Perkelahian Buzzer dan Kekacauan Politik

Baca Juga

Hari-hari ini, dalam mendebatkan situasi politik, yang tampak di linimasa media sosial adalah saling hujat dan saling maki. Sepertinya, untuk kelompok pro model diskusi ini, kurang maknyus kalau cuma nyindir lawan politiknya.

Perkelahian Buzzer dan Kekacauan Politik

Debat politik lantas jadi kacau. Dialektika yang seharusnya mengandalkan tumpahan rasionalitas serentak sirna. Yang tampak hanyalah caci maki dan hujat-menghujat tak berujung.

Yang paling menarik dari situasi (kata pengganti kebangkrutan relasi sosial) ini adalah para aktor di baliknya. Mayoritas aktor di balik situasi itu adalah para politisi. Tentu saja mereka yang berpartai, kelompok partisan politik, juga ada di dalam posisi itu. Dalam perdebatannya-ini yang krusial-suguhan konten tak cuma dari satu sumber. Banyak sumber. Sumber itu bukan narasi empiris; realitas yang nyata. Tapi seonggokan materi dari pendukung lainnya (baca: yang separtai, satu kubu politik) yang dihidangkan di ruang debat berbeda.

Hasilnya, duel ide tak lagi bermutu. Tak ada saling tukar opini dengan basis argumentasi yang obyektif; berdiri pada landasan teoritis yang mumpuni dan fakta. Minimal, hasil kajian yang kredibel dan teruji secara keilmuan. Tetapi, perkelahian itu juga tak melulu salah.

Awal dari kecelakaan berdebat itu adalah ketimpangan pemanfaatan sarana komunikasi digital yang makin canggih dan makin mudah diakses. Bukan pada kemajuannya, tapi pada pengguna (user). Minim literasi digital, persisnya. Literasi digital tak hanya memungkinkan adanya kemampuan teknis penggunaan fasilitas digital, tetapi juga kesadaran etis-profetis para pengguna.

Selain itu, perkawinan antara kepentingan internet marketing dan political marketing dewasa ini turut memperparah keadaan. Internet marketing mengamini pemasaran produk secara digital untuk kepentingan bisnis, dan political marketing berhubungan erat dengan peningkatan popularitas dan (ujungnya) elektabilitas via saluran dunia maya.

Perkawinan dua strategi itu menggerus kesadaran etis pengguna, khususnya para politisi. Maka, cukup lumrah saat perdebatan di ruang maya harus berujung pada saling tuding dan saling umbar kelemahan. Bukan saling mengumbar basis argumentasi secara kritis-objektif.

Perkelahian ide para ‘pemain politik’ akhirnya berubah menjadi perkelahian para buzzer politik. Lazim dikenal, tugas utama buzzer: menyerang lawan (baik bisnis maupun politik) secara brutal dan membabi buta saat interest utama kelompoknya terusik dan terancam.

Keganasan buzzer, salah satunya, tampil apik saat kematian ‘Bu Patmi’, aktivis perempuan asal Pati, Jawa Tengah yang meninggal saat aksi di depan Istana Negara, menuntut Pabrik Semen angkat kaki dan tidak menambang di Pegunungan Kendeng. Situasi itu mengisyaratkan satu hal penting; buzzer bisnis-politik berhasil meredupkan seabrek wacana kritis yang disuarakan warga negara yang ada di Pati, Rembang, Blora, Jepara, yang merasa lahannya terancam hilang digerus Pabrik Semen. Yang dimunculkan malah ceremonial penerimaan Presiden (via Kantor Staf Presiden) terhadap perwakilan Petani Kendeng.

Perkelahian para buzzer politik tentu lebih berbahaya, karena berefek pada kesimpangsiuran wacana yang diterima para pemilih. Kekacauan politik dalam bentuk konflik horisontal antarmassa pendukung partai politik bisa saja terjadi manakala wacana yang diterima dari para aktor politik tidak diverifikasi secara tajam, independen, dan objektif.

Kekacauan politik, termasuk pemicunya itu harus diakhiri segera. Akan lebih elok jika para politisi mengisi berbagai ruang media sosialnya dengan pemasaran program partai, atau (jauh lebih baik lagi) program-program pribadinya sebagai politsi. Akan lebih mendapat respect jika para politisi memamerkan materi-materi perencanaan pembangunan, mekanisme pengambilan keputusan di berbagai lembaga negara, dan berbagai bentuk edukasi politik lainnya. Kecuali, jika para politisi juga sudah beralih profesi utama, dari aktor penebar edukasi politik ke profesi politisi tukang bully.


*Artikel ini pertama kali ditayangkan di blog nataslime.com. Blog itu saya kelola sejak 2010. Namun sekarang blog itu tidak aktif lagi. Semua artikelnya saya pindahkan ke marselgunas.com
Perkelahian Buzzer dan Kekacauan Politik Perkelahian Buzzer dan Kekacauan Politik Reviewed by Marsel Gunas on Senin, Juli 31, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.