Terluka lalu Memaafkan

Baca Juga

Penyerangan Gereja St Lidwina, Sleman, Yogyakarta beberapa waktu lalu menimbulkan keprihatinan banyak kalangan. Peristiwa itu melukai keberagaman, keharmonisan sekaligus kerukunan hidup umat beragama di Yogyakarta dan di Indonesia pada umumnya. 

Terluka lalu Memaafkan - Rm. Karl Edmund Prier
Rm. Karl Edmund Prier | Foto: Jesuiten.org

Romo Karl-Edmund Prier adalah salah satu korban keganasan penyerangan itu. Romo Prier adalah pastor yang memimpin Misa Hari Minggu di Gereja St. Lidwina saat penyerangan itu terjadi. Akibat kejadian yang menimpanya, ia harus dilarikan ke Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta.

Banyak pihak yang prihatin atas peristiwa penyerangan itu. Kecaman dan ungkapan kerprihatinan tertumpah di berbagai dinding media sosial. Tidak sedikit pula tokoh yang langsung mendatangi lokasi kejadian dan mengunjungi RS Panti Rapih untuk membesuk Rm Prier. 

Tentu saja kehadiran tokoh itu bukan pencitraan politik atas nama peduli keberagaman dan kerukunan antarumat beragama. Kunjungan itu tentu datang dari keprihatinan yang tulus atas peristiwa yang menimpa umat Katolik setempat sekaligus bentuk penolakan atas intoleransi beragama. Hal itu bisa dilihat dari sikap yang ditunjukan oleh tokoh Muhammadiyah, Buya Safii Maarif saat mengunjungi RS Panti Rapih untuk mengunjungi Rm Prier.


Memaafkan


Bagi saya, sikap dan reaksi Romo Prier yang menjadi korban dari kejadian itu sungguh menarik dan mulia. Reaksi balasan terhadap aksi yang menimpanya biasa-biasa saja dan cenderung memilih untuk menenangkan suasana. Romo Prier memaafkan pelaku. 

Padahal, kalau mau ditakar dari sisi ancaman keselamatan, Romo Prier lah yang paling terancam keselamatan--yang pada kasus tertentu dengan mudah marah-marah lalu menyerang balik pihak penyerang dengan mengumbar kecaman-kecaman dan caci maki.

Romo Prier juga bahkan tak datang ke Polda DI Yogyakarta untuk melaporkan tindakan pelaku. Datang bersama dengan Romo Suhardianto, Bruder Y Sarju, Romo Baskara, Yulius Felicianus, Lukas Ispadriarno, Hengky Widhi A, dan Yupita Jevanska Atuna, Romo Prier menyampaikan ucapan terimakasih kepada Polda DI Yogyakarta karena menganggap Polda telah membantu.


Romo Prier tidak mengecam pelaku, tidak juga mencerca pelaku yang menyerang umatnya. Romo Prier memilih untuk pertama, menenangkan kepanikan banyak orang Katolik di Yogyakarta, termasuk umat Katolik se-Indonesia, kedua, memaafkan pelaku yang melukainya.

Ini memang sikap yang tidak biasa bagi setiap orang, mungkin juga bagi anda dan saya. Memaafkan orang lain tentu saja sulit saat amarah kita sedang memuncak. Memilih jalan untuk menenangkan situasi di saat konfrontasi kian menegang juga kerap tidak menjadi sikap kita.

Jangankan dalam urusan terorisme seperti yang terjadi di Jogja itu. Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga kerap jatuh dalam amarah dan caci maki tak karuan kepada sesama yang "berseberangan" dengan kita. Jarang sekali kita berupaya menenangkan suasana, lalu dengan tenang mencari jalan keluar tanpa marah-marah.

Jujur saja, saya pribadi juga kerap jatuh dalam sikap tak wajar itu. Dengan orang tua, dengan sahabat, dengan kekasih. Padahal, masalahnya sangat sepele dan sederhana. Sulit sekali mencontohi sikap seperti yang ditunjukan Romo Prier; mudah memaafkan sambil menenangkan situasi yang menyulut amarah. 


Tabe
Marsel Gunas
Terluka lalu Memaafkan Terluka lalu Memaafkan Reviewed by Om Marcell on Jumat, April 13, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.