Layu Usai Pemilu

Baca Juga

Layu Usai Pemilu

Di saban waktu jelang pemilu, orang-orang dengan berpakaian rapi kerap datang ke rumah. Kami, lebih-lebih ayah dan ibu, tak pernah menolak kehadiran mereka, juga tak pernah menanyakan tujuan kedatangannya. Segumpal topik pembicaraan diurai saat obrolan mulai dibuka. Kadang-kadang, pembicaraan menyerempet hingga ke urusan masa lalu, masa kecil mereka yang punya keterkaitan dengan kehidupan ayah dan ibu.

Keakraban kian tampak dalam pembicaraan mereka. Emosi bertemu, pertanyaan menguji dan menggugat ditepikan. Pembicaraan mengalir tanpa ada kecurigaan dan kekhawatiran. Kultur seperti itu mahal dan tak terukur rupiah, setidaknya bagi ayah dan ibu. Maka, wajib dipelihara dan dipupuk-subur.

Meski sebagian pembicaraan bermakna rayuan, ayah dan ibu tak merasa dirayu. Sebab, mereka tak mengerti hubungan kausal antara pemilu dan kehadiran orang-orang ke rumah. Yang dipikirkan: ada orang yang dengan dan karena kesadaran sosialnya datang mengunjungi sesama. Toleransi sosial-budaya!

Untuk sebagian orang pintar dan berpengetahuan banyak, cara pikir itu amatlah sempit. Tapi bagi ayah dan ibu, itulah kemuliaan kebudayaan: menerima tanpa berhitung, mendengar tanpa membantah, bernarasi tanpa negosiasi.

Andai saja ayah menangkap ada hubungan yang dekat antara momentum pemilu dan kehadiran orang-orang itu, ayah tentu was-was dengan setiap bait pernyataan yang tumpah saat pembicaraan berlangsung. Ayah juga pasti curiga dengan ujaran-ujaran yang mengungkit kedekatan personal di masa silam antara masa kecilnya dan pekerjaan ayah sebagai tukang kayu.

Tapi, di sisi lain, cara pikir ayah tentu dimaklumi. Sebab, ia menua di zaman orde baru, dimana kritik dibungkam, idealisme politik ditimpal senjata. Dulu, di tiap momentum menghadapi pemilu, di rumah kerap muncul pernyataan: tanpa pemilu, Presiden RI tetap Soeharto!

Apakah kami mengerti? Juga orang-orang yang datang itu, mereka mengerti? Tidak! Mereka tak mungkin mengerti, apalagi membantah. Sebab, memang. Saat itu, mereka juga tak punya kuasa untuk melawan kebengisan rezim.

Zaman itu sudah tiada. Rezim orde baru sudah usai, dihabisi keinginan warga republik untuk mereformasi sistem politik. Kran kontrol terhadap kekuasaan politik dibuka lebar. Orasi politik di simpul-simpul komunitas massa tak dianggap alergi. Itulah babak baru demokrasi politik negeri ini.

Eropa, Amerika bahkan seantero dunia pantas bangga dengan negeri ini. Keraguan akan berjalannya demokrasi politik di masyarakat yang beraneka jenis latar belakang akhirnya sirna. Indonesia tegak, demokrasi politik melalui sistem pemilu langsung berlangsung apik.



Kebanggaan itu kami yakini sebagai penguat generasi. Generasi zaman ini bertumbuh kembang dalam kemerdekaan berpikir, termasuk berpikir tentang negara dan bangsa, pemberian ruang yang luas untuk membiakkan kontrol kepada pemangku kepentingan, terhadap perilaku pemenang pemilu.

Tapi, beberapa waktu belakangan, kampung ini telah memberi wajah kontras dengan keyakinan itu. Kontrol warga telah terkoyak sesaat. Pertunjukan opini dianggap ujaran kebencian; wujud kesetanan yang bicara ketuhanan. Cara pikir warga wajib mengikuti cara pemilik kuasa berdalil.

Publik menjadi kalut dan takut. Diam adalah jalan bijak dan aman ditempuh. Kadang-kadang mereka hanya bisa berbisik melalui jendela; tentang harapan-harapan cita-cita reformasi yang diyakini dulu. Yang tertanam di kepala: “dulu merayu, usai pemilu layu.”

Dari para pemenang pemilu, warga kampung tak kunjung melihat pertunjukan ide yang lengkap, substantif dan objektif. Juga sadar posisi. Yang tampak adalah, bahwa sebagian besar opini dimunculkan dengan memperhitungkan pesona, pengaruh, dan kelas sosial para pemangku kepentingannya. Karena dari kampung lain, telah tersiar kabar: "Hujat' dan 'Kritik’ disamaratakan maknanya, leksikal maupun kontekstualnya. Preteks dan konteks koreksi warga diberangus dengan plesetan lucu; "Setan Pengganggu!", dalam bahasa warga kampung, "Poti Kateng".

Yang anda bisa lakukan kini hanya mengangkat kepala dan memilih: masih ingin menjadi warga republik ataukah masuk dalam pusaran oligarki modern!
Layu Usai Pemilu Layu Usai Pemilu Reviewed by Marcell Gunas on Senin, September 05, 2016 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.