Politisi Tukang Bully

Baca Juga


Kami (saya dan beberapa kawan), rakyat biasa yang belum mau berpolitik, geli dengan model marketing politik yang dilakonkan para politisi, baik yang telah menjadi anggota partai politik maupun yang sedang tertatih-tatih merebut status politisi.

Begini. Politik tentu bermuatan salah satu unsur penting: pertarungan merebut kekuasaan. Pertarungan itu meniscayakan kompetisi, pertandingan dengan bumbu-bumbu perbedaan gagasan dan aksi, demi mencapai tujuan utamanya: kemenangan (baca: kekuasaan).

Untuk menang, tentu tidak hanya satu cara dan strategi yang dipakai. Bisa seribu, bisa sejuta, bisa lebih dari jutaan bahkan. Ya, biar menang. Menang, lagi-lagi, soal mendapatkan pucuk kekuasaan yang tengah diperdebatkan.

Dalam pertarungan menuju kemenangan, politisi kerap saling menyerang. Jamak terjadi, saling menjelek-jelekan adalah aksi paling menonjol saat berkompetisi dalam politik. Politisi jadi aktor utama dalam aksi-aksi itu.

Yang selanjutnya dibutuhkan adalah ide yang tepat yang disampaikan dengan saluran yang tepat pula. Saluran penyampaian ide politik atau yang lazim disebut media kampanye beragam jenisnya. Pemanfaatan media kampanye tak jarang mempertimbangkan sisi efektivitas media, lokasi, dan konten kampanye. Jangan heran jika di banyak tempat yang ramai (pasar, stasiun, pintu masuk kampung, persimpangan jalan) anda melihat banyak alat peraga kampanye yang bertebaran. Ya, biar banyak yang lihat; biar makin tenar persisnya.

Seiring kemajuan zaman, dimana generasi milenial bangkit dengan massif dan mengendalikan opini public melalui ragam platform media sosial, para politisi mulai berpikir cermat tentang efektifitas penggunaan media kampanye. Penguasaan opini tak lagi lewat operasi face to face, pemasangan baliho di jalanan, penyebaran pamflet dan sticker atau kartu nama, tetapi beralih ke kampanye via internet.

Dunia maya menjadi ladang pelelangan wacana demi menarik simpati publik. Bahasa kerennya, untuk meningkatkan popularitas dan kemudian (ujungnya) elektabilitas. Inilah model marketing politik masa kini. Penggunaan internet, melalui media sosial, terus ditekan demi menguasai wacana yang menimbulkan efek simpatik, popularitas, dan elektabilitas politik.

Wajar. Toh 80 persen manusia di planet ini kini berinteraksi menggunakan internet: gambaran kemajuan dalam bidang komunikasi dan teknologi. Peluang emas ini langsung diambil para politisi masa kini dalam menggaet dukungan politik dari akar rumput juga karena mengingat biaya penggunaan saluran maya sebagai kampanye lebih murah dan mudah.

Tapi sayang. Peluang itu tak melulu menghasilkan wacana politik yang berkontribusi pada pencerdasan publik, pemilih, kami-kami ini yang tak mengerti politik. Yang tampak dan tampil hanyalah bully-bully politik yang menjelek-jelekan lawan politik. Salah kaprah memanfaatkan peluang kemudahan berkampanye itu lantas berakibat pada semakin sempitnya ruang memahami wacana politik yang ideal di tingkat masyarakat. Rakyat bingung, politik itu apa?

Bukankah sebagai politisi mereka harus turut mencerdaskan pemilih memahami negara (tata kelola, program pembangunan, untung-rugi kebijakan, ideologi negara, pembangunan sumber daya manusia, birokrasi, pengelolaan keuangan, dan etika politik)?

Kekecewaan berikutnya-dan bertambah dalam tingkat kekecewaannya-manakala politisi memobilisasi dukungan bullying-nya dengan menggunakan tangan-tangan kelompok melek internet memobilisasi perang bully. Blogger sekelas DS, misalnya. Tiap hari hanya ‘ngoceh tentang kelompok yang dianggapnya tak ‘setia kawan’ dengan politisi idolanya, yang mengkritisi Presiden, yang berdemonstrasi menuntut janji-janji politik presiden di depan istana negara. Begitu juga pakar marketing politik sekelas Om 'Asmir'. Saban waktu, ia hanya bekerja memproduksi konten-konten berbau SARA untuk menyerang partai penguasa.

Kelompok politisi dan rombongan bullyers tampil massif di berbagai beranda dunia maya memproduksi konten agitatif yang sungguh tak edukatif. Tak manusiawi juga kadang tampak.

Di tahun-tahun mendatang, penampakan politisi pembully akan makin banyak. Jalan paling ampuh menghadapinya adalah tetaplah waras berpolitik, menggunakan daya kritis sekuat mungkin dan tetap berada bersama kelompok yang disebutnya ‘rakyat’. Jangan lupa, sesekali cobalah untuk duduk manis di ruang tamu sambil menertawakan mereka yang tengah riang menyandang status politisi pembully!


*Artikel ini pertama kali ditayangkan di blog nataslime.com. Blog yang juga saya kelola sendiri. Karena blog itu sudah tidak aktif, beberapa artikelnya saya pindahkan ke sini.
Politisi Tukang Bully Politisi Tukang Bully Reviewed by Marsel Gunas on Minggu, Juli 30, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.