Anies, Berterimakasihlah pada Youtube!

Baca Juga

Ahok dan Youtube. Coba dibayangkan, bagaimana jika Dinas Kominfo Pemprov DKI Jakarta tak mempublikasi video pidato Ahok di Kepulauan Seribu pada September 2016 itu di saluran Youtube? Buni Yani mungkin tak akan berkomentar miring di timeline Facebooknya, bukan? Dan, tentu, anda juga tak akan mengeluarkan banyak energi untuk berlogika menafsir dan memaknai pidato Ahok.

Anies Baswedan dan Sandiaga Uno juga kecipratan untung dari beredarnya video itu. Berdasarkan video itu, Anies yang juga mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI dapat menyusun strategi kemenangan dalam perhelatan Pilkada DKI Jakarta. Ia tak perlu berkeringat banyak untuk mencari referensi menyerang lawannya, Ahok-Djarot, sejak awal dinamika Pilkada DKI bergulir.

Misalnya, kritik Anies tentang pemimpin yang lebih banyak kerja, mengabaikan kata-kata, ujaran di muka umum. Anies memilih sebaliknya. Narasi, kata-kata, lebih penting. Menurut Anies, sebagai pemimpin, ekspresi rasa dari penyelenggara negara tidak bisa semena-mena menafsir pemikiran dan perasaan publik.

Anies, Berterimakasihlah pada Youtube!
Photo: Jitunews/ Rezaldy

Pernyataan Anies itu terungkap dalam sebuah wawancara-bahkan dalam banyak kesempatan juga ditemukan-dengan sebuah media yang meminta pendapatnya tentang kasus yang menimpa Basuki Tjahaja Purnama.

“Negara (penyelenggara negara) tidak perlu terlibat dalam perdebatan pikiran, perasaan tertentu,” kata Anies saat diwawancarai pada November 2016.

Anies menjawab pertanyaan seputar kasus Ahok tentu setelah dia melihat dan menelaah video utuh tentang pernyataan Ahok di Kepulauan Seribu. Video itu jua lah yang mengantarkan Ahok ke meja hijau, hingga akhirnya dipenjara.

Dalam Pilkada Jakarta, pasangan Anies-Sandi diuntungkan karena publikasi video itu. Awalnya adalah upaya Diskominfo Pemprov DKI untuk mewujudkan transparansi. Buntutnya adalah masalah hukum. Pasalnya, dalam video itu, ada pernyataan Ahok yang menyinggung surat Al-Maidah 51.

Kontroversi terkait pernyataan itu makin meluas tatkala seorang dosen, Buni Yani, mengunggah video itu di akun Facebooknya dengan deskripsi yang keliru. Buni Yani menafsir pernyataan Ahok itu sebagai bentuk penistaan terhadap Agama Islam.



Soal Youtube, bukan hal baru jika Ahok heboh karena media sosial, khususnya situs video Youtube. Sebelumnya, Ahok menjadi bahan obrolan publik, kala seorang pejabat di lingkungan Badan Pemeriksa keuangan (BPK) Republik Indonesia menebar ancaman via Youtube. Ancaman itu lebih berupa ajakan bertarung fisik dirinya dengan Ahok yang dibumbui caci maki rasial terhadap Ahok. Pegawai BPK itu melayangkan kecaman sekaligus ancaman kepada Ahok lantaran geram karena pimpinannya, Ketua BPK Harry Azhar Aziz, disebut ‘ngaco’ oleh Ahok. Ujaran itu dilontarkan Ahok terkait pemeriksaan BPK terhadap pembangunan RS Sumber Waras.

Bagaimana anda mengikuti perkembangan lahan Sumber Waras? Silahkan buka Youtube! Berbagai pernyataan, dari Ahok, KPK, BPK, Kejaksaan, Polri, lengkap dan terbuka di Youtube sejak kasus itu mencuat, tahun 2016 lalu.

Berkah dan Petaka

Bisa dibilang, Youtube memberi berkah sekaligus petaka bagi kehidupan Ahok. Berkah karena Ahok berhasil mewujudkan transparansi kerja Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan memanfaatkan kemudahan teknologi digital, petaka karena dari sana lah dia dikritik, dicaci maki, didemo, dilaporkan ke polisi, dan dipenjara.

Anies-Sandi perlu berterima kasih kepada Youtube. Opini massa yang berkembang secara massif, perseteruan gagasan yang tak kunjung usai selama momentum Pilkada DKI menguatkan dukungan sebagian kalangan kepada pasangan mereka. Menguatnya dukungan itu tentu tidak terlepas dari tafsiran atas ujaran Ahok di Kepulauan Seribu yang disiarkan Pemprov DKI melalui saluran Youtube. Berterimakasihlah pada Youtube! Jangan pada agama.
Anies, Berterimakasihlah pada Youtube! Anies, Berterimakasihlah pada Youtube! Reviewed by Marcell Gunas on Jumat, Mei 19, 2017 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.