Karya Ayah Hebat

Baca Juga

Karya Ayah Hebat Bapa Pius Gunas



Di belakang rumah, pepohonan itu tumbuh dengan rindangnya. Hijau dan subur. Daunya lebat. Berbaris dari sudut timur hingga sudut barat. Ukurannya tinggi, bunga-bunganya harum di pagi hari.

Kami tak kekurangan oksigen (Fresh Air), juga tak miskin kesejukan. Beberapa darinya menghasilkan buah yang manis. Isinya padat. Bergizi pula, pastinya.

Di meja makan, saat musim krisis buah menampar wilayah kami, buah-buahan masih ada dan tak terhitung jenisnya. Yang paling tampak rajin menjadi penutup hidangan adalah buah pepaya. Pisang juga selalu ada di karung. Setandan dua tandan. Sering diletakkan di kolong tungku api.

Mangga dan srikaya (sirsak) juga kerap nongol di meja. Tak kenal musim mereka berbuah. Lebat nian jika berbuah. Ada juga sawo. Pohonnya hijau dan rindang di belakang kamar mandi.


Pohon jati berjejer rapi di kebun belakang rumah, 50 meter dari kamar mandi. Ditanam dengan jarak 2 meter tiap pohonnya. Haju Nara, kata orang di kampung, juga ada di kebun itu, tak banyak.

Rumah kami asri, sejuk karena hijau dan rindangnya pepohonan itu. Di halaman depan, berbagai jenis bunga tumbuh subur. Mereka tak tumbuh secara kebetulan. Semua itu. Ada campur tangan manusia pemilik rumah di dalamnya. Ya, ayah saya, sang maestro keluarga itu orangnya.

Rumah didesain dan dibangunnya sendiri. Beberapa tiang dan palang rumah dari kayu tanamannya. Ia seorang tukang kayu. Tukang hebat. Kami bertiga, anak-anaknya, lahir di rumah dengan hiasan pepohonan dan bunga-bunga yang indah. Karya ayah. 

Ayah bukanlah sarjana dengan bobot spesifikasi keilmuan selangit; lulus dan bergelar sarjana usai menerima sekian banyak SKS di kampus. Bukan. Ia hanya seorang tukang kayu, lelaki biasa, warga negara lapis bawah yang hanya menamatkan pendidikan formal di Ambaks Skul, Ruteng: sekolah pertukangan besutan para misionaris dulu.

Usai menamatkan pendidikan di lembaga itu, ia pernah dikirim ke sejumlah tempat untuk menjadi guru di kelompok binaan para misionaris di berbagai paroki. Paling banyak di pedalaman wilayah Manggarai Timur. Dari Mano hingga Elar. Dari Lengko Ajang hingga Wae Lengga.

Di berbagai tempat itu, ia menjadi guru menggambar dan guru matematika pertukangan. Murid-muridnya, para calon tukang. Tukang misi, sebutan orang-orang dulu.
Selain menjadi guru di komunitas-komunitas pendidikan pertukangan, ayah juga kerap dikirim 'Misi' ke berbagai tempat untuk membangun gereja.

Tapi kisahnya berubah. Di tengah jalan, ia mendalami mesin otomotif. Otodidak. Ia menjadi seorang sopir sekaligus montir hebat. Selama menjadi sopir di SVD, berbagai tempat di Pulau Flores dikunjunginya. Lebih-lebih di paroki-paroki di wilayah Flores. Yang amat teringat, ia pernah bekerja menjadi sopir Alm. Pater Stanis Wiparlo, SVD selama 14 tahun.

Pater Stanis Wiparlo adalah rohaniwan Katolik asal Polandia. Ia pernah menjadi Pastor Paroki Borong, Paroki Reo, dan terakhir, dia berkarya di Kevikepan Labuan Bajo.

14 tahun menjadi sopir pribadi Pater Stanis lantas membuat ayah lebih dikenal sebagai sopir, bukan lagi tukang. Hanya sebagian orang yang mengenalnya sebagai tukang jebolan 'Misi'.

Ia juga dikenal sebagai montir. Saat kecil, tak jarang, aku menyaksikan beberapa orang datang ke rumah membawa mobilnya yang bermasalah. Mereka meminta ayah memperbaikinya. Dan, benar. Mobil itu kembali normal, aman dikendarai setelah diperbaiki ayah.

Talenta ayah itu bisa demikian karena semangatnya untuk belajar. Ya, buku-buku bacaanya masih tersimpan rapi. Ilmunya dari sana. Dari buku-buku itu.

Om Pius, begitu banyak warga biasa menyapanya, ayah saya itu telah menjadi guru, dengan seabrek karyanya itu, layak kusebut sang maestro keluarga. Karya-karyanya sungguh hebat.

Aku dan kedua saudariku lahir dan besar di tangan sang maestro itu. Ia ayah yang lembut dan santun, tak pernah berkata kasar pada ibu dan kami anak-anaknya. Diksi yang ia gunakan saat mengoceh di depan anak-anaknya selalu pantas. Bukan kata-kata senonoh yang bermakna tak sopan. Ia pengajar handal dengan segudang sumber literasi etis.

Ayah, sang maestro hidup itu, kini telah pergi. Kami kehilangan sosok super penting dalam hidup!
Selamat jalan, Ayah, Bapa Pius. Jadilah pendoa bagi kami anak-anakmu.

Karya Ayah Hebat Karya Ayah Hebat Reviewed by Marcell Gunas on Minggu, Agustus 20, 2017 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.