Terusterang; Hanya Soal Waktu

Baca Juga

Menumpang bus adalah pilihan terakhir jika tak mendapatkan tiket kereta. Memang, untuk perjalanan akhir pekan, tiket kereta akan sulit didapat jika pembeliannya dua hari sebelum perjalanan. Kendati demikian, perjalanan dengan dua alat transportasi darat itu sebenarnya sama menyenangkan. Yang membedakan hanya waktu tempuh perjalanan. Tentu, akan lebih cepat jika menggunakan kereta.

Terusterang Hanya Soal Waktu
Foto: marselgunas.com
Perjalanan menggunakan bus akan memakan waktu belasan jam. Hari sudah subuh saat tiba di Blora. Sejak aturan pengangkutan penumpang di terminal Pulo Gadung, Jakarta Timur berubah, kemudahan untuk tepat waktu mengejar Bus menuju Blora, Jawa Tengah tak lagi didapatkan. Semua penumpang diwajibkan menunggu busnya di Terminal Pulo Gebang, di kawasan Cakung.

Sebelumnya, penumpang hanya perlu mendatangi pull utama Bus di kawasan Pulo Gadung untuk mendapatkan Bus. Perjalanan pun dimulai dari situ, tak harus masuk terminal.

Sheila Romana Fransiska, kekasih saya, selalu menanyakan alasan keterlambatan itu. Alasan terminal kerap menjadi alasan paling masuk akal untuk disampaikan. Dengan ekspresi kesal (karena ditanya), alasan itu selalu menjadi terucap sebagai jawaban. Tapi, tak semua fakta tentang keterlambatan itu dijelaskan. Misalnya, jika ditanyakan, mengapa harus berangkat pada sore hari, menjelang malam.

Bukankah ada bus yang dijadwalkan berangkat siang hari? Untuk pertanyaan itu, ada dua jawaban yang acap dimunculkan: jam kerja di kantor, dan jarak tempuh perjalanan dari kantor ke terminal Pulo Gebang. Untuk alasan pertama, Sheila tentu bisa percaya. Hal khusus yang kerap terjadi di kantor-sejauh yang ia tahu- telah membuatnya yakin menerima alasan itu sebagai alasan yang masuk akal.

Sementara, untuk alasan kedua, pastinya dibumbui kebohongan dan tak lengkap. Sebab, faktanya, jarak dari kantor saya ke terminal Pulo Gebang tak terlalu jauh. Apalagi jika menggunakan transportasi roda dua berbasis online. Namun, Sheila bisa saja percaya dengan alasan itu. Sebab, ia tak pernah ke Jakarta lagi setelah medio 2016, setahun silam.

Ia tak pernah ke Jakarta lagi hingga kini. Alamat kantor telah berpindah. Sheila hanya mengetahui alamat kantor lama, di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Pada awal 2017, kantor berpindah ke Rawamangun, Jakarta Timur.

Cukup beralasan ketika ia tak mengetahui persis lama waktu tempuh dari kantor menuju Terminal Pulo Gebang yang sebenarnya hanya bisa ditempuh dalam waktu 20 menit jika menggunakan kendaraan roda dua.

Maka, jika dari kantor saya berangkat pukul 15.00, saya masih bisa mendapatkan bus dengan jadwal keberangkatan pukul 16.00. Jika normal; tak ada hambatan macet dan kerusakan mesin bus yang ditumpangi, saya tentu bisa tiba di Blora pukul 01.15 (hampir pagi). Fakta yang disembunyikan itu akhirnya terungkap. Sheila bisa menganalisa alasan-alasan itu. Ia menemukan hal yang lebih masuk akal dari penjelasan yang ia dapatkan sebelumnya; ia menemukan jawaban sebenarnya tentang keterlambatan itu.

Dengan demikian, tak ada daya lagi untuk tak berterusterang, untuk menyembunyikan fakta lebih lama dan mengulang kebohongan yang kerap terujar. Sheila akhirnya tahu faktanya, tentu dengan caranya menggali dan mencerna informasi yang bisa ia temukan dan dianggap bisa mengungkap kegelisahannya. Cara Sheila menentukan jawaban sebenarnya di balik fakta yang sedang ia ragukan.

Pada tahun 1942, duta besar Jerman untuk Paris dibunuh di Paris oleh intelijen Inggris, Max Vatan. Pembunuhan itu terjadi setelah perang 1941. Pembunuhan berhasil dilakukan karena didukung seorang wanita, Marianne Beausejour, intelijen Jerman. Marianne dipakai Vatan untuk menjalankan misinya di Paris.

Setelah pembunuhan sukses dilaksanakan keduanya, keduanya ‘kabur’ ke London, Inggris. Max mendapat kenaikan pangkat atas prestasinya melenyapkan nyawa sang Dubes Jerman di Paris. Sejak bertemu di Casablanca, Perancis, Max mengenal Marianne sebagai seorang ‘pengelola jaringan’ Jerman di Paris. Kedekatan keduanya selama menjalankan misi berbuntut jatuh cinta. Mereka menikah di Inggris.

Dari pernikahan itu, mereka memperoleh seorang anak perempuan, Anna. Menjalani kehidupan di Inggris dengan mengikuti gaya hidup tentara Inggris kebanyakan hampir pasti tak menyirnakan berbagai kecurigaan Max kepada sang istri. Marianne adalah seorang wanita romantis. Tak ada tanda-tanda jika ia adalah agen Jerman. Sukacita berumahtangga itu lalu berubah menjadi kesedihan, duka.

Petinggi militer Inggris berhasil membongkar jejak percakapan Marianne dengan petinggi negaranya di Jerman. Pesan yang dikirimkan adalah informasi penting Inggris yang tak seharusnya diketahui negara lain. Max mulai kalut dan panik. Hukuman Inggris sangat berat untuk ia dan istrinya tanggung jika mereka dihukum.

Kisah itu ditampilkan di dalam ‘Allied’, sebuah karya film yang ditulis oleh Steven Knight. Film itu dirilis November 2016. Max Vatan yang diperankan Brad Pitt, akhirnya, harus rela kehilangan Marianne yang diperankan Marion Cotillard, seorang artis Perancis.


Marianne sadar, apa yang ia lakukan adalah sebuah kejahatan internasional, yang membahayakan Inggris. Saat hendak ‘kabur’ dari Inggris, mereka dicegat tentara Inggris. Di hadapan suaminya, Marianne menembak kepalanya.

Sebelum peristiwa bunuh diri itu, Marianne telah mengakui kebenaran fakta yang disodorkan petinggi militer Inggris kepada suaminya. Kendati ia mengakui, ia kembali mengirimkan pesan ke pihak Jerman karena pihak Jerman mengancam keselamatan dia dan putri semata wayangnya. Juga, suaminya. Bertahun-tahun Marianne menyimpan identitasnya. Waktu dan ruang mengungkap kebenaran di balik romantisme, kemesraan; cinta yang ia lakoni di hadapan suami dan anaknya.

Bunuh diri (baca: nyawa) rupanya dianggap sebagai bayaran yang pantas bagi seorang Marriane. Hal itu terlepas dari berbagai spekulasi kebanyakan orang tentang kemampuan menyimpan dan mengelabuhi fakta yang wajib dimiliki seorang intelijen.

Marriane tak hanya bersalah terhadap Inggris, tetapi juga bersalah terhadap suami dan anaknya: tak berterusterang tentang siapa dia sebenarnya. Perkara berterusterang juga menjadi perkara di dalam siklus politik.

Di politik, segala sesuatu yang disuguhkan di hadapan khalayak tampak menggiurkan. Tak ada yang berterusterang tentang masa lalu dan fakta di balik permainan yang ditampilkan para pelakunya. Hingar bingar saling menyudutkan dan menyalahkan terpampang nyata. Iming-iming kesejahteraan rakyat jadi andalan saat musim kampanye tiba.

Celakanya, banyak yang menelan janji-janji politik secara mentah. Nalar diliburkan untuk menduga, menganalisa, juga menguji kesahihan janji-janji itu. Kini, waktu telah menunggu. Yang menipu, tentu akan layu dihukum waktu.
Terusterang; Hanya Soal Waktu Terusterang; Hanya Soal Waktu Reviewed by Marsel Gunas on Minggu, April 23, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.