Pesan dari Bali: Jawaban untuk #2019GantiSuami

Baca Juga

Tanta Atra Senudin, begitu saya biasa menyapanya, mengirimkan catatannya untuk saya. Catatan itu dia bagikan untuk menjawab permintaan saya via media sosial Facebook menyusul unggahan iseng saya kemarin tentang tagar #2019GantiSuami. Ini pesan dari Bali untuk saya, referensi tambahan dalam menjalani masa penantian akan kelahiran buah hati pertama kami. Bagaimana pesan dari Bali: jawaban untuk #2019GantiSuami ini lahir, akan saya ulas di bagian khusus setelah catatan ini.



Catatan Ringan untuk Calon Orangtua

By: Atra Senudin

Bagi pasangan muda, kehamilan dan kelahiran bayi pertama adalah berkah. Kegembiraan penantian dan kehadiran si buah hati sejalan dengan kecemasan tentang tanggung jawab membesarkannya (kesiapan mental dan ekonomi, tentunya). Kondisi ini seringkali membuat si pasangan muda terjebak untuk membagi peran; si ibu bertanggung jawab terhadap keselamatan si calon bayi dan si bapak bertanggung jawab terhadap kebutuhan material (ekonomi). Pembagian peran ini tentu baik. Artinya calon orang tua siap bertanggung jawab atas kelangsungan hidup si bayi.


Jika digambarkan, peran kedua orang tua bukanlah dua buah garis yang disejajarkan. Peran ini membentuk sebuah lingkaran. Tidak ada batas, tetapi saling menyatu. Dan pada lingkaran itu (khusus pada proses kehamilan), titik ordinatnya adalah si ibu.

Pada proses kehamilan, kondisi psikologis sang ibu sangat penting di atas segalanya. Sebab ia bertanggung jawab terhadap keadaan si buah hati, maka ia menjadi keutamaan. Menjaga suasana hati si calon ibu sangatlah penting. Di tahap ini, selucu-lucunya kamu sebagai calon bapak, jagalah suasana hati ibu dari anakmu dengan baik. Anakmu akan merasakan getaran kegembiraan sekaligus kesedihan ibunya. Kelak, percaya atau tidak, getaran ini berpengaruh pada proses tumbuh kembang si anak.

Lalu apa yang perlu dilakukan si calon bapak pada masa kehamilan dan jelang kelahiran?

Pertama, wajib memberikan pujian terhadap setiap perubahan bentuk tubuhnya selama hamil dan setelah melahirkan. Gampang, bukan?? Sebagian perempuan akan merasa terganggu ketika mendapati tubuhnya dalam bentuk yang tidak ideal alias kian mengembang. Padahal saat sedang hamil penambahan berat badan merupakan hal baik dan wajar. Betapa penilaian-penilaian tentang cantik (langsing) telah merusak kesadaran banyak perempuan.

Kedua, jadilah obat penenang bagi si calon ibu. Pada masa kehamilan seorang perempuan sangat mudah cemas dan panik. Apalagi pada kehamilan pertama. Kurangnya pengetahuan membuat si ibu selalu merasa takut. Melahirkan itu rasanya sakit. Yakinkan si calon ibu bahwa ia adalah perempuan hebat yang pasti bisa melewati itu dengan baik.

Ketiga, pada awal kelahiran tetaplah memberi perhatian pada istrimu. Meskipun sang bayi juga membutuhkan perhatian, si ibu juga demikian. Tidak ada yang utama sekaligus tak ada yang harus diabaikan. Ucapkan terimakasih padanya setiap pagi, dan jangan lupa untuk selalu bilang bahwa ia tetap cantik.

Keempat, pahamilah bahwa istrimu baru saja berjuang melawan sakit. Jadi, kerjakan apa yang seharusnya menjadi tanggung jawab istrimu. Mengganti popok, memandikan bayi, memasak, dll. Jika istrimu melihat engkau mengerjakan itu, percayalah istrimu akan cepat pulih.

Kelima, dampingilah istrimu ketika ia berjuang melahirkan anakmu. Dengan menyaksikannya secara langsung maka kasihmu terhadap ibumu, istrimu, dan anakmu bertambah-tambah kelimpahannya.

Demikianlah, poin-poin di atas tak ada apa-apanya jika hanya dibiarkan sebagai sebuah genangan aksara. Akan menjadi baik ketika engkau mulai melakoninya. Sakitnya mengandung dan melahirkan tak akan mampu diimajinasikan oleh siapapun.

Selamat menantikan kelahiran sang buah cinta, kae Marcell dan mbak Sheila..

***

Tentang Mengapa Catatan Ini Muncul di Blog

Sebuah pesan singkat mendarat di handphone saya pagi tadi. Pesan itu dikirim sang istri, Sheila Romana dari Kediri, kota kelahirannya. Soal mengapa Sheila kini ada di Kediri sudah saya ceritakan di catatan sebelumnya; "Pindah Kota (5)". Isi pesan itu cukup aneh, tak seperti pesan-pesan lain yang dia kirimkan pada pagi sebelumnya. Jika isi pesan sebelumnya "Selamat pagi, dear husband. Jangan lupa sarapan!", kali ini redaksi kalimat pesannya sedikit unik: "Selamat pagi, dear husband! #2019GantiSuami".

"Ole...ini apalagi? Sheila kenapa?" gumamku dalam hati. Apakah Sheila sedang panik lantas memutuskan untuk berupaya mencari pengganti? Semudah itu? Apa maksud tanda pagar (tagar) #2019GantiSuami itu?

Terusterang, isi pesan itu mendadak bikin gelisah campur lucu. Gelisah karena jangan-jangan Sheila benar-benar sedang berupaya mencari pengganti, lucu karena hestek #2019GantiSuami itu mirip hestek politik lawan politik Presiden Joko Widodo, #2019GantiPresiden--kerap diviralkan dalam fase kebingungan mencari tokoh pengganti Jokowi di Pilpres 2019 nanti. Itu! Sejak kapan Sheila masuk dalam jebakan euforia kebingungan politik kerumunan lawan Jokowi itu?



Membalas pesan itu, saya hanya menjawab satu kalimat; "Selamat pagi, dear wife & beloved son. I love you!". Sheila tak memberi balasan lagi. Bahkan untuk menjawab dengan emoticon pun tak dilakukannya. Otomatis perasaan gelisah tadi makin menjadi-jadi, mengunci sisi humornya.

Ah, saya tidak percaya jika pesan itu merupakan gambaran keinginannya untuk mencari pengganti. Pertama karena hubungan kami selama ini baik-baik saja. Tidak ada situasi yang bikin kami saling menebar amarah. Mana mungkin hubungan yang baik-baik saja itu melahirkan keinginan untuk mengganti pasangan? Kedua, saya curiga, Sheila sedang mengajak suaminya untuk diskusi politik, #hashtagpolitik, sebagaimana yang marak didiskusikan akhir-akhir ini di linimasa media sosial.

Ketiga, Sheila sedang merindu. Ya, sama seperti saya juga. Tentu saja latar belakang perasaan rindu itu sama: sebulan sudah kami berpisah. Sheila di Kediri dan saya di Jakarta. Simak ceritanya di Pindah Kota 5 untuk mengetahui alasan mengapa kami tinggal terpisah.

Pesan yang Sheila kirimkan itu saya unggah di timeline Facebook saya seketika itu juga. Maksud hati hanya sekedar bagi-bagi cerita menjawab pertanyaan Facebook; "What is on your mind?", tanpa embel-embel menyindir lawan politik Presiden Jokowi tadi terkait tagar #2019GantiPresiden sebagaimana yang marak akhir-akhir ini.

Unggahan itu ternyata mengundang respon dari para sahabat di Facebook. Tidak sedikit yang bereaksi lucu dan menitipkan haha - hehe di kolom komentar. Tapi, adalah Atra Senudin yang berkomentar berbeda. Semacam memberi penjelasan tambahan tentang latar belakang psikologis dari sikap seorang istri yang tengah mengandung sebagaimana yang ditunjukkan Sheila melalui pesannya itu.

Saya percaya, kesimpulan Tanta Atra bukan tanpa alasan. Jurnalis Pos Bali asal Manggarai Barat, Flores ini adalah ibu satu anak yang tentu saja pernah mengalami ekspresi perasaan tertentu selama ia mengandung. Bisa saja perasaan-perasaan itu berhubungan erat dengan respon atas sikap suaminya atau, juga karena bawaan psikologis seorang ibu hamil (tentang ini, jika ada yang punya penjelasan medis dan psikologis, mohon dibantah dan dikoreksi).

Karena saya percaya komentar Tanta Atra memiliki ya...bisa dibilang semacam 'experencial reasoning', saya pun meminta tips dan trik darinya: hal-hal yang mungkin bisa berguna bagi kami sebagai pasangan baru yang tengah menantikan buah hati pertama. Then, guys, Tanta Atra memang orang baek. Sa su tahu itu sejak lama. Dia bersedia membagikan apa yang saya minta di kolom komentar itu.



Maka jadilah petang dan pagi (Lih. Kitab Kejadian) , upps, maksudnya, maka jadilah catatan singkat dari Tanta Atra itu ditulis dengan rapi dan tanpa rekayasa. Hehe..Saya tak sangsi dengan catatannya ini. Selain karena Tanta Atra sudah mengalami ragam situasi dan kondisi selama masa kehamilan anak pertamanya, juga karena kini sudah jadi istri yang soleha untuk Mas Sulis dan ibu yang bijak untuk anaknya, Tosodimar.

Anyway, soal bagaimana saya kenal dengan Tanta Atra, akan dibahas di tulisan berikutnya. Pastinya, saya belum pernah bersua dengan belio ini. Belio tinggal di Bali.

Terimakasih banyak ge, Tanta Atra. Teriring doa dari kami, semoga Tanta Atra sekeluarga senantiasa dianugerahi kesuksesan dalam berkarya. Amen. Salam ke Bali.

Pesan dari Bali: Jawaban untuk #2019GantiSuami Pesan dari Bali: Jawaban untuk #2019GantiSuami Reviewed by Om Marcell on Sabtu, April 28, 2018 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.