Tukang Misi di Flores (I)

Baca Juga

Saya selalu senang mendalami diskusi-diskusi dengan tema yang berkaitan dengan judul catatan ini; Tukang Misi di Flores. Apa yang diulas dalam diskusi-diskusi itu, baik yang berbentuk kritik maupun sekedar puja-puji, akan selalu menguatkan ingatan kami tentang kiprah dan perjalanan kehidupan ayah. Dan kami bangga padanya.

Tidak ada alasan khusus menjadikan tema ini sebagai catatan di blog ini. Apalagi untuk tujuan membagi perpektif ilmiah tentang ‘tukang misi’ di Flores, setidaknya dari sudut pandang sosiologi agama Katolik dan segala latar belakang historisnya.




Catatan ini dibuat sekedar sebagai, pertama; bentuk penghormatan atas jasa-jasa para tukang (tukang kayu dan tukang batu) jebolan Ambaks Skul Ruteng dalam membangun ‘gereja lokal’ di seluruh wilayah Flores. Kedua, sebagai penghargaan bagi jasa-jasa ayah – sebagai tukang multitalenta – selama berkarya di berbagai pelosok Flores, khususnya karya-karyanya bagi keluarga.

Bapa Pius Gunas (berbaju putih dan duduk di atas batu bersama Pater Stanislaus Wiparlo, SVD (berbaju putih dan bertopi putih) saat berpatroli ke stasi Warat, Paroki Borong berpose bersama anak-anak di Stasi Warat. | Foto: Dokumentasi keluarga

Sekolah Misi: Sekolah Kehidupan

Saya membayangkan lembaga ‘pendidikan misi’ dulu adalah lembaga pendidikan super mewah dan mahal. Itu hipotesa saya setelah merefleksikan perjalanan kehidupan ayah yang – bagi kami, anak-anaknya, – telah menghasilkan berbagai karya yang menakjubkan.

Kalau ditanya kenapa ayah bisa sehebat itu, pastilah kami menjawab karena ayah adalah “jebolan sekolah misi.” Jawaban sepintas tanpa ada basis pendasaran teoritisnya, juga minim referensi berbasis dokumentasi buku dan gambar yang diperoleh. Kami mengenal ‘sekolah misi’ dari cerita-cerita ayah tentang pengalaman hidup, masa mudanya, dan kiprahnya yang tidak terlalu jauh dari kehidupan misi.




Cerita-cerita itu kerap tersaji dengan runtut dan enak didengar: tentang pendidikan di ‘sekolah misi’ di Ruteng, tentang keuletan, kedisiplinan, manajemen diri, tentang spiritualitas kekatolikan, tentang pemuliaan terhadap sesama manusia, juga tentang ketekunannya dalam belajar.

Sampailah saya pada istilah “tukang misi”. Umumnya, istilah tukang misi adalah istilah yang merujuk pada orang yang memiliki kemampuan atau keahlian khusus setelah tamat dari Ambaks Skul Ruteng, sebuah sekolah yang lebih sering dikenal sebagai ‘Sekolah Pertukangan’, meski ada bidang keahlian lain di dalamnya.

Ayah saya dulu sekolah di situ, dan mengambil jurusan pertukangan. Memang, menurut ayah, tidak salah juga ketika banyak orang menyebut Ambaks Skul sebagai sekolah pertukangan. Sebab mayoritas yang masuk Ambaks Skul mengambil jurusan pertukangan, daripada jurusan mesin (sebutan untuk jurusan otomotif). 

Dalam beberapa cerita ayah – baik yang disajikan melalui obrolan santai maupun nasihat serius saat membina kami – disebutkan bahwa, baginya, di sekolah misi, transfer ilmu pengetahuan berjalan seiring dengan pembentukan karakter dan moral para siswa. Disiplin sangat ditekankan.

Metode pengajarannya sederhana: praktik lebih banyak dari teori. Maksudnya, alokasi waktu praktik di bengkel lebih banyak dari waktu pelajaran berbasis teks di ruang kelas. Dan pada alokasi waktu penjabaran teks pelajaran yang amat pendek itu, murid harus mampu secara cepat menangkap dan memahami inti dari materi pelajaran. Jika tidak, praktik di bengkel sudah dipastikan akan salah.

“Tiap hari kecuali Hari Minggu kami begitu,” kata ayah, dulu. Biasanya dia ungkapkan dengan suara agak keras dan raut wajah serius.

Dialog dalam pertemuan antara guru dengan siswa juga terjadi di asrama. Di asrama, ada pembinaan karakter. Bentuknya seperti pembinaan rohani, berdoa bersama, dan evaluasi perilaku.

Singkat cerita, dari lingkungan itu, ayah belajar banyak hal. Terutama dalam cara berpikir dan laku adab dengan sesama. Karena itulah, ayah kerap mengistilahkan sekolah misi sebagai sekolah kehidupan. 

Saya sendiri belum mendalami, bagaimana istilah itu menjadi semacam kesimpulan atas pengalaman hidupnya selama di ‘sekolah misi’. Mungkin saja ayah salah menyimpulkan. Atau bisa saja salah memaknai setiap peristiwa kehidupannya di ‘dunia misi’. 

Tapi, satu hal yang pasti, kesimpulan itu tidak datang dengan sendirinya atau hanya sekedar cuap-cuap saat membagikan pengalaman hidupnya kepada kami sekeluarga. Konon, kata ayah, usai menamatkan pendidikan di Ambaks Skul,  mereka di kirim ke berbagai paroki di pelosok Flores. Ada yang ditempatkan menjadi sopir pribadi Pastor Paroki, misionaris yang bertugas di Paroki tertentu, ada yang menjadi guru (guru pertukangan), ada yang menjadi karyawan di pastoran-pastoran, dan sebagainya.

Blasius Mengkaka, dalam tulisannya Mengenang Jasa Para Karyawan/i Misi di Nusra, Sangat Ulet Tetapi Dilupakan, sedikit banyak menyinggung hal itu. Menurut Blasius, usai ‘dididik misi’, mereka dikembalikan ke keluarga masing-masing. Namun tak sedikit pula yang kemudian dimintakan untuk bekerja sebagai karyawan/i misi di lingkungan biara-biara atau gereja-gereja Katolik.

Tulisan yang lahir dari pengalaman pribadinya itu menghasilkan sebuah penegasan yang dibungkusnya dalam ungkapan; “Luar Biasa”.

“Luar biasa. Itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kinerja para karyawan/i bagi Gereja. Kalau Gereja adalah kita (para beriman kristen) maka mereka adalah para pemilik Gereja itu sendiri.” demikian Blasius.

Blasius bahkan secara berani menegaskan bahwa kemajuan Gereja di Flores tak bisa dipisahkan dari jasa dan kontribusi para karyawan/ti jebolan misi. 

“Mereka ibarat benih yang jatuh di tanah yang subur, ikut berbuah dan membuat Gereja di Nusra berkembang hingga sat ini. Sejak misi gereja Katolik mulai menginjakkan kakinya di Nusa Tenggara, banyak kaum pribumi Nusa Tenggara yang direkrut untuk bekerja di biara-biara dan pastoran Katolik,” tulis Blasius. Tulisan Blasius itu diunggahnya melalui webblog kompasiana, 2 Mei 2014.

Meski masih dibaluti penuh tanya, sejauh ini saya yakin; istilah sekolah kehidupan yang disampaikan ayah, dulu, bukanlah sebuah istilah tanpa makna yang mendalam. Setidaknya jika ditakar berdasarkan proses pendampingan hingga pendistribusian para tukang misi itu – termasuk ayah – ke berbagai wilayah di Flores.

Soal Paradigma “Misi” Gereja di Flores 

Pada dasarnya, kehadiran kehadiran ‘sekolah misi’ di Ruteng tidak dapat dilepaskan dari sejarah masuknya misionaris Eropa ke Indonesia pada umumnya, dan Flores khususnya. Kehadiran para misionaris ke tanah Flores berkaitan erat dengan misi Gereja universal atau apa yang dulu dikenal dengan Missio Dei

Pastor Wilhelm Djulei Conterius, dalam tulisan berjudul “Tugas Misioner Gereja dan Kerasulan Awam”  dalam Rancang Bersama Awam dan Klerus (2006) – menyebutkan bahwa Gereja dibentuk dan didirikan dalam rangka Missio Dei itu, yaitu dalam rangka usaha Allah untuk membarui, membelokan arus dan arah perkembangan dunia. 

Sebab itu, dengan tegas Dekrit tentang Karya Misioner Ad Gentes menyatakan bahwa Gereja yang lahir dari perutusan Putra dan Roh Allah itu sesuai dengan hakikatnya bersifat missioner.  “Pada hakikatnya Gereja penziarah bersifat missioner, sebab berasal dari perutusan Putra dan Roh Kudus menurut rencana Allah Bapa” (AG 2).

Menurut Pastor Djulei, dalam perspektif teologis, kata “misi” dapat diartikan sebagai penyebaran iman, penyebarluasan Kerajaan Allah, pentobatan kaum bukan Kristen, dan pembentukan jemaat-jemaat baru. 

Namun, semua arti itu menjadi biasa sejak kira-kira berdirinya Serikat Yesus (SJ) pada abad ke-16. Kata “misi” kemudian mulai dipakai sejak abad ekspansi kultural, politis dan ekonomi Eropa ke seluruh dunia.

Pastor Dr.George Kirchberger, dalam bukunya Misi Gereja Dewasa Ini (1999) menulis, gagasan dan kata “misi” diwarnai oleh aspek geografis, misi merupakan usaha untuk pergi ke tanah yang jauh kepada bangsa yang belum mengenal Kristus.

Misi itu dijalankan di bawah wewenang Paus, secara konkret diatur dan dipimpin oleh Kongregasi untuk Penyebaran Iman (Propaganda Fidei), oleh tarekat-tarekat  yang secara khusus mengabadikan diri bagi tugas penyebaran iman kristiani.




Seiring waktu, berbagai pandangan umum tentang ‘misi’ di atas akhirnya ditinggalkan pasca Konsili Vatikan II. Dokumen kepausan sejak konsili itu meninggalkan paradigma ‘misi’ sebagai kegiatan yang ditangani oleh sejumlah terekat missioner di bawah koordinasi dan wewenang pimpinan Gereja Katolik di Roma serta pengertian geografis, sebagaimana yang dijelaskan di atas. 

Bahwa seluruh Gereja pada hakikatnya bersifat misioner dan karena itu, mau tak mau tugas misioner menyangkut seluruh umat, segenap Gereja dalam segala lapisan dan golongannya. Singkatnya, seluruh umat Katolik merupakan pelaku misi katolik, karena misi katolik itu tidak lain tidak bukan adalah gaya hidup kristiani.

Misi dimengerti sebagai inti hakikat Gereja dan harus dijalankan oleh semua anggota Gereja, baik perorangan maupun sebagai persekutuan dengan menghayati iman dalam suatu gaya hidup yang dibarui oleh Injil Yesus Kristus dan daya Roh Kudus.

Dan…

Kerja ayah dan tukang misi lainnya di Flores masuk dan tumbuh dalam agenda dan misi Gereja itu. Dididik dengan ilmu pengetahuan, dihebatkan kemampuannya, dikuatkan kepribadiannya, dikokohkan kedisiplinannya, lalu setelah mantap dilepas ke ladang pengabdian. Begitulah!

NB:
Untuk beberapa informasi dan keterangan, entah berdasarkan sumber bacaan tertentu atau pengalaman langsung yang berkaitan erat dengan tema ini, silahkan dilampirkan di kolom komentar di bawah ini. Apa yang ditambahkan atau dikoreksi, akan menjadi bahan penulisan tentang tema yang sama di lain kesempatan. Terimakasih sebelumnya.

Tabe
Tukang Misi di Flores (I) Tukang Misi di Flores (I) Reviewed by Om Marcell on Selasa, Maret 06, 2018 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.