Dua Narasi tentang Ayah

Baca Juga

Dua narasi tentang ayah sesungguhnya berasal dari dua orang yang mengenal sebagian perjalanan kehidupan ayah dari jarak dekat. Mereka memiliki kesan tersendiri tentang ayah, Bapa Pius Gunas, dan kehidupannya. Kesan itu mereka siarkan di media sosial dan aplikasi percakapan singkat.

Dua Narasi tentang Ayah
Foto: marselgunas.com

Mereka bercerita tentang ayah, tentang kebersamaannya bersama ayah, tentang kiprah ayah selama hidup. Pengalaman-pengalaman nyata yang mereka alami bersama ayah itu mereka bagikan untuk mengenang kepergian ayah. Bagi kami, itu juga bentuk ungkapan perasaan kehilangan atas kepergian ayah. Sebut saja itu kilas balik tentang perjalanan hidup ayah yang mereka tahu dan mereka saksikan. Narasi yang dimunculkan membuat kami semakin mengenal ayah.

Ya, jujur saja, banyak hal yang belum sepenuhnya kami ketahui tentang masa lalu ayah; pengalamannya bersama orang lain di luar rumah, apa yang dia lakukan terhadap orang-orang yang bukan keluarga dekatnya, dan pengalaman hidup lainnya. Yang jelas, relasi personal ayah dengan sesamanya telah menimbulkan kesan-kesan khusus tentang ayah.

Salah satu buktinya terlihat pada apa yang dituliskan pemilik akun Facebook Adri Gegi di kolom komentar postingan Facebook milik Mama Tari (akun: Ochy Keri Buu Kery). Om Adri Gegi menulis;

“Ade Ochy, bapak Pius mata pindia? Aduh mesu bapak Pius. Bapak Pius adalah teman dan rekan kerja sebagai "guru agama" dari bapak saya, bapak Matheus, mereka "guru agama" untuk orang-orang kecil dan sederhana. Mereka adalah misionaris sejati, pewarta Sabda Tuhan untuk orang2 kecil, sederhana di kampung halaman mulai Wekaseko-Watuapi masih bergabung dengan Paroki Boanio sampai Wekaseko-Watuapi menjadi Paroki Berdikari. TERIMAKASIH BANYAK BAPAK PIUS ATAS KARYA MISI PELAYANAN UNTUK PAROKI BOANIO (dulu) dan PAROKI ST. HUBERTUS WEKASEKO (sekarang). SALAM UNTUK BAPAK TERCINTA, BAPAK MATHEUS. Bapak Matheus dan bapak Pius patut mendapat TEMPAT YANG BAHAGIA DALAM RUMAH BAPA SURGAWI BERSAMA YESUS, SANG GURU AGUNG! Doakan kami semua. Amen!”

Komentar itu memberi makna yang penting bagi kami. Bahwa ayah ternyata pernah menjelajahi Flores sambil membawa misi kehidupan yang besar. Ayah memang seorang tukang kayu. Ia menjadi tukang kayu setelah mengenyam pendidikan pertukangan di Ambaks School di Ruteng. Ambaks School merupakan sebuah sekolah besutan Keuskupan Ruteng, yang dikelola oleh kongregasi Serikat Sabda Allah (SVD). Sebagian besar pendidiknya adalah imam-imam misionaris saat itu.

Narasi lainnya berasal dari seorang dosen, sahabat, kakak, sekaligus tetangga kami di Borong; Kanisius Teobald Decky. Kae Nick, begitu biasa disapa, adalah seorang dosen. Di kalangan beberapa komunitas, ia juga dikenal sebagai penulis. Saya memaklumi jika Kae Nick memiliki kesan personal tentang ayah. Selain karena Kae Nick juga pernah menikmati masa remaja di Borong, juga karena kesamaan latar belakang kami sebagai anak tukang kayu. Ya, Om Mateus, ayah Kae Nick adalah seorang tukang hebat. Banyak karya besar dari tangannya.

Tentang ayah, Kae Nick menulis;

“1) Borong di tahun 1980an. Kami saling mengenal satu sama lain. Jati-Toka di Barat. Warat-Kembur di Utara. Tanggo-Lingko Dia di Timur. Kampung Ende-Wolo Kolo di Selatan. Bugis, Pasar, Golo Karot, Wae Reca dan Golo Lada di Tengah. Semua orangnya saling kenal. Saling kunjung. Saling menyapa dan kontrol.

2) 90% orang di Borong datang dari luar. Bapa Pius datang dari Pagal. Lahir di Rangat saat bapa beliau itu guru di sana. Bersama bapa Wilhelmus Wanggut. Tahun 1970 bapa Pius menjadi guru Ambacks Shcool di Misi Borong. Sebelumnya beliau menjadi guru untuk program pementasan buta huruf di wilayah Elar dan Wukir.

3) Orang tua saya hijrah ke Borong tahun 1983. Di Golo Lada masa itu, tetua senior adalah bapak Andreas Apul, Damianus Saka, Gabriel Onggor dan Afolf Ndolu. Semua guru yang berjasa dan punya andil bagi pencerahan budi dan aklak. Dalam situasi ini mengenal kraeng Rafael Peding, Martinus Nomak, Romanus Garung, Polus Mahu dalam pewacanaan konsep mereka menjadi kesempatan yg ditunggu-tunggu saat kami masih kecil. Diskusi politik dan ekonomi yang dinaungi spiritualitas kental kekristenan besutan pastor eropa menjadi paradigma kehidupan Borong.


5) Bapa Pius salah satu tokoh masa kecil kami yg tinggal bersama di Paroki Borong. Beliau selain guru para tukang juga pribadi bersahaja. Tutur kata yang sopan, perhatian yg besar buat kami anak2 sangat kentara sebagai bagian dari kehidupannya. Ketika kebijakan gereja keuskupan berubah, Romo Thomas menggatikan P. Stanis Wiparlo SVD, bapa Pius lalu undur pamit dari sekretariat paroki dan bekerja pada PT. Djember Djaja yang mengaspal jalan Kisol-Ruteng tahun 1990an’.

Senyuman, keakraban, motivasi bapa Pius membesarkan hati kami. Anak2 yg ke manapun pergi selalu merindukan Borong sebagai rumah dengan pintu terbuka dan kehangatan yg tak pernah habis. Bapa Pius selamat jalan. Kami yakin ite menjadi pendoa bagi kami. Bukan saja utk ade Marsel Gunas. Tapi jga bagi kami semua. Hari ini ada bapa Vitalis Ambi dan tokoh2 yang masih tersisa di Borong. Kebajikan2mu menjadi contoh bagi kami untuk selalu bersama dalam suka dan duka kehidupan ini”


Untuk dua narasi tertulis dan tersiarkan ini, kami mengucapkan terimakasih. Dua narasi ini telah membuat kami semakin mengenal ayah dan semakin siap untuk melanjutkan misi-misi hebatnya kepada sesama, gereja, dan nusa.

Salam dan doa kami,

Marsel Gunas
Dua Narasi tentang Ayah Dua Narasi tentang Ayah Reviewed by Marsel Gunas on Jumat, Agustus 25, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.