Sr. Yosephina Palawati dan Rumah Perlindungan Perempuan Labuan Bajo

Baca Juga

Tulisan dengan judul 'Sr. Yosephina Palawati dan Rumah Perlindungan Perempuan Labuan Bajo' ini diambil dari majalah Areopagus, sebuah majalah bulanan asuhan Vivat Indonesia, sebuah LSM yang berafiliasi dengan Perserikatan Bangsa-bangsa yang memiliki status konsultatif dengan Dewan Social Ekonomi (ECOSOC) dan berasosiasi dengan Departemen Informasi Publik PBB. Vivat Indonesia merupakan salah satu cabang dari Vivat Internasional.

Vivat Internasional didirikan pada bulan November tahun 2000 di Roma. Pemimpin Umum Serikat Sabda Allah (SVD) dan Konregasi Suster Abdi Roh Kudus (SSpS). Sat ini VIVAT Internasional terdiri dari 13 tarekat religius yang para anggotanya bekerja pada 130 negara; memiliki kantor pusat di New York dan kantor perwakilan di Geneva serta cabang-cabang nasional di Indonesia, Argentina, Bolivia, India, Kenya dan Filipina.

Sr. Yosephine adalah sahabat saya. Saat masih aktif di PMKRI Ruteng, Sr. Yosephine merupakan salah satu rekan diskusi kami, khususnya untuk tema-tema yang berkaitan dengan kekerasan terhadap perempuan, perlindungan anak, pelanggaran HAM, bahkan isu ekologis. Sr. Yosephine kerap mendampingi korban KDRT, korban pelecehan seksual, dan warga lingkar tambang di Reo, Dampek, Waso, Tumbak, dan Sirise.

Kini, Sr. Yosephine aktif di Rumah Perlindungan Perempuan di Labuan Bajo. Tulisan yang disalin secar utuh dari Areopagus ini merupakan bentuk apresiasi saya terhadap kerja-kerja sosial karitatif yang sudah sedang dilakukan rekan-rekan di Rumah Perlindungan Perempuan Labuan Bajo, khususnya Sr. Yosephine. Semoga diberkati selalu!


Sr. Yosephina Palawati dan Rumah Perlindungan Perempuan Labuan Bajo


Humman Trafficking (perdagangan manusia) dan kekerasan dalam rumah tangga masih menjadi persoalan utama yang melanda bangsa Indonesia saat ini. Ribuan bahkan mungkin jutaan masyarakat Indonesia telah terperangkap dalam sindikat perdagangan orang.

Selain itu, kekerasan terhadap perempuan masih menjadi persoalan fundamental yang melanda Indonesia. Masih begitu banyak kaum perempuan Indonesia menjadi korban kekerasan, entah kekerasan di ranah personal, maupun kekerasan di ranah komunitas.

Upaya pemberantasan dan pencegahan terhadap tindakan pidana perdagangan orang dan kekerasan terhadap perempuan merupakan tanggung jawab yang harus dipikul, baik oleh negara maupun masyarakat sipil, dan semua orang yang berkehendak baik. JPIC SSpS Flores Barat yang merupakan organisasi keagamaan milik konggregasi SSpS telah berperan aktif dalam memberantas dan mencegah tindakan pidana perdagangan orang dan kekerasan dalam rumah tangga melalui sosialisasi-sosialisasi.

Selain itu, organisasi ini juga berperan aktif dalam memulihkan para korban melalui pendampingan psikologis di Rumah Perlindungan Perempuan di Labuan Bajo.

Ketua JPIC SSpS Flores Barat, Sr. Maria Yosephina, SSpS menuturkan bahwa misi kemanusiaan dan rasa solidaritas terhadap para korban telah mendorong dirinya dan tim untuk membantu korban yang pernah terjebak dalam sindikat perdagangan orang dan perempuan yang menjadi korban kekerasan.

Menurut Sr. Yosephina, misi yang dijalankannya adalah misi Tuhan. Dirinya hanyalah sarana di tangan Tuhan agar misi itu menjadi nyata dengan membantu sesama yang terjebak dalam sindikat perdagangan orang.

Suster kelahiran Manggarai ini menjelaskan latar belakang keinginannya untuk terjun di bidang kemanusiaan. Pada tahun 2001, Propinsi Maria Pengantara Segala Rahmat SSpS Flores Barat mulai berdikari secara penuh, dengan wilayah misi meliputi Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Sumba Barat, dan Sumba Timur.

Semua urusan kehidupan kerasulan propinsi berada di bawah tanggung jawab Propinsi Flores Barat. Salah satu hal yang ditekankan dalam Kapitel General SSpS XII dan prioritas Kapitel Propinsi II adalah keprihatinan terhadap orang-orang kecil dan yang terpinggirkan, pemberdayaan perempuan, dan penanganan ODHA (Orang dengan HIV/AIDS).

Untuk merealisasikan agenda ini dan sesuai dengan situasi riil di propinsi, maka dibentuklah tim JPIC SSpS Flores Barat. Sejak tahun 2010 hingga 2015, Sr. Yosephina dan tim giat melakukan sosialisasi tentang bahaya HIV/AIDS dan perdagangan manusia. Dalam rentang waktu tersebut, mereka sudah melakukan sosialisasi bahaya HIV/AIDS di hadapan 10.094 orang dan tentang human trafficking di hadapan 5.068 orang.

Selain itu, Sr. Yosephina dan timnya telah menerima pengaduan dan mendampingi 50 orang korban perdagangan manusia, 3 orang korban kekerasan seksual, 10 orang gadis yang hamil di luar nikah, dan 6 korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Tidak jarang, para korban dengan inisiatif pribadi datang meminta perlindungan dan pendampingan kepada JPIC.

Karena meningkatnya jumlah korban yang meminta perlindungan dan tidak memadainya tempat untuk menampung mereka, maka JPIC Flores Barat kemudian berencana membagun sebuah rumah khusus sebagai rumah singgah untuk para korban. Rumah ini menjadi tempat pendampingan psikologis para korban yang mengalami trauma. Namun rencana ini terkendala dengan kondisi finansial yang tidak cukup. Mukjizat Tuhan di luar rencana manusia.

Pada bulan Juni 2016, Tim Kompas Group datang dan meminta informasi tentang kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan dalam pembangunan rumah tersebut. Lalu pada bulan November, pembangunan rumah dimulai, yang diawali dengan peletakan batu pertama yang dihadiri oleh wakil bupati Manggarai Barat (Mabar), Maria Geong, ketua DPRD Mabar Blasius Jeramun, dan Tim Kompas Group.

Pada Mei 2017, rumah tersebut diresmikan dan mulai digunakan untuk menampung para korban. Menurut Sr. Yosephina, dalam menjalankan misi kemanusiaannya, mereka selalu membangun mitra dengan VIVAT Internasional Indonesia, JPIC SVD & SSpS, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), keuskupan, kepolisian, dan pemerintahan.

Memberdayakan Para Korban

Selain mendampingi para korban, aktivitas harian Sr. Yosephina di rumah singgah di Labuan Bajo, ibukota kabupaten Manggarai Barat adalah memberdayakan para korban dengan mengajari mereka mengolah sampah menjadi bunga plastik hiasan dan mengolah kedelai menjadi tempe.

Bersama para korban, dia mengumpulkan sampah botol-botol minuman di seputaran kota Labuan Bajo lalu dibersihkan dan siap untuk diolah menjadi bunga plastik yang indah dan cantik. Seringkali juga masyarakat sendiri datang membawa sampah botol ke rumah singgah. Hasil karya mereka itu kemudian dijual kepada masyarkat.


Sr. Yosephina juga mengajari mereka mengolah kedelai menjadi tempe. Dalam seminggu, mereka bisa menghasilkan lima kilogram ( 5 kg) tempe lalu menjualnya. Dari hasil penjulan tersebut, mereka memperoleh keuntungan seratus lima puluh ribu rupiah. Hasil penjulan tersebut kemudian digunakan untuk membiayai korban KDRT yang tinggal di Rumah Perlindungan Perempuan.

Sr. Yosephina berharap bahwa di kemudian hari mereka bisa mandiri dalam mengolah tempe dan mengolah sampah menjadi hal yang mendatangkan manfaat dalam hidup mereka. Selain para korban, ibu-ibu rumah tangga yang kurang mampu juga menjadi kelompok dampingan Sr. Yosephina di Rumah Perlindungan Perempuan tersebut. Mereka datang dari rumah-rumah mereka.

Pada prinsipya, biarawati SSpS ini membuka pintu lebar-lebar bagi kaum perempuan yang ingin belajar mengolah sampah dan tempe di tempatnya. Ia bahkan mengajak mereka untuk datang ke Rumah Perlindungan Perempuan.

Karena keseriusannya mendampingi dan mengajari kaum perempuan dalam mengolah sampah dan tempe, suster pemilik senyum manis ini diminta oleh kelompok ibu-ibu dari Sokrutung, Kecamatan Komodo untuk melatih memperoduki tempe di wilayah mereka. Dia berharap kaum ibu dan perempuan di Labuan Bajo bisa berusaha kecil-kecilan, termasuk menghasilkan tempe untuk sedikit memenuhi kebutuhan keluarga.


*Majalah Areopagus, Edisi Juli-Oktober 2017
Sr. Yosephina Palawati dan Rumah Perlindungan Perempuan Labuan Bajo Sr. Yosephina Palawati dan Rumah Perlindungan Perempuan Labuan Bajo Reviewed by Marcell Gunas on Jumat, Oktober 20, 2017 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.