Hari Dongeng Sedunia: Kapan Ayah Mendongeng Lagi?

Baca Juga

Hari ini kita memperingati Hari Dongeng Sedunia (World Storytelling Day). Apa yang kita ingat dari dunia dongeng? Di benak kita, tentu saja kita memiliki selangit kesan dan imajinasi tentang dongeng. Mungkin tentang pendongeng, mungkin tentang kisah-kisah yang didongengkan, semua pasti ada di sana.


Hari Dongeng Sedunia: Kapan Ayah Mendongeng Lagi?
Dalam gambar: Dewa, sedang mengenakan busana penari Caci | Foto: Facebook Yosephina Utami


Saya percaya satu hal, kisah-kisah terkuat adalah kisah-kisah dari masa lalu kita. Dongeng telah bertahan dari generasi ke generasi, dan akan diceritakan oleh orang lain sebagai upaya untuk menjelaskan dunia di sekitar mereka.

Tentang dongeng, saya ingat almahrum ayah, Bapa Pius Gunas, maestro keluarga yang telah ‘pergi’ itu. Bagi saya, dia adalah pendongeng berbakat. Di tiap malam sebelum tidur, sambil berbaring di samping saya, ayah kerap mendongeng. Banyak kisah seru, unik, fiktif tapi menghibur yang keluar dari mulutnya saat ia mulai mendongeng. Dari kisah Pondik, Kerbau dan Ntung, Burung Beo Bidadari, Si Buta dan Si Lumpuh, hingga cerita Manusia Batu di Sanonggoang didongengkan dengan apik. Waktu itu saya masih anak-anak, bahkan belum disekolahkan di TKK Pancasila Borong.

Cerita-cerita itu juga masih didongengkan ayah untuk dua saudarai saya, Maria Suryani Gunas dan Natalia Delastry Gunas. Cerita yang sama disajikan dengan diksi yang menghibur, dan cara bertutur yang khas. Tidak jarang, saat ayah mendongeng, kami sudah terlelap, hanyut dalam kantuk. Ah, ayah! Kapan mendongeng lagi?

Dongeng – Mendongeng: Hari Dongeng Sedunia


Kalian tentu punya pengalaman unik dalam urusan "dongeng" dan "mendongeng". Entah itu pengalaman saat menjadi pendengar, maupun pengalaman menjadi pendongeng, semuanya tentu berkesan dan membekas dalam ingatan tentang perjalanan hidup kalian.

Mendongeng adalah seni untuk menarasikan kisah-kisah tertentu dengan cara yang menghibur. It is something fun (santai). Dongeng mirip dengan mitos dan legenda. Dongeng dituturkan dalam bahasa yang tidak terlalu rumit, juga tidak resmi



Dalam dunia sastra, dongeng masuk dalam kategori sastra lama yang bercerita tentang kejadian tertentu yang dianggap luar biasa, lucu, dan unik, dan disajikan dengan gaya fiksi, juga dapat diartikan sebagai cerita dikisahkan secara turun-temurun.

Dongeng membangun kedekatan emosional antara pendengar dan pendongeng. Itulah mengapa dongeng dengan sangat mudah diingat kembali di masa depan. Lebih dari itu, dongeng selalu, secara implisit, memiliki pesan-pesan moral yang berguna bagi para pendengar.

Dongeng bisa disebut sebagai bagian dari kebudayaan manusia. Sebagai bagian dari kebudayaan manusia, dongeng harus terus dituturkan kepada generasi-generasi berikutnya. Dongeng bukan sekedar hadir demi mengisi ruang dialog pengantar tidur antara ayah dan anak, tetapi menjadi tradisi yang harus dilestarikan. Jika tak harus, sebaiknya dilestarikan.

Maka, jadilah petang dan pagi, eh…maka, tidak lah terlalu berlebihan jika di Swedia, pada tanggal 20 Maret 1991, digelar sebuah acara “All Storytellers Day” atau yang dikenal dengan “Alla Berättares Dag”, cikal bakal Hari Dongeng Sedunia yang kita rayakan hari ini.

Acara itu kemudian menyebar ke seluruh dunia,di Eropa, Australia, Asia, beberapa negara Amerika Latin, membangkitkan geliat para pegiat sastra untuk secara serius merawat dan meneruskan tradisi mendongeng. Hasilnya, di Australia pada 1997, pernah digelar “Celebration of Story” selama lima pekan. Di Meksiko dan sejumlah negara Amerika Latin, mulai ada gerakan untuk menetapkan sekaligus memperingati Hari Dongeng Nasional.

Di tiap perayaan Hari Dongeng Sedunia, selalu ada tema tertentu yang disepakati oleh pendongeng dari seluruh dunia. Misalnya, pada tahun 2015, peringatan Hari Dongeng Sedunia dikemas dalam tema "Wishes." Pada tahun 2016, temanya adalah "Strong Women." Dan pada tahun 2018 ini temanya adalah "Wise Fools."



Di Indonesia, peringatan Hari Dongeng Nasional jatuh pada tanggal 28 November. Penentuan tanggal peringatan Hari Dongeng Nasional mengambil hari kelahiran Suyadi atau yang lebih dikenal dengan nama Pak Raden, salah satu pendongeng terkenal di Indonesia.

Peringatan Hari Dongeng itu tentu bukan sekedar pengakuan atas besarnya pengaruh tradisi dongeng dalam dinamika kebudayaan manusia. Lebih dari itu, Peringatan Hari Dongeng dititikberatkan pada upaya merawat tradisi bertutur tentang berbagai fenomena kehidupan manusia. Di sana, ada dialog dan penanaman nilai-nilai kebaikan universal bagi generasi penerus.

Atas dasar penjelasan tak sesuai kriteria berdongeng itu, izinkan saya mengapresiasi berbagai komunitas muda yang, melalui kegiatan di komunitasnya, terus mempertahankan tradisi “mendongeng” di sela-sela kesibukannya menghadapi kemudahan mendapatkan informasi dan koneksi sosial di ruang maya. Teruslah mendongeng, teman-teman!

Untuk ayah, semoga selalu jadi pendongeng yang hebat di alam sana. Berdongenglah pada Yohanes sebelum dia terlelap. Kami merindukan kalian.

Tabe

Hari Dongeng Sedunia: Kapan Ayah Mendongeng Lagi? Hari Dongeng Sedunia: Kapan Ayah Mendongeng Lagi? Reviewed by Om Marcell on Selasa, Maret 20, 2018 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.