Bertaruh Nyawa di Transportasi Online

Baca Juga

Geliat bisnis trasnportasi berbasis online kini meraja lela di kota-kota besar di Indonesia sejalan dengan pertumbuhan industri digital yang juga kian moncer saat ini. Gojek, Grab, Uber adalah tiga penyedia jasa transportasi online yang sukses meraup untung dari pesatnya industri berbasis digital saat ini.

Bertaruh Nyawa di Transportasi Online - Marsel Gunas
Warga sedang mengejar pelaku begal terhadap driver ojek online di kawasan Buaran, Jakarta Timur, Minggu (23/4/2017) | Dok. marselgunas.com
Berkat layanan dan fitur-fiturnya, para pengguna di tiga layanan itu terus bertambah setiap tahunnya. Hasil survey Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) tada tahun 2017 menyebutkan 72,6 persen konsumen transportasi online menggunakan layanan Gojek; kemudian Grab sebanyak 66, 9 persen; Uber 51 persen dan My BlueBird sebanyak 4,4 persen.


Di Jakarta, penyerapan tenaga kerja di sektor transportasi online terbilang tinggi. Bahkan, tidak sedikit karyawan kantoran meninggalkan profesinya dan mengadu nasib di sektor itu. Teman sekantor saya, seorang fotografer senior, meninggalkan kantor demi menjadi sopir taxi online; uber.

Keuntungan berlipat dari bisnis itu membuatnya kini mempunyai tiga mobil semi sedan. Semuanya disewakan sebagai taxi online. Sahabat saya yang lain, sebelumnya menjadi karyawan di sebuah bank, meninggalkan pekerjaannya dan kini menjadi ‘ojek online’ di Gojek. Dari keuntungan yang didapatnya, kini dia memiliki dua mobil dan disewakan sebagai taxi online di perusahaan Grab.

Semakin hari, semakin banyak yang melakukan hal seperti kedua sahabat saya itu. Dan, saya bangga. Mereka adalah orang-orang berani melihat sekaligus menangkap peluang perkembangan zaman untuk mengepakan sayap kemandirian usaha mereka. Itu keren.

Namun, tidak sedikit dari mereka yang juga mengaku khawatir, bahkan acapkali mengaku tidak nyaman menjalankan bisnis itu. Alasannya sederhana: kriminalitas di jalanan.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa tingkat kriminalitas di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bali, Medan dan beberapa kota besar lainnya tinggi dan cenderung meningkat. Jambret, perampokan, begal, pelecehan seksual, pemerkosaan kerap mewarnai hiruk pikuk transportasi publik di Indonesia, secara khusus di dunia transportasi berbasis online. Sudah banyak korban, yang meninggal maupun luka-luka. Modusnya juga berbeda-beda.

Minggu lalu, saya pulangnya larut malam gegara mampir diskusi di kantor teman, di sekitar kawasan Pasar Genjing, Jakarta Pusat. Karena sudah larut dan jadwal kereta ke sudah berakhir, maka saya memutuskan untuk pulang dengan menggunakan layanan Grab Car.

Irvan Fauzi, pengendara yang mengantar saya malam itu, membuka obrolan dengan menyinggung curah hujan yang tinggi di Jakarta. Tentu saja, kalau sudah menyangkut hujan, ujung-ujungnya bicara banjir. Kalau sudah singgung banjir, ya pasti lah menyerempet ke urusan beda Anies dan Ahok, beda Sandi dan Djarot, dan bla bla bla seterusnya itu.

Tapi saya tak mau terperangkap dalam ajakan Irvan untuk membahas soal hujan. Saya tertarik untuk ngobrol tentang kriminalitas Jakarta yang dirasakan para pengendara angkutan berbasis online.

“Walah, Mas, masih sering banget kalau itu mah,” begitu Irvan menyambar saat saya mulai mengalihkan topik dari hujan ke ancaman kriminalitas bagi pengemudi angkutan online. Saya menggumam, membiarkan Irvan melanjutkan penjelasannya.
“Udah banyak, Mas, kasusnya. Dua hari lalu temen saya tuh, di tol arah Casablanca, itu diancam sama penumpangnya pakai pisau. Penumpangnya tiga orang cowok semua,” kata Irvan.
“Lalu?,” saya menyelanya.
“Ya dia tabrak aja dinding pembatas tol. Mobil rusak, dia selamat, penumpang yang mau begalin dia pada nggak jelas di dalam mobil, dia kabur,” ujar Irvan menjelaskan.
“Kacau, masih ada aja yang kayak gituan ya, Mas,” sahutku sambil mengharapkan agar Irvan tak melayani penumpang di atas jam 12 malam dengan wilayah tujuan yang jauh. Sebab, dari beberapa kasus sebelumnya, rata-rata terjadi di atas jam 12 malam dan saat pengendara angkutan online mengantar penumpangnya dengan jarak tempuh yang cukup jauh.

Tentu masih banyak kisah tragis yang dialami para pengendara, maupun para pengguna, di berbagai kota besar seiring ramainya minat publik menggunakan jasa angkutan transportasi berbasis online.


Kita patut malu. Bagaimana orang asing menceritakan Indonesia di kampung halamannya jika transportasi nasional kita hanya diisi oleh kriminalitas, begal, jambret? Kita juga perlu malu, karena: peluang bisnis yang kian mudah itu-yang dimudahkan teknologi- justru berhadapan dengan kebiadaban bercampur kemalasan yang hasilnya ‘kekalahan dalam bersaing’ kemudian kita rampok hasil keringat orang lain yang dia hasilkan dari peluang yang dia ambil di zaman yang sudah maju ini?

Oleee…sebaiknya stop tah, Bro!

Ada juga solusi berkedok ajakan untuk bekerja sama dengan polisi. Oh, Polisi? Aparat keamanan yang lembaganya merekrut banyak prajurit tiap tahun, tapi tiap tahun kriminalitas jalanan juga terus meningkat?

Pikir baik-baik: kantor tempat saya bekerja letaknya di Jl. Pemuda 289 Rawamangun, Jakarta Timur, 700 meter dari Polsek Pulo Gadung, 300 meter dari Pospol Rawamangun. Tapi, setiap hari di Jalan Pemuda Rawamangun ada jambret, ada balap liar, ada pencurian. Pikir!

Lalu, ketika dua minggu lalu saya dijambret dan saya lapor ke Polsek Rawamangun, pelakunya dicari sama polisi? NO!


Tabe - Marsel Gunas
Bertaruh Nyawa di Transportasi Online Bertaruh Nyawa di Transportasi Online Reviewed by Om Marcell on Kamis, Februari 08, 2018 Rating: 5

2 komentar:

  1. Miriiis kalo liat korban pengemudi online yg dibunuh lalu kendaraannya diambil. Kasian ama keluarganya. Ga abis pikir sih mas, kok pelaku bisa setega itu. Apalagi bbrp kali ketangkap ternyata msh remaja :( . Makanya suami prnh nanya, boleh ga sampingan jd pengemudi online, aku larang keras. Rezeki kita udh berlebih. Ga perlu lg pake sampingan. Aku pasti ga bakal bisa tenang kalo dia ambil penumpang gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju. Kriminalitas di dunia transportasi online memang menakutkan, Mba Fanny. Tidak hanya menakutkan pengguna jasa transportasi itu, tetapi juga menakutkan pelaku usahanya. Selain itu, menurutku, hal itu juga membuat orang asing berpersepsi buruk tentang keamanan (security) di bisnis jasa transportasi nasional kita. Bisnis jasa transportasi nasional kita masih butuh pembenahan serius. Semoga.

      Btw, aku apresiasi sikap dan perhatian Mba Fanny untuk suami. Salut. Terimakasih, Mba. Udah mampir di blog sederhana ini.:)

      Salam

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.