota polisi.

Tahun 2013, aku aktif menulis untuk sebuah website berita. Informasi, peristiwa lokal di Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat diupdate setiap hari di website yang telah hilang dari pencarian di dunia maya itu.

Masih kentalnya pola-pola advokasi isu a la organisasi mahasiswa, membuat aku acap lebih mengupdate isu dan peristiwa yang berkaitan dengan isu HAM, penegakan hukum dan pelayanan publik di tiga daerah itu. Padahal, website itu seharusnya lebih banyak mengakomodasi isu politik dan ekonomi nasional dan regional.

Di penghujung 2013, aparat kepolisian dari Kepolisian Resort (Polres) Manggarai menjadi bulan-bulanan media. Krisno, nama polisi itu, melakukan aksi pemukulan terhadap seorang penjual kayu bakar keliling, Yosep Jempaut di SPBU Mbaumuku, Ruteng. Yosep kala itu tengah mengantri sejak pagi untuk membeli bahan bakar di SPBU yang tak jauh dari rumahnya itu.

Saat tengah ikut mengantri, istri Krisno, Emi Hanas, masuk ke area SPBU lewat pintu keluar dan mengisi bahan bakar. Adu mulut pun terjadi antara Yosep dan Emi. Yosep tak menerima aksi Emi yang tak ikut mengantri.

Beberapa saat berselang, setelah keduanya cecok mulut di area SPBU, Krisno masuk ke area SPBU dan langsung mencari Yosep. Tanpa pikir panjang, Krisno langsung mengayunkan helem yang ditentengnya ke wajah Yosep. Untungnya, ada banyak pengantri dan pegawai SPBU di situ. Mereka melerai Yosep dan Krisno.

Tindakan Krisno sontak mendapat sorotan dari banyak kalangan di Ruteng, kala itu. Tak hanya aktivis lokal, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) juga turun tangan untuk mengadvokasi kasus Yosep itu.

Seminggu setelah peristiwa itu, aksi massa ke kepolisian setempat pun berulang kali terjadi. PMKRI Ruteng, paling getol menyuarakan tuntutan agar Krisno dipecat. Ada juga forum masyarakat yang menuntur Kapolres Manggarai untuk memecat Krisno saat itu.

Sebagai awak media, aku juga aktif memberitakan peristiwa itu. Perkembangan terakhir dari kasus itu terus diberitakan. Ada harapan besar yang muncul dalam lubuk hati agar peristiwa serupa tak terulang di masa selanjutnya. Selama liputan, aku sering mendatangi kediaman Yosep Jempaut, korban pemukulan polisi Krisno.

Aku merasakan betapa kekerasan yang dilakukan anggota seragam cokelat Polres Manggarai itu mutlak tindakan penghinaan terhadap ketakberdayaan sipil, masyarakat yang tak berkuasa. Yosep adalah warga biasa di lingkungannya, yang tak memiliki jabatan apapun. Ia hanya seorang kepala keluarga yang sedang berjuang menghidupi keluarganya dengan menjual kayu bakar keliling kota.

Terulang Lagi

Pada Januari 2016, polisi di Labuan Bajo, Manggarai Barat dikabarkan melakukan tindakan kekerasan terhadap pelajar. Beberapa oknum polisi secara sadar mendatangi SMK Stella Maris Labuan Bajo dan menyerang seorang siswa sekolah tersebut. Modusnya, hubungan asmara. Peristiwa ini ramai didiskusikan di media sosial.

Berita itu menyeret aku kembali mengenang masa-masa SMA, masa-masa laris manis-nya polisi muda di kalangan teman wanita. Kala itu, berpacaran dengan polisi adalah suatu kebanggaan khusus teman wanita di sekolahku. Bahkan, di sekolah lain, hal itu menjadi tren di kalangan pelajar. Bangga bercampur gengsi tinggi jika seorang pelajar wanita dipacari anggota polisi. Hasilnya, juga banyak. Ada yang sampai ke pelaminan, menikah dan berumah tangga, ada pula yang selesai di status “berpacaran”.

Jangan Diam

Saat peristiwa penyerangan ke SMK Stella Maris di Labuan Bajo pecah dan ramai didiskusikan, sontak pengalaman-pengalaman selama aktif di PMKRI Ruteng dan selama menjadi awak media lokal muncul di ingatan. Catatan kecil pun ditulis, dan dibagikan ke beberapa rekan media di sana.
Polisi dan Kekerasan Terhadap Pelajar Polisi dan Kekerasan Terhadap Pelajar Reviewed by Marcell Gunas on Minggu, Mei 01, 2016 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.