Orang-orang Baik saat Kami Berduka

Baca Juga

Orang-orang baik saat kami berduka atas kepulangan ayah tercinta datang silih berganti membawa penguatan, penghiburan dan doa bagi kami sekeluarga. Kami, orang-orang yang ditinggalkan ayah, bersyukur telah dilahirkan di lingkungan orang-orang ini, mereka yang telah kami banggakan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan keluarga kami.

Orang-orang baik saat kami berduka - marsel gunas
Foto by: Marsel Gunas

29 September 2017 genap 40 hari meninggalnya ayah tercinta, Bp. Pius Gunas. Di rumah, di Golokarot, Borong, ada ‘Misa Empat Puluh Malam’ untuk mendoakan kepergian ayah. Puluhan orang-keluarga besar Cibal, Jawang, Mano dan warga kelompok di Golokarot II, Borong-hadir di rumah untuk mendoakan ayah. Kehadiran mereka membuat kami terhibur. Mereka kembali bicara tentang ayah. Ya. Yang jelas, cerita tentang ayah memang tak akan pernah berhenti.


Banyak orang yang mendoakan ayah, banyak yang datang menguatkan kami, dan banyak yang membantu melancarkan segala urusan di rumah. Bahkan sejak ayah berbaring sakit, mereka telah datang ke rumah untuk menemani ayah. Selain keluarga dekat, tetangga-tetangga kami juga datang. Siang dan malam, selalu ada yang datang ke rumah untuk menjenguk ayah, juga menguatkan ibu.


Keluarga dari Ruteng dan Mano juga kerap ‘nongol di rumah. Penghiburan dan penguatan yang disuguhkan kepada kami menjadikan kami kuat menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan saat ayah terbaring sakit. Saat ayah harus dilarikan ke Rumah Sakit, mereka juga tak tinggal diam. Mereka terlibat dalam setiap urusan yang membantu memulihkan kondisi kesehatan ayah, mulai dari urusan mencari kendaraan yang akan mengantarkan ayah ke rumah sakit hingga menemani ayah di rumah sakit.

Saat ayah meninggal, mereka tak pernah pergi dari kesibukan-kesibukan itu. Mereka lah saksi hidup kepulangan ayah! Sekali lagi, mereka saksi hidup kepulangan ayah. Berbilang narasi disuguhkan saat kami bertemu di rumah. Tentang kondisi kesehatan ayah yang mulai drop, tentang ayah yang diantar ke rumah sakit, juga tentang ketabahan dan kesetiaan ibu dalam menemani ayah selama ayah sakit.

Di Jakarta, saat ayah meninggal, kami juga mendapat banyak penguatan dan penghiburan dari berbagai keluarga, sahabat, rekan kerja (Jitunews.com dan Sekolah Ricci I, Glodok) dan tetangga di Margonda, Depok. Ucapan duka dan doa yang didaraskan tak henti-hentinya mengalir lewat percakapan via media sosial dan pesan seluler. Juga pada saat aku dan istri kesulitan mendapatkan tiket untuk segera pulang ke Borong, ada ‘puluhan tangan’ datang tiba-tiba menghampiri kami dan membantu kepulangan kami. Di Labuan Bajo, rekan-rekan wartawan dan rekan se-komunitas telah menunggu kami di Bandara Komodo, Labuan Bajo. Bantuan mereka mempermudah perjalananku dari Labuan Bajo menuju Borong.

Di Ruteng, sahabat-sahabat saya dari Marga juga turut berandil besar dalam melancarkan berbagai urusan selama kepulangan ayah. Bahkan sejak saat saat ayah dilarikan ke RSUD Ben Mboi Ruteng, mereka telah turut membantu. Mereka menemani ayah sejak di IGD, hingga saat jenazah ayah dipulangkan ke Borong.

***

Ayah menghembuskan nafas terakhir beberapa saat sebelum masuk IGD Rumah Sakit Ruteng. Begitu penuturan saudara-saudari saya yang turut mengantar ayah ke Ruteng. Saat itu, sebelum mereka tiba di IGD, sudah cukup banyak kolega kami yang menunggu ayah di depan Rumah Sakit. Mereka turut membantu membaringkan ayah di meja pasien di IGD.


Sesaat setelah dokter menyatakan nyawa ayah tak tertolong lagi, pihak keluarga di Borong secara serempak sudah berkumpul di rumah: membangun kemah, menata ruangan depan, menginformasikan kabar duka ke keluarga-keluarga, sampai urusan menyiapkan minuman dan makanan ringan bagi keluarga dan tetangga yang datang ke rumah menunggu jenazah ayah.

Semuanya dilakukan dengan semangat solidaritas yang tinggi dan kesadaran sosial yang amat tulus! Jujur, rasa syukur terhadap kehadiran orang-orang baik di sekitar kami saat kami diterpa kedukaan muncul bersamaan selama suasana duka kepergian ayah.


Tulisan ini saya dedikasikan sebagai ungkapan syukur atas kehadiran orang-orang baik di sekitar kami saat peristiwa kedukaan yang kami alami pada bulan Agustus lalu. Terimakasih tak terhingga untuk semua karena semua yang diberikan kepada kami. Semoga Rahmat Tuhan senantiasa menyertai kehidupan kalian semua.

Orang-orang Baik saat Kami Berduka Orang-orang Baik saat Kami Berduka Reviewed by Marsel Gunas on Minggu, Oktober 15, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.