Pindah Kota (4)

Baca Juga

Setelah pertemuan singkat Sheila dan pihak yayasan, rencana Sheila untuk pindah kota; dari Blora ke Jakarta, kian menjadi kepastian. Pihak yayasan bahkan telah menentukan waktu, kapan Sheila harus bekerja. Berdasarkan hasil pertemuannya dengan pihak yayasan (sebagaimana yang diulas pada ‘Pindah Kota 2'), Sheila mendapat kesempatan untuk menjadi staf pengajar di SMP, salah satu sekolah menengah asuhan yayasan itu. Sheila bahkan diwajibkan untuk segera bekerja mulai tanggal 12 Juli nanti.



Maaf, untuk sekedar catatan kecil, saya sengaja tak menyebut nama yayasan tempat Sheila bekerja. Hal itu demi menjaga keputusan saya dan Sheila selama penggarapan tulisan dengan tema ‘pindah kota’ di blog ini.


Sekolah tempat Sheila bekerja adalah salah satu sekolah Katolik di Jakarta. Letaknya tak jauh dari Stasiun Jakarta Kota. Sudah dapat dipastikan, keberangkatannya tiap pagi ke sekolah akan menggunakan kereta. Tentang hal ini, banyak yang menyarankan agar saya-sebagai suaminya nanti-mencari tempat tinggal yang tak jauh dari tempat Sheila bekerja itu.

“Kasihan dianya nanti, capek tiap hari berangkat pagi terus,” kata mereka.

Betul, saya pernah beberapa kali terganggu dengan pertimbangan-pertimbangan itu. Terganggu karena memang, saya cukup setuju dengan pertimbangan yang pernah disampaikan secara langsung. Tapi, kenyataannya, untuk saat-saat menjelang pernikahan, sebagian besar perencanaan kami adalah menyukseskan pernikahan pada tanggal 8 juli nanti: ada banyak keluarga yang datang, tak ada hambatan yang menggagalkan tiap rencana pernikahan itu.

Artinya, soal jarak dari tempat tinggal ke tempat kerja, itu menjadi pe-er yang akan diselesaikan pasca rangkaian prosesi pernikahan itu dilaksanakan dengan lancar.

Kabar baiknya, Sheila tak masalah soal jauh atau dekatnya tempat tinggal dan tempat kerja. Intinya: apapun kondisinya, seberat apapun tantangannya, yang penting kami hidup bersama sebagai keluarga. Untuk hal ini, terusterang, saya bersyukur punya calon istri seperti Sheila. Bangga juga ada lah. He he

Eh, anyway, kami juga mendiskusikan soal jarak antara tempat tinggal dan tempat kerja itu dengan pihak keluarga, lho. Ya..bagaimanapun, kami perlu pemikiran dari mereka untuk memperkuat kehidupan keluarga kami ke depan.



Orang tua di Kediri dan orang tua di Flores hanya berpesan, “Yang penting kalian berdua bisa selalu saling menguatkan”. Kira-kira di situ inti komentar panjang itu.

Diskusi tentang jarak tempat tinggal dan tempat kerja (yang sebelumnya dianggap sebagai ‘tantangan’) itu juga mendapat perhatian dari pemateri KPP. Kali ini, referensinya tak main-main. Pemateri itu, seorang tokoh Katolik di Paroki Blora, mengingatkan bahwa ada kaitan erat antara Gereja dan keluarga Kristiani. Keluarga kristiani adalah ‘Gereja miniatur’ (ecclesia domestica).

“Karena merupakan gambaran yang hidup dan representasi dari misteri Gereja sendiri. Tanggung jawab menjadi representasi Gereja harus dikerjakan secara bersama-sama, tidak hanya satu orang,” katanya.

Mendengar kalimat ini, saya sempat menoleh, melihat calon istri yang sedang mengangguk-angguk karena memahami apa yang diucapkan. Saya tak mampu mencerna maksud terdalam dari kalimat itu. Terlalu kental ilmu teologi moral kristiani di dalamnya; salah satu cabang ilmu yang tak pernah dipelajari secara tuntas dan mendalam.

Sempat terpikirkan untuk ‘gangga’ (baca: menyampaikan sanggahan atau pendapat yang berbeda) dengan pemateri. Misalnya, apakah kalau sudah menikah, namun tinggal berjauhan, selalu setia dan saling membantu, kami tak lagi disebut ecclesia domestica? Sa sudah mau omong itu. Tapi, pemateri tiba-tiba tutup materi; “Selamat mempersiapkan pernikahan kalian, Semoga segala rencana kalian diberkati Tuhan yang Maha Kuasa. Dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus

Serempak, kami menjawab; “Amin”. Tanda panggol.
Pindah Kota (4) Pindah Kota (4) Reviewed by Marsel Gunas on Kamis, Juni 22, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.