Editor yang Tak Digaji

Baca Juga

Istilah editor kerap dipakai di perusahaan media massa pemberitaan (istilah media massa pemberitaan sengaja dipakai untuk memberi pembedaan dengan media sosial). Dalam dunia kewartawanan, editor dikenal sebagai orang yang bertugas untuk mengedit, memeriksa, dan mengoreksi artikel, berita (tulisan, foto, video) yang dikirim reporter sebelum ditayangkan di media massa. Anda bisa saja menambah pengertian kata editor dalam perusahaan media massa pemberitaan menurut teori-teori lain yang dianggap relevan.



Seperti di perusahaan media massa pemberitaan itu, peran editor sangat lah penting. Tanpa seorang editor, sebuah artikel yang ditulis reporter tidak terkoreksi. Editor tidak hanya mengoreksi koherensi makna sebuah teks alias laporan yang diterima dari reporternya. Dia juga akan memeriksa secara cermat setiap diksi dan kalimat yang ada di dalam reportase anak buahnya.

Itulah mengapa di hampir semua perusahaan media pemberitaan, urusan apakah sebuah berita atau artikel layak tayang atau tidak adalah kewenangan editor. Di tangan editor, sebuah tulisan akan dibedah, dianalisa kurang dan lebihnya, dipangkas jika terlalu panjang, diperbaiki jika ada kekeliruan, diverifikasi kembali ke reporter apa yang mengganjal, dan diputuskan ‘tayang’ atau ‘masuk kantong sampah’.

Baik editor artikel, editor foto maupun editor video memiliki ‘keganasan’ yang sama: mengoreksi dan memutuskan apakah bahan yang dikirimkan oleh reporternya bisa ditayangkan atau tidak! Anda bisa bayangkan, jika anda adalah seorang reporter yang telah capek-capek meliput sebuah peristiwa dan anda salah dalam melaporkannya, kemudian editor menjawab laporan anda tidak ditayangkan karena banyak kesalahan. Sakitnya tuh gimanaaa gitu… (Colek rekan-rekan reporter lapangan..He he).

Editor yang tak digaji- marselgunas.com
Image: Sheila Romana Fransisca (Foto: marselgunas.com)

Saya sendiri menggunakan pola kerja layaknya di perusahaan pers dalam mengelola blog pribadi. Saya membutuhkan editor untuk setiap tulisan yang saya hasilkan, sebelum ditayangkan di blog pribadi saya. Editor saya adalah istri tercinta, Sheila Romana.

Bagi saya, perannya sangat penting, karena darinya ada jaminan kesempurnaan atas tulisan yang saya hasilkan. Minimal, kesalahan-kesalahan kecil seperti penggunaan kata serapan, penulisan kata menurut Ejaan yang Disempurnakan (EYD), tanda baca, singkatan, dan kesesuaian antara kalimat pertama dan kalimat selanjutnya, terkoreksi dengan baik.

Proses pemeriksaan biasanya diwarnai debat-debat kecil. Seperti ada ujian kecil-kecilan dari sang editor yang meminta pertanggungjawaban saya atas apa yang saya tulis. Debat-debat itu terjadi hanya agar apa yang saya hasilkan bisa sesuai dengan kaidah-kaidah kepenulisan yang berlaku secara umum.

Saya pernah membagikan secuil kisah proses korektif itu kepada teman saya-juga seorang penulis blog. Dia bilang, “Wow! Kalian pasangan yang hebat. Seiya-sekata tak hanya dalam membangun rumah tangga, tetapi juga dalam mengembangkan ruang maya.” Saya pun senang mendengar komentar itu.

Namun, pada intinya, saya selalu senang dikoreksi, dikritik, dan diperiksa secara obyektif. Sebagai manusia-makluk hidup berakal namun prosentase kelemahannya lebih tinggi dari keunggulan-saya selalu siap diperiksa. Dengan koreksi dan kritik yang obyektif, saya akan sadar kesalahan dan kekeliruan. Dan, setelah saya pikir panjang, membuka diri terhadap kritik harus diberlakukan secara umum untuk semua dimensi kehidupan saya. Tidak hanya dalam urusan kepenulisan.

Kabar baiknya, istri saya siap memiliki sikap yang sama: berani membuka diri untuk dikritik alias dikoreksi. Dia bilang, “Manusia itu rentan biadab. Hanya beradab jika kritik dan koreksi pihak lain diterima dan dijadikan pelajaran demi menjadi lebih baik.”

Ole…ini mungkin alasan lain kenapa kau jadi sap istri e, ‘Nu. Serius! (*Lol).



Memang, tulisan di blog pribadi tidak melulu harus seberkualitas tulisan di koran-koran tersohor sekaliber New York Times, atau The Guardian. Atau seindah tulisan-tulisannya Pramoedya Ananta Toer. Atau serenyah catatan pinggir-nya Goenawan Mohamad. Di blog, penulis hanya butuh model penyajian tulisan secara ‘ringan’ dan enak dibaca. Juga naratif. Tapi, meski begitu, penulisannya tidak luput dari penggunaan bahasa yang baik dan benar. Minimal sesuai kajian Ejaan yang Disempurnakan (EYD) terbaru yang disepakati para pakar bahasa itu.

Istri saya memiliki kemampuan itu. Meskipun lulusan program studi teologi di STKIP Widya Yuwana Madiun, namun dia adalah sosok yang sangat detail dalam mengoreksi sesuatu, khususnya sebuah tulisan. Dia memulai pemeriksaannya dari unsur bahasa. Dan saya suka itu.

Maka, jadilah istri tercinta itu sebagai editor pribadi saya; editor yang tak pernah digaji bulanan atau mingguan atau per tulisan yang diedit. Dia kerja sukarela. Itulah bentuk dukungan dia sebagai istri agar suaminya bisa menjadi manusia yang terus memperbaiki diri dalam menulis. Boleh jadi, begitu.  (He he..).

-Tabe, Marsel Gunas-
Editor yang Tak Digaji Editor yang Tak Digaji Reviewed by Om Marcell on Selasa, Januari 30, 2018 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.