Pindah Kota (5)

Baca Juga

Kembali dengan judul ini: Pindah Kota (bagian kelima). Empat bagian sebelumnya berkisah tentang istri tercinta, Sheila Romana Fransisca yang meninggalkan Blora, Jawa Tengah dan pindah ke Jakarta setelah kami menikah pada 8 Juli 2017. Lalu mengapa pindah kota lagi?

Pindah Kota (5)
Foto: Dok. Sheila Romana

Setelah menikah, kami tinggal di Depok, tepatnya di kawasan Margonda. Layaknya pengantin baru lainnya, kami merencanakan banyak hal yang erat hubungannya dengan cara dan kemampuan kami menghadapi dan menjalani hari-hari yang akan kami lewati kedepan.

Bagi pengantin baru (semoga ini tidak benar, sebab hanya berdasarkan cerita orang-orang zaman old, hehe), perencanaan keluarga sangat penting. Mulai dari urusan tempat tinggal, pekerjaan, kebutuhan harian, hingga urusan finansial. Oh iya, lupa satu hal, travelling.

Bagi Sheila, mungkin saja tak banyak hal yang ia anggap sebagai perubahan. Seperti yang telah saya ceritakan di pindah kota sebelumnya, bahwa sebelum menikah, Sheila telah diterima berkerja di salah satu sekolah menengah di Jakarta. Jadi, sebut saja, aktivitas hariannya bakal sama seperti di Blora. Bangun pagi, berangkat ke sekolah, mengajar, dan..ya  layaknya seorang guru lah ya.. :)

Bedanya, di Blora, Sheila bisa berangkat pukul 6.30 dari rumah. Di sini, hoho..sorry deh. Berangkatnya paling lambat pukul 4.45 pagi, boss. Pakai KRL dari Stasiun UI ke Stasiun Jakarta Kota.

Itu resiko pekerjaan yang kami hadapi di awal pernikahan kami dan tentu saja itu masuk dalam perdebatan kami selama menyusun perencanaan keluarga kecil kami itu. Tapi, kami percaya, kami akan melewatinya dengan baik. Sebab, kami percaya, Tuhan juga merencanakan yang terbaik bagi kami di saat kami merencanakan masa depan keluarga kecil kami ini. Amiiinnnn, ya Allah.

Bulan berikutnya, bulan Agustus, kami diterpa duka. Ayah tercinta, Bapa Pius Gunas dipanggil Sang Khalik. Tak hanya memenggal kebahagiaan yang baru sebulan lalu dirayakan, kepulangan sang maestro keluarga itu juga mengubah banyak rencana kami. Di Borong, Manggarai Timur, Flores usai pemakaman ayah, kami mendiskusikan perubahan rencana itu. Sungguh, beberapa rencana rupanya harus berubah. Salah satunya berkaitan dengan kemungkinan kami untuk segera meninggalkan pekerjaan di Jakarta dan menetap di Golokarot, Borong. Segera.

Tapi, dengan berbagai pertimbangan, kami harus kembali ke Jakarta. Kami menjelaskan pertimbangannya kepada keluarga besar, ase-kae di rumah dan mereka setuju. Kami kembali ke Jakarta dan melanjutkan aktivitas kami sambil menunggu beberapa persiapan untuk ya..sebut saja semacam cara kami memulai kehidupan di Borong nantinya.

***

Sepekan berselang setelah tiba di Jakarta, Sheila mengeluh sakit. Dia merasakan sesuatu yang “aneh” di perutnya. Ini apalagi o.. Mori go! Sebagai suami, saya tentu merasa tertekan. Perasaan kehilangan itu masih terbawa. Dan sekarang harus berhadapan dengan istri yang sakit? I am not sure I can solve it correctly, God!

Akhir pekan, kami ke dokter. Dari hasil pemeriksaan di dokter barulah diketahui bahwa Sheila tengah mengandung.  Hati yang tadi tersayat karena kepergian ayah separonya dihibur dengan kabar gembira itu. PUJI TUHAN! Saya jadi ingat kata-kata orang bijak, "Tuhan selalu menghadiahkan senyuman bagi hamba-hambaNya yang berduka. Dengan cara-Nya sendiri"

Kabar gembira ini sekaligus memastikan kemungkinan kami tinggal lebih lama di sini dan tak segera kembali ke Borong. Mama di Borong setuju karena ada juga pertimbangan-pertimbangan lain yang kami sampaikan demi menjawab mengapa kami tak segera kembali.

6 Bulan Kehamilan dan setelahnya

Di tengah penantian akan kelahiran dia yang pertama itu, kami punya rencana baru: Sheila akan kembali ke kotanya, Puhsarang, Kediri saat 7 bulan usia kandungannya, beristirahat di Kediri, dan akan menjalani persalinan di sana. Begitu kesepakatannya.


Rencana itu kami jelaskan juga ke keluarga di Puhsarang. Ibu dan Bapak di Kediri setuju. Mereka juga menginginkan hal yang sama.Yeaay!

Sementara itu, atas keputusan itu, kami harus siap dengan satu resiko. Bahwa Sheila harus "mundur" dari pekerjaannya sekarang. Semacam berhenti untuk urus 'si kecil' nanti begitu lah.. Ini memang keputusan yang berat. Tapi begitulah. Semua keputusan punya resiko, bukan? 

Akhir bulan lalu, 30 Maret tepatnya, kami berangkat ke Kediri. Merayakan Paskah di sana, dan sekaligus melaksanakan keputusan itu. Sheila pindah kota lagi, dan saya tetap di Jakarta sambil menunggu waktunya tiba: si kecil datang.


Mohon doanya ya, kawan-kawan….


The two most powerful warriors are patience and time (Novelis Russia, Leo Tolstoy)
Tabe
Pindah Kota (5) Pindah Kota (5) Reviewed by Om Marcell on Sabtu, April 14, 2018 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.