"Nana Pelucas" dan Melawan Kejahatan Lewat Jalur Media Sosial

Baca Juga

Seorang YouTuber Mexico, "La Nana Pelucas" tewas terbunuh dua pekan lalu di Kawasan Pantai Acapulco, Mexico. Pelucas diduga dibunuh oleh sebuah kelompok jaringan kartel narkoba. Berbagai situs berita di Mexico termasuk media internasional menyebut Pelucas dibunuh lantaran videonya telah berhasil membuka informasi tentang kejahatan kartel narkoba di Mexico.

"Nana Pelucas" dan Melawan Kejahatan Lewat Jalur Media Sosial
YouTuber Mexico Leslie Ann Pamela Montenegro alias La Nana Pelucas | Foto: Youtube

Associated Press (AP) dalam laporannya menyebut wanita yang kerap tampil di YouTube dengan wig dan kacamata besar itu dibunuh oleh sebuah kelompok yang pemimpinnya baru saja berpisah dari 'Independent Cartel of Acapulco', sebuah jaringan kartel narkoba di Mexico.


Mereka tersinggung dan marah karena Nana Pelucas mendiskusikan aktivitas mereka dalam video YouTube-nya. Penembakan Pelucas terjadi pada Senin (5/2/2018). Menurut jaksa setempat, Nana Pelucas telah mengecewakan kartel tersebut karena mendiskusikan aktivitas mereka dalam videonya.

***
Pertama, saya dan blog marselgunas.com mengucapkan turut berduka cita atas kematian Pelucas. Teriring doa dan harapan semoga Tuhan Yang Maha Kuasa menerima arwah Pelucas, dan memperkenankannya berbahagia bersama Para Kudus di Sorga.

Kedua, peristiwa maut yang menimpa Pelucas meninggalkan pesan dan kesan tersendiri. Betapa tidak, Pelucas yang seorang blogger sekaligus YouTuber aktif, secara berani memanfaatkan media sosial sebagai media pengungkapan praktik kejahatan narkoba di negaranya. Ini tidak main-main.

“La Nana Pelucas” memiliki saluran di YouTube, yang disebut El Sill√≥n Tv, yang digunakannya untuk mewawancarai pejabat publik dan menyuarakan sikap politiknya. Pelucas memang cukup dikenal sebagai social media activist. Dia adalah anggota Club de Periodistas de Guerrero, sekelompok reporter blog dan media sosial yang kerap mencakapkan korupsi politik, kejahatan terorganisir dan kriminalitas di Guerrero dan khususnya Acapulco.

Perempuan bernama lengkap Leslie Ann Pamela Montenegro itu merupakan social media influencer kedua yang terbunuh oleh kartel narkoba. Pada bulan Desember tahun lalu, YouTuber berusia 17 tahun bernama Juan Luis Laguna Rosales juga dilaporkan tewas terbunuh setelah mengunggah sebuah video di mana dia mengatakan seorang pemimpin geng terkenal bernama El Mencho "dapat menyedot penisku". Rosales ditemukan tewas ditembak dengan lebih dari selusin peluru lubang di tubuhnya.

Apa motif Pelucas dan Rosales? Okay, kita bisa berandai-andai yang tentunya berangkat dari profil mereka secara utuh. Bagi saya, ada satu bahan diskusi yang terungkap dari apa yang mereka lakukan. Bahwa mereka secara berani menentang praktik peredaran narkoba di negaranya melalui media sosialnya.

Lalu, mengapa Pelucas tak melaporkan saja ke pihak kepolisian setempat? Bukankah akan lebih aman dan menjamin keselamatan dirinya dengan melaporkan praktik itu (jika ia mengetahui) ke pihak kepolisian?

Atau, oke-lah. Pakai pilihan lain: pendekatan ke media massa setempat dan memberikan data dan informasi yang dia miliki untuk dipublikasikan via media massa—sebut saja jika ia melibatkan pihak kepolisian, dia akan terlibat dalam urusan hukum sebagai saksi atau sebagai pelapor, dan sebagainya.

Internet Activism

Jika dilihat dari profil singkat dan modus operandi dalam peristiwa Pelucas dan Rosales, kita bisa mengetahui bahwa keduanya merupakan bagian dari kelompok aktivis sosial media global yang kerap dikenal sebagai social media activist.

Mereka adalah kelompok pro perubahan sosial yang bergerak di jalur dunia maya untuk menentang ketidakadilan, praktik korupsi, kejahatan kriminal dan pelanggaran HAM di berbagai negara.

Pelucas dan Rosales adalah para pegiat internet activism atau dalam banyak istilah lain disebut sebagai digital activism, cyberactivism, alias e-activism (seiring waktu muncul banyak istilah lain yang memiliki makna yang sama, seperti hashtagism alias hashtag activism).



Banyak yang bilang, sebagian besar pegiat cyberactivism adalah kelompok humanis, bukan anarkis. Mereka menutup ruang konfrontasi dengan sesama warga negara. Mereka lebih cenderung tampil sebagai pengkritik di dunia maya, menentang kebijakan negara dan otoritas tertentu yang mengabaikan Hak Asasi Manusia (HAM) dan keadilan sosial. Mereka anti korupsi.

Dalam kasus Pelucas dan Rosales, keduanya sama-sama sedang menyuarakan kegerahan mereka terhadap praktik peredaran narkoba di wilayah mereka. Menariknya, perjuangan itu tidak mereka tempuh via jalur kepolisian atau pemerintahan; dengan audiensi, dengan tatap muka, dengan demo di Istana Presiden. Mereka mengunggah video dan secara terang benderang mengungkap berbagai indikasi praktik peredaran narkoba.

Tentu saja bandar narkoba marah! Sebab, apa yang diumbar para YouTuber itu akan mengganggu bisnis mereka. Bisa juga karena takut akan sindikasi narkoba yang melibatkan aparatur negara—bukankah sudah menjadi rahasia umum jika praktik peredaran narkoba di satu negara turut melibatkan aparat, bahkan pemimpin negara?—terungkap dan diketahui publik, lalu mereka akan dikecam dunia.

***
Cara Pelucas dan Rosales menggunakan media sosial mungkin sebaiknya diadopsi menjadi cara kita bermedia sosial. Bullying dan serangan personal berkedok ujaran kebencian (hate speech) terhadap sesama anak bangsa sudah saatnya dihentikan. Lebih bagus jika ‘hate speech’ itu ditujukan kepada praktik busuk yang dikendalikan penguasa otoritas tertentu, termasuk pejabat negara, yang melanggengkan korupsi, pelanggaran HAM, pengambilan hak-hak sipil secara paksa, penyiksaan, human trafficking, peredaran narkoba, dan krisis sumber daya alam. Kita jauhi berbagai cemooh busuk atas nama agama, tapi kita kampanyekan solidaritas sosial.

Anyway, media sosial itu juga menjanjikan keuntungan, lho. Sudah banyak kisah sukses yang datang dari pemanfaatan media sosial sebagai media bisnis. He he..

Selamat pagi!


Tabe - Marsel Gunas
"Nana Pelucas" dan Melawan Kejahatan Lewat Jalur Media Sosial "Nana Pelucas" dan Melawan Kejahatan Lewat Jalur Media Sosial Reviewed by Om Marcell on Selasa, Februari 20, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.