Pindah Kota (3)

Baca Juga

Tulisan ini, Pindah Kota (3) masih merupakan kelanjutan dari dua tulisan sebelumnya dengan tema yang sama; Pindah Kota (1) dan Pindah Kota (2). Sebagaimana yang telah tercantum dalam keterangan umum blog marselgunas.com, isi dari blog sederhana ini adalah catatan perjalanan pribadi yang kembali dinarasikan dengan bahasa yang sederhana.


Pindah Kota (3)

Pihak Yayasan, tempat Sheila mengirimkan lamaran kerja akhirnya mengonfirmasi bahwa Sheila diterima menjadi karyawannya. Petikan konfirmasi itu disampaikan pihak Yayasan melalui Kepala Divisi HRD Yayasan.

Dalam obrolan via aplikasi pesan singat dengan si HRD, Sheila diminta untuk menemui pihak Yayasan untuk mengurusi kebutuhan administratif ketenagakerjaan, sekaligus penandatanganan kontrak. Dalam pekan itu, Sheila harus berangkat ke Jakarta. Ini Minggu pertama kami menjalani Kursus Persiapan Perkawinan (KPP). Dalam tradisi Gereja Katolik, KPP merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh pasangan calon penerima Sakramen Perkawinan. Kebetulan, saya dan Sheila akan menikah secara Katolik. Syarat itu mutlak harus diikuti. Kebetulan.

Pasca prosesi pertunangan di Puhsarang, Kediri, kami telah berkonsultasi dengan para katekis dan Pastor Paroki Vincentius A Paulo Kediri tentang proses KPP. Hasilnya, kami diminta untuk mengikuti KPP di Paroki Blora. Alasannya, Sheila telah tiga tahun lebih tinggal di Blora. Dia sudah tercatat sebagai umat Paroki Blora, meski ia berasal dari Stasi Puhsarang, Paroki Kediri. Waktu yang tersedia untuk mengikuti kursus perkawinan itu terbilang sempit. Sebagaimana yang banyak orang tahu, kami tinggal berjauhan. Sheila di Blora, dan saya di Jakarta; situasi yang saya pernah duga kuat jadi alasan kenapa RAN cukup semangat ciptakan lagu 'Dekat di Hati' beberapa tahun silam. Ah, RAN! *hihi

Kursus akan kami lewati jika dua hal dimungkinkan terjadi: pertama, saya dan Sheila punya waktu luang di Hari Sabtu, dan Kedua, para pemateri tidak berhalangan di Hari Sabtu. Kabar baiknya, semua pemateri bisa diajak kompromi soal waktu. Pemateri setuju dengan permohonan kami agar kursus akan dijalani saat kedua calon pengantin sedang tak berhalangan waktunya. Saya paham, para pemateri pasti anggap saya (karena sebagian besar permohonan itu saya yang ajukan) calon pengantin yang sombong.*Smile


Tapi, kondisinya memang demikian. Kesulitan saya berkaitan dengan tuntutan 5 hari kerja, kadang-kadang ditambah jadwal piket harian. Sheila juga punya kendala soal waktu kerja. diwajibkan 6 hari kerja, Senin-Sabtu. Itulah alasan keputusan mengajukan permohonan agar para pemateri bisa memberikan waktu kursus persiapan pernikahan pada hari Sabtu.

Artinya, setiap Jumat sore, saya harus berangkat ke Blora. Itupun terkadang tak pasti. Sebab, tak jarang, pada Sabtu yang kami ajukan untuk menerima kursus, para pemateri mengaku sibuk atau tak punya waktu, bahkan sedang keluar kota. Kalau sudah begitu, kami pun harus menundanya.

Tahapan-tahapan itu kami lalui sembari menyiapkan hal-hal lain untuk acara pernikahan kami, 8 Juli nanti. Dengan adanya panggilan dari pihak Yayasan tempat Sheila akan bekerja itu, kami harus menjadwalkan ulang jadwal KPP yang telah didiskusikan sebelumnya. Waktunya terlalu mepet, mustahil kami bisa mengikuti tiga materi pertama yang sudah dijadwalkan pekan sebelumnya. Saya sudah mulai menggerutu dengan dahi sedikit mengkerut. Baru sehari tiba di Blora, kini sudah harus kembali ke Jakarta. Jauh-jauh dari Jakarta hanya untuk satu materi kursus? Hmmm

Ribet? Iya. Lelah, juga iya. Tapi, begitulah aturan Gereja Katolik, hal yang kadang membuat saya heran dengan eksistensi Gereja Katolik. *Peace

Kami memutuskan untuk berangkat menggunakan bus. Ini kali pertama saya dan Sheila datang ke Jakarta menggunakan bus. Di perjalanan lain di waktu sebelumnya, kami selalu menggunakan kereta. Kali ini, selain karena alasan tiket kereta yang 'hangus' itu (bagian ini akan saya ceritakan secara khusus), sepertinya Sheila juga mulai penasaran dengan ratusan kisah seru perjalanan yang menjadi jawaban atas pertanyaan mengapa lebih memilih bus AC Ekonomi jika ke Blora.

Seru. Sejak masuk bus, Sheila udah mulai berkomentar: tentang penumpang yang tak padat dari kursi depan hingga bagian belakang, tentang genre musik dangdut 'Koplo' yang tak pernah berhenti alias nonstop, juga tentang laju kendaraan yang memicu adrenalin penumpang.

Tapi umumnya perjalanan itu menyenangkan. Selain karena tak terkena hambatan kemacetan dan kerusakan mesin bus, kami juga masih bisa bercerita tentang rencana-rencana hari esok; tentang persiapan pernikahan di Kediri dan setelahnya. Selain itu, persiapan untuk pindah kota telah menjadi prioritas level atas. Bukan hanya karena Sheila akan berpindah tempat kerja. Tetapi, yang paling mendesak ialah, bahwa tak akan ada yang setuju jika setelah menikah kami masih tinggal di dua lokasi berbeda, LDR; layaknya selama menjalani masa pacaran dan pertunangan.

“Mbak Sel, pindah kota adalah keharusan, dengan atau tanpa bumbu-bumbu alasan pekerjaan”

“Amin”
Pindah Kota (3) Pindah Kota (3) Reviewed by Marcell Gunas on Selasa, Juni 20, 2017 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.