#August2017: When Happiness Lie

Baca Juga

Sebelumnya, Blog ini menayangkan potongan kisah tentang perjumpaan terakhirku dengan sang ayah tercinta, Bp. Pius Gunas. Aku masih akan terus melanjutkan kisah tentangnya, tentang air mata kami yang masih belum habis. Juga tentang #Agustus2017 yang menyajikan duka bagi kami.

#August2017: When Happiness Lie
Foto: Dok. marselgunas.com

Bagaimana mengubah dukacita menjadi sukacita dalam waktu seketika? Adakah cara menghentikan air mata dan menggantinya dengan tawa dalam waktu sepuluh duapuluh detik? Atau sepuluh jam, sepuluh hari, satu minggu, satu bulan, atau satu tahun?



Dukacita itu datang tanpa permisi. Datang tiba-tiba dan menghapus semua kebahagiaan yang terungkap di bulan sebelumnya. Pada situasi itu, kami bahkan tak punya waktu untuk mengarang tentang sukacita yang baru saja terlewati. Bahkan tak bisa mengutip ayat-ayat Kitab Suci untuk menyembuhkan hati yang tersayat duka!

Baca: Video Call Terakhir sama Ayah

Dalam waktu sebulan, di bulan Agustus tahun ini, dukacita menyelimuti keluarga kami.  Beruntun! Pada bulan yang sama, Yohanes, putra pertama Maria Suryani Gunas, saudariku, dipanggil Tuhan saat dilahirkan di Rumah Sakit Ruteng. Masih pada bulan yang sama, ayahku, Bp. Pius Gunas juga dijemput Dia yang kuasa. Sungguh, Agustus 2017 adalah air mata bagi keluarga kami. Agustus adalah misteri kehidupan keluarga kami. Bak badai yang datang tiba-tiba, merobohkan seluruh forma kebahagiaan keluarga.

How could it be: pada 8 Juli, bulan sebelumnya, aku menikah. Tentu saja cerita dan suasana kebahagiaan pasca pernikahan masih sering diumbar kemana-mana, hingga bulan berikutnya. Tentu saja masih ada diskusi-diskusi tentang pernikahan dengan hati berbunga-bunga dua-tiga minggu setelah pernikahan. Tentu saja masih ada yang mengucapkan ‘Selamat’ di timeline sosial media. Tentu saja masih ada yang mengirimi bingkisan hadiah pernikahan bagi kami.

Dan..
Pada Agustus, bulan setelahnya, cerita-cerita itu tersapu isak tangis dan air mata duka?
How could it be: setelah menikah, aku harus  mempertemukan Sheila, wanita yang kunikahi itu dengan ayahku lantaran ayah tak hadir di saat pernikahan kami di Kediri. Dan ayah, dia yang akan didatangi itu ‘berpulang’ sebelum menjumpai menantunya itu?

Happiness totally becomes a lie!

***

Aku pulang, bersama istri. Aku tak melihat ayah lagi saat tiba di rumah. Tak ada lagi pelukan hangat dan erat darinya, seperti saat pulang sebelumnya. Pulang kali ini adalah pulang yang menyakitkan. Sebab butuh kerelaan untuk menyaksikan ayah yang berbaring kaku dan tak bersuara lagi.



Tentu saja istriku juga marah dengan situasi itu. Tak mudah baginya untuk menapaki hari-hari pasca pernikahan kami dengan balutan duka yang amat serius: ia tak sempat bermain bersama keponakannya, ia juga tak merasakan pelukan ayah mertuanya.

Tetapi, begitulah. Kami tak punya kuasa untuk melarang-Nya melakukan rencana-Nya. Kepergian mereka hanya keberangkatan ke kehidupan berikutnya! Kami percaya itu. Sebagai ‘ata panggol’, dalil teologis itu bisa diterima.

Pada situasi yang amat pelik itu, ketegaran adalah jalan paling ampuh bagi kami sekeluarga. Kami harus tegar! Meski baying-bayang rindu bersama mereka yang telah pergi itu masih sulit dikubur dalam-dalam.

Bapa Pius, Anak Yohanes, jadilah pendoa bagi kami semua. Amin.
#August2017: When Happiness Lie #August2017: When Happiness Lie Reviewed by Marcell Gunas on Minggu, Oktober 08, 2017 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.