Flashback Pertunangan: Mereka yang Mewakili Keluarga Flores

Baca Juga

Minggu, 25 Februari kemarin saya dan istri berdiskusi cukup lama tentang momentum pertunangan kami, setahun silam, di tanggal yang sama. Diskusinya santai. Lebih banyak bernostalgia tentang suasana batin jelang pertunangan, kemudian kebahagiaan yang dirasakan saat pertunangan, juga hari-hari setelah pertunangan, hingga ke momen pernikahan. Kami juga bercerita tentang mereka yang mewakili keluarga Flores di momen pertunangan kami.

Foto bersama usai prosesi lamaran, bersama keluarga Om Stef dan Kak John, Denny dan Astry, Puhsarang (25/2/2017) | Dok. marselgunas.com


Flashback Pertunangan

Jelang Natal 2016, Sheila dan saya sempat berdebat cukup lama saat rencana untuk menaikan status hubungan kami dari ‘masa pacaran’ ke ‘pertunangan’ perlahan-lahan dibahas secara serius. Perdebatan itu lebih diarahkan kepada beberapa hal, antara lain kesungguhan, kesiapan dan dukungan keluarga.

Kesungguhan mempertanyakan keseriusan dan komitmen, termasuk berbagai alasan di dalamnya. Kesungguhan tidak sekedar pernyataan “saya sungguh-sungguh ingin bertunangan”.

Kesungguhan juga merupakan penjelasan utuh dan jujur tentang siapa kami selama ini, latar belakang kami, keluarga kami, termasuk hal khusus tertentu yang masih belum diketahui secara lengkap – rahasia hidup yang kerap disembunyikan selama masih menjalani masa pacaran.



Dalam perdebatan itu, ada semacam pertukaran narasi pribadi, dan sederet pengakuan yang terucap secara jujur. Bagi kami, hal itu perlu dan penting, demi terhapusnya perdebatan-perdebatan yang lebih mengarah ke konflik personal di kemudian hari.

Lalu, soal kesiapan. Kesiapan menguji tingkat kematangan rencana yang telah dikantongi sejak sebelum perdebatan itu terjadi. Kesiapan melapangkan kesempatan untuk memeriksa sejauh mana rencana-rencana yang ada dapat meyakinkan kedua orang tua kami untuk merestui dan memberikan tambahan perbaikan dan saran terhadap rencana – rencana itu.

Mendebatkan kesiapan, bagi kami, adalah merencanakan kebutuhan, estimasi biaya, prosesi acara, dan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.

Dari perdebatan, tukar tambah refleksi dan narasi tentang kesiapan itu, kami tiba pada kesimpulan bahwa kami hanya percaya diri untuk siap bertunangan. Restu kedua orang tua lah yang menyempurnakan kesiapan itu.

Lalu kami tiba pada diskusi yang lebih serius dengan kesepakatan tak saling menyela: berkaitan dengan dukungan dan restu orang tua.

“Saya ingin jelaskan dulu pembicaraan saya dengan pihak keluarga di Borong waktu pulang kemarin,” begitu saya memulai perbincangan itu, dan Sheila hanya mengangguk setuju.

Agustus 2016, saya pulang untuk mengikuti resepsi pernikahan saudari saya, Maria Suryani Gunas. Semua keluarga hadir di acara pernikahan itu.

Foto bersama Om Luis dan Tanta Itha (keduanya mantan aktivis PMKRI Cabang Surabaya St. Lukas) usai proses lamaran | Dok. marselgunas.com


Sang Maestro Keluarga, Bapa Pius Gunas masih sehat dan ceria saat itu, naka wai anak molasn, Enu Yen! Keluarga Mano, keluarga Om Fan, hadir lengkap, penuh kebahagiaan, naka laki anak reba’d, Om Fan!

Usai seluruh rangkaian acara resepsi pernikahan Yen – begitu Maria Suryani biasa kami sapa di rumah – itu, saya mengajak beberapa keluarga di rumah untuk berdiskusi dan secara resmi menyampaikan rencana dan niat saya untuk segera melamar Sheila.



Keluarga di Borong sebenarnya telah mengenal Sheila, meski tak pernah bersua. Hanya berkomunikasi via telepon. Kepada mereka, berbagai hal yang telah saya ketahui tentang Sheila termasuk tentang hubungan saya dengan pihak keluarga di Kediri, dijelaskan secara terang. Runtut. Ujung dari diskusi malam itu di rumah, saya meminta restu sekaligus meminta saran dari keluarga untuk rencana ‘berkunjung’ ke Kediri itu nantinya.

“Lalu, waktu itu, Bapa dan Mama bilang, mereka setuju. Tapi tidak tahun ini (tahun 2016). Bapa dan Mama beralasan, kurang elok kalau dalam setahun ada dua anak dari satu keluarga yang menikah. Bukan pamali, tapi dirasakan seperti kurang elok begitu lah,” saya menjelaskan ke Sheila dengan nada pelan. Sheila mengangguk lagi.

“Tapi kalau tahun depan, Bapa dan Mama bilang okay,” saya melanjutkan.

Sheila menerima penjelasan itu. Dia berterima kasih karena pembicaraan di Borong tak mengusik apa yang telah kami singgung sebelumnya, khususnya terkait target waktu pertunangan akan digelar. Penjelasan itu akan dia sampaikan ke keluarga di Kediri. Dan selanjutnya akan diputuskan waktu yang tepat untuk menggelar acara pertunangan.

Sheila bilang, jawaban dari keluarga di Kediri akan dibicarakan secara khusus nanti, saat kami merayakan Natal di Kediri.

“Siap,” saya menjawab singkat.

Begitulah kira-kira cerita tentang upaya memastikan dukungan dan restu orang tua sebelum pertunangan kami, tahun lalu. Hingga pada 25 Februari 2017, kami resmi bertunangan di Puhsarang, Kediri. Kami mengakui, tanpa dukungan kedua keluarga besar, tentu pertunangan itu tak terselenggara sesuai rencana.

Hari Pertunangan: Perwakilan Keluarga Flores

Di hari pertunangan, keluarga saya dari Borong, Flores, tak hadir di Kediri. Keluarga Flores diwakili oleh Kakak sepupu saya, ‘Kak John’ yang kini tinggal di Denpasar, Bali. Selain Kak John, keluarga Flores juga diwakili oleh Om Stefanus, saudara sepupu Ibu saya yang kini tinggal di Surabaya.

Kak John dan Om Stef statusnya sama: perantauan Manggarai, Flores, yang menikah dengan wanita Jawa. Istri Kak John orang Ngawi, dan istri Om Stef, Tanta Lenny, orang Tuban.

Selain keduanya, yang mewakili keluarga besar Flores juga adalah Denny dan Astry. Denny adalah saudara sepupu saya, anak dari saudara sulung ibu di Jawang, Om Mateus. Dan Astry adalah saudari bungsu saya. Denny sedang mengenyam pendidikan tinggi di salah satu universitas di Malang. Astry sedang menyelesaikan studi di Universitas Katolik Widya Mandala Madiun.

Keluarga Flores juga diwakili Om Luis dan Tanta Itha. Keduanya adalah saudara dan saudari kami di PMKRI Cabang Surabaya. Kalau dirunut secara serius, seharusnya Om Luis dan Tanta Itha duduk mewakili keluarga Sheila. Sebab, mereka berasal dari PMKRI Cabang di regio yang sama, di wilayah Komda III. He he.. Tapi, begitulah, setelah beberapa negoisasi khusus (#ehh), mereka berhasil saya bujuk masuk di barisan keluarga Flores. Wkwkwkwk

Terakhir, yang mewakili keluarga Flores adalah dua wanita bersahaja yang telah saya anggap sebagai saudari di perantauan, Jakarta: Sicilia Glory dan Citra Fitri Mardiana. Sicil dan Citra, begitu nama sapaan keduanya, adalah rekan sekantor saya di Jitunews.com. Citra adalah reporter untuk desk energi dan Sicil adalah seorang social media strategist, salah satu anggota Tim Digital Strategis Jitunews.

Foto bersama Sicil dan Citra usai proses lamaran di Puhsarang, 25/2/2017 | Dok. marselgunas.com


Prosesi pertunangan diawali dengan acara lamaran. Om Stef menjadi juru bicara utama mewakili keluarga Flores – tampil dengan sungguh membanggakan karena sebagian percakapan selama lamaran diungkapkan dalam Bahasa Jawa. Om Stef memang sudah fasih berbahasa Jawa.

Satu hal yang sungguh membanggakan – setidaknya untuk saya pribadi - bahwa acara lamaran yang dikemas dalam tradisi Jawa – dengan sedikit bumbu tradisi Katolik – itu berjalan lancar meski kami, keluarga Flores, berada dan diterima di tengah lingkungan keluarga besar Kediri yang sebagian besar berbeda keyakinan. Mayoritas keluarga Sheila di Kediri secara taat memeluk Islam sejak dulu. Acara lamaran dilanjutkan dengan ibadat pertunangan, dipimpin oleh dua Katekis Senior di Puhsarang, Bpk. Daniel Parwoto dan Ibu Kasri Evayanti.

Begitulah kira-kira catatan singkat ini lahir, kemarin, setelah kami bernostalgia tentang momen pertunangan kami setahun silam. Doa kami, semoga semua keluarga dan sahabat yang telah mendukung kami senantiasa dilimpahi kesuksesan dalam berkarya di waktu-waktu selanjutnya.

Tabe - Marcell & Sheila
Flashback Pertunangan: Mereka yang Mewakili Keluarga Flores Flashback Pertunangan: Mereka yang Mewakili Keluarga Flores Reviewed by Om Marcell on Senin, Februari 26, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.