Pindah Kota (2)

Baca Juga

Pindah Kota (2) merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya, Pindah Kota. Pada bagian itu, saya bercerita tentang rencana saya dan tunangan saya, Sheila Romana, untuk melanjutkan pengabdian kami di Jakarta. Setelah bertunangan pada 28 Februari, kami kerap terlibat diskusi serius tentang hal itu. Karena Blog sederhana ini adalah rangkuman kisah perjalanan pribadi, saya merasa pantas kisah itu dibagikan di sini.

Pindah Kota (2)
Photo: marselgunas.com

Sheila tiba di Jakarta pada Kamis, 11 Mei 2017; hari dimana saya tampil sedikit lebih tampan dari hari-hari sebelumnya. Kedatangannya ke Jakarta demi sebuah interview yang dijadwalkan esok harinya, Jumat pagi. Sebulan sebelumnya, ia mengirimkan lamaran kerja ke salah satu Yayasan di Jakarta.

Sejak tiba di stasiun, kami sudah mulai terlibat dalam pembicaraan super serius tentang proses wawancara yang akan dilewatinya. Betul, saya yang memulai pembicaraan itu. Bukan pada perkiraan konten wawancaranya. Soal itu, ah, rasa-rasanya saya terlalu yakin tunangan saya ini bisa membereskannya. Tapi soal lain: soal jarak dari tempat tinggal saya ke sekolah tempat dia akan diwawancarai itu. Juga, soal waktu. Saya harus berangkat pagi-pagi sekali ke kantor. Tempat Sheila akan diwawancarai lebih jauh dari tempat saya bekerja. Artinya, dia juga harus berangkat sepagi mungkin (bersama saya tentunya) ke tempat itu.

“Kita dua kali ganti kereta, lho, Mbak Sel,” ucapku.
“Tidak masalah. Sebut saja itu konsekuensi dari keputusan ini,” sergahnya.
“Ok. Fine. Case closed,” imbuhku.

Tempat tujuan Sheila itu bukan tempat yang sering dilewati. Tempat saya kerja ada di bagian timur. Sementara, tempat itu adanya di ufuk selatan kota. Celakanya, rute jalan ke sana masih kabur diketahui. Itu mengganggu. Serius.

Tak ada jalan lain untuk mengakhiri gangguan itu selain bertanya ke sejumlah kerabat yang dianggap mengenal lokasi itu. Pertanyaan yang sama dilempar ke beberapa group aplikasi percakapan, baik group yang beranggotakan rekan kerja maupun kenalan lainnya. Saya memulainya dengan menanyakan stasiun paling dekat dengan lokasi itu. Alhamdulilah, jawaban yang saya dapatkan dari berbagai kerabat cukup memuaskan, bahkan ada yang memberi jawaban yang lebih detail. Terimakasih, guys! It really helps me.

***

Jumat, 12 Mei 2017, keesokan harinya, Sheila dan saya berangkat ke tempat Sheila akan menjalani interview. Kereta pertama dengan rute Bogor-Tanah Abang membawa kami ke sana. Hari masih subuh. Kami menumpang dari Stasiun Universitas Indonesia, stasiun paling dekat dengan kontrakan saya. Sheila masuk di gerbong pertama-sesuai kebijakan PT. Kereta Api Indonesia, ‘Kereta Pertama dan Terakhir dikhususkan untuk penumpang wanita’.

Maksud saya, agar Sheila bisa menempati kursi kereta, tidak berdiri sepanjang perjalanan, tak ikut berdesakan, sebagaimana yang terjadi di gerbong kereta yang saya tempati. Meskipun itu mustahil terjadi pada keberangkatan sepagi itu. Kalian tahu, keberangkatan di bawah pukul 10.00 pagi dari arah Depok ke Jakarta sesak mati punya. Anda mesti siap berdiri berdesakan di dalam kereta.

Di stasiun Tanah Abang, kami berganti kereta, kami harus pindah ke kereta dengan tujuan Serpong, Tangerang agar bisa sampai ke stasiun tujuan kami, Stasiun Pondok Kranji. Alhamdulilah, kepadatan penumpang di dalam kereta, setelah berganti kereta, tak setara dengan jumlah penumpang di kereta sebelumnya, UI-Tanah Abang.

Artinya, kami bisa duduk berdampingan hingga ke stasiun tujuan: bagian ini sepertinya penting. Setidaknya, dengan itu, para penumpang lainnya tahu jika kami telah bertunangan; kami sedang merencanakan pernikahan; kami akan selalu bersama; kami banyak bicara; kami pasangan yang bahagia.#hihi

Tempat yang sedang kami tuju adalah sebuah sekolah yang dibangun di areal seluas 3 hektar lebih di daerah Bintaro. Sekolah ini merupakan salah satu sekolah Katolik yang cukup tua usianya di Jakarta. Di satu areal yang luas itu, berdiri berbagai gedung sekolah dengan berbagai jenjang pendidikan, mulai dari tingkat PAUD hingga SMA.

Saat tiba, aktivitas sekolah cukup ramai. Di sudut-sudut gedung tampak sekelompok siswa sedang duduk membaca, ada juga yang tengah berlatih tari dan musik. Oleh petugas keamanan di situ, kami diantar ke sebuah gedung di sisi timur sekolah. Manajer operasional yayasan telah menunggu Sheila di sana.

Seorang pegawai yayasan mempersilahkan kami menunggu di ruang tunggu sebelum interview dimulai. Dalam diskusi singkat, kami membuat keputusan. Saya berangkat ke kantor, dan akan kembali menjemputnya setelah proses interview selesai.

“Bagaimana?” tanyaku dengan muka serius.
“Sipp. Kalau udah selesai, aku kabarin ya,” jawabnya.

Tak lama setelah kami mendiskusikan hal itu, Sheila dipanggil ke ruangan. Ia akan bertemu Pak Miko di sana. Pak Miko adalah Kepala Divisi Human Resources Development (HRD) di Yayasan itu, orang penting dalam urusan penerimaan karyawan di Yayasan itu. Saya pamit, kembali ke kantor. Tumpukan pekerjaan menunggu di sana.


Dalam perjalanan ke kantor, saya mulai gelisah; ‘Bagaimana jika Sheila diterima, Bagaimana jika tidak diterima?’

Perttimbangan-pertimbangan itu tentu berkaitan dengan masa depan hubungan kami, setelah menikah tentunya. Bahwa setelah menikah, 8 Juli nanti, kami harus tinggal bersama di Jakarta. Sheila harus saban pagi ke Bintaro, dan saya ke Rawamangun. Itu bukan jarak yang dekat bagi karyawan baru di Ibukota. Apalagi, dia perempuan.

Ah, saya merasa terlalu naïf untuk hal itu. Jika mengingat tipikal Sheila yang sering mengerjakan banyak pekerjaan selama di Blora, bahkan sejak ia mahasiswa di Madiun, rasa-rasanya ia akan sanggup melakukan pekerjaannya itu nantinya; jika ia diterima. Sheila sudah terbiasa dengan urusan pekerjaan atau kegiatan yang dia akan lakukan di tempat yang tak dekat dari tempatnya. Pakai sepeda motor pula ia menjangkau tempat-tempat itu.

Baca: SPBU-Teman Perjalanan

Jika ia tidak diterima? Itu juga baik. Sebab, dengan begitu ia juga akan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah-setelah menjadi isteri-, mengurusi rumah tangga dan sebagainya.

Namun, untuk hal yang namanya panggilan hidup, kata banyak orang, perjuangan yang gigih sangat dibutuhkan. Kawan saya pernah membagikan pengalamannya. Ia tinggal di Bekasi dan harus rela bangun sepagi mungkin saban hari untuk bekerja. Tempat kerjanya di Kawasan Thamrin, Jakarta Pusat. So What?

Artinya, seperti para pekerja lainnya, Sheila dan saya harus siap untuk melewati ragam tantangan jika memang hal itu sudah merupakan tuntutan bagi kami di masa depan, setelah menikah dan hidup bersama. Yang kami perlu hanyalah keiklasan kami untuk saling mendukung dan saling menyemangati untuk terus berkarya dan mengabdi. Cheers!

Sheila menjalani interviewnya dengan baik hari itu. Dia mengaku tak menemukan kendala selama diinterview. Selanjutnya, ia akan menunggu jawaban pihak yayasan; apakah menerimanya bekerja di sana atau ditolak. Saya menjemputnya sore hari, setelah waktu kerja usai. Yeay!
Pindah Kota (2) Pindah Kota (2) Reviewed by Marsel Gunas on Kamis, Juni 01, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.