Pindah Kota (1)

Baca Juga

Setelah bertunangan pada 24 Februari lalu, ada banyak rencana yang kami, saya dan kekasih saya, Sheila, diskusikan bersama. Salah satunya adalah rencana untuk menetap di Jakarta. Alasannya, saat ini saya bekerja di Jakarta, dengan masa kontrak kerja yang belum dapat dipastikan kapan berakhir. Hal lain, kontrak kerja Sheila di SMK Santo Pius Blora akan berakhir pada Juni 2017.

pindah kota bagian satu
Photo: Sheila Romana Fransisca

Kami sepakat untuk menetap di Jakarta setelah menikah. Kami akan menikah (insya Allah) pada 8 Juli nanti. Setelahnya, kami harus melewati kehidupan bersama, tak terpisah jarak dan waktu.

Rencana itu dijelaskan kepada orang tua kami, baik kepada orang tua saya di Borong, Flores maupun orang tua Sheila di Puhsarang, Kediri, Jawa Timur. Puji Tuhan, sejauh ini, tidak ada bantahan dari kedua orang tua saya maupun kedua orang tua Sheila. Mereka senang, karena kami sudah merencanakan sebuah model kehidupan bersama setelah menikah, di masa-masa jelang pernikahan. Yeaay!

Tetapi, kami sadar, masa depan bukan hanya soal rencana, tetapi juga upaya nyata.

Lalu, di suatu kesempatan, kesepakatan itu dibicarakan secara serius, meskipun via telepon. Ada sepenggal dua penggal kalimat yang bernada diskusi serius; dengan kalimat-kalimat yang sedikit lebih formal dari biasanya dalam obrolan itu.

Perdebatannya berkaitan dengan, apakah Sheila akan pindah kota hanya demi hidup bersama suaminya? Bagaimana karir dan pekerjaannya?

Dua pertanyaan ini cukup mengganggu saya sejak awal April 2017. Kalaulah boleh menjawab, jawaban saya kira-kira begini: “Sheila, setelah menikah, harus tinggal dan menetap di Jakarta, bersama saya. Tidak perlu bekerja layaknya saat dia di Blora”.

Tentang pendapat ini, Sheila rupanya tak setuju. Dia ingin bekerja di Jakarta, sebagai guru, atau dalam bidang kerja yang lain, hanya karena dia ingin merasakan suasana kerja yang baru.

Saya keberatan. Ada rasa malu yang diam-diam terpendam. Rasa-rasanya, ada asumsi yang tidak 100 persen positif terhadap saya. Saya duga, Sheila lebih mengedepankan pertimbangan ekonomi Rumah Tangga.

Awal Maret, Sheila bercerita tentang hal itu. Dia bilang, alasannya hanya untuk merasakan suasana kerja di lingkungan yang baru, sama sekali tak ada pertimbangan ekonomi rumah tangga di dalamnya.

Dia percaya satu hal: Tuhan tak pernah tinggal diam untuk memberikan berkat bagi hamba-Nya yang berusaha. Juga saya, sebagai suaminya nanti, jika berusaha dengan cara yang benar, tentulah ada berkah yang diterima, setidaknya untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Saya akhirnya mengalah dan menerima alasan itu. Bagi saya, Sheila berhak mengambil keputusan dengan pertimbangan yang diutarakan. Tugas saya adalah memastikan apa yang dia rencanakan terwujud. As simple as that.

Sebulan berselang, dalam sebuah kesempatan ‘ngobrol santai via telepon, Sheila menyinggung urusan pekerjaan. Kata dia, dia telah mengajukan lamaran ke sebuah yayasan pendidikan di Jakarta belum lama sebelum dia menyampaikan hal itu kepada saya. Lalu?

“Ada balasan dari pihak yayasan. Saya diminta untuk datang ke Jakarta untuk diinterview,” kata Sheila.

Saya senang mendengar hal yang dia sampaikan itu. Pada tanggal yang dijanjikan, Sheila akan ke Jakarta untuk diinterview. Saya menunggunya.
Pindah Kota (1) Pindah Kota (1) Reviewed by Om Marcell on Kamis, Mei 25, 2017 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.