#Aksi115: I Stand for My Wife

Baca Juga

Saya dan istri, juga si kecil yang tengah kami nantikan kelahirannya kini, mengucapkan selamat menyelenggarakan #Aksi115 kepada para sahabat, politisi, dan pejabat negara, yang tengah bersatu padu membangun solidaritas bagi Palestina di Kawasan Monas hari ini, Jumat (11/5). Kita sama-sama solider dengan Palestina, dengan cara kita masing-masing. Dan cara saya adalah "I stand for my wife!" Lho?

#Aksi115: I Stand for My Wife


Aksi saya "I stand for my wife!" adalah kesimpulan atas debat dengan tema kemanusiaan (tema yang kadang-kadang berat dipikirkan, tapi enteng didiskusikan saat lagi merebah di samping istri #Ehh) antara kami, saya dan istri tercinta, Sheila Romana Fransisca tadi malam. Sheila bilang, kemanusiaan itu tak mengenal batas negara dan agama. Ia tumbuh dari keajaiban nuranimu tanpa sekat, tanpa musim. 

Saya tahu, Sheila mengutip Helvy Tiana Rosa, seorang sastrawati asal Medan, Sumatera Utara. Sheila memberi penjelasan yang bagus untuk menerangkan kutipan itu. Bahwa kemanusiaan adalah agama sesungguhnya. Penghormatan terhadap manusia dan kemanusiaan adalah cara terbaik manusia memuliakan Sang Pencipta. Manusia adalah citra-Nya sendiri.



Entah apa maksud perempuan kelahiran Kediri, 5 Mei 1990 itu. Yang saya paham, dia berlatar belakang pendidikan teologi. Dia guru agama. Jadi, kalau dia mulai bawa-bawa konsep kemanusiaan yang adil dan beradab dengan sedikit referensi teologis (baca: bukan referensi biblis), cukup meyakinkan tentunya.

Terlepas dari itu, berbagai teks publik selama 4 hari terakhir memang menyasar dimensi kemanusiaan. Hal itu menyusul pecahnya insiden yang menelan korban jiwa di dalam kawasan Markas Komando (Mako) Brimob Kelapa Dua, Depok Jawa Barat pada Selasa (8/5). 

6 orang tewas dalam insiden itu. Kami, saya dan isteri tercinta, cukup akrab dengan kawasan sekitar Mako Brimob karena saban hari Minggu kami ikut Misa di Gereja St. Thomas Kelapa Dua yang letaknya persis di samping Mako Brimob Kelapa Dua.

Gara-gara insiden itu, pihak Gereja St. Thomas Kelapa Dua pun urung menyelenggarakan Misa Hari Kenaikan Isa Almasih kemarin, Kamis (10/5/2018). Sheila menyebut insiden di Mako Brimob itu sebagai sesuatu yang keji dan menyakitkan. Bukan hanya karena ada yang tewas, tetapi juga karena situasi itu memicu ketakutan warga sekitar. Aktivitas warga terganggu. Beberapa pedagang tak berjualan. Berapa kerugiannya? Hanya mereka yang tahu.

Kembali ke diskusi kami semalam. Dalam diskusi yang baru berakhir jelang subuh itu, isteri tercinta berpesan agar saya tetap hati-hati. Dia bilang, dia tak ingin saya suaminya mengalami hal-hal yang mengancam keselamatan. 

Sheila mungkin satu dari sekian ratus juta isteri di dunia yang mengharapkan hal yang sama kepada suaminya. Pesan yang sama mungkin juga terucap oleh isteri dari para korban yang meninggal karena insiden di Mako Brimob itu, saat para korban pamit meninggalkan rumah. Pesan yang sama bisa jadi diucapkan isteri para tentara Palestina yang meninggal saat berhadapan dengan tentara Israel. 

Pesan yang sama juga bisa jadi keluar dari mulut isteri para tentara Israel yang dikirim negaranya untuk menyerang Palestina. Bukankah tak ada isteri yang mengiyakan suaminya mengalami musibah dan terluka dalam keadaan apapun?

Tapi di saat yang sama, sebagai manusia, saya dituntut untuk solider dengan Palestina: tak jelas, apakah solider dengan manusianya, dengan historisitasnya, geopolitiknya ataukah dengan teritorialnya (?). Saya bilang ke Sheila saya tertarik dengan tuntutan itu. Apalagi di arena aksi solidaritas itu nanti saya akan bertemu banyak pihak yang kerap disebut "tokoh publik" dan orang-orang saleh. Saya perlu belajar banyak dari mereka (tentang solidaritas?).

Sheila tak protes. Dia bilang itu baik. Lalu dia bertanya; "Apa definisi kemanusiaan di dan untuk Palestina, lalu apa definisi kemanusiaan bagi 6 nyawa korban di Mako Brimob?" Astaga, pertanyaan ini...!

Saya akhirnya bergumam sendiri. Rasa-rasanya, solidaritas saya bagi keluarga para korban insiden di Kelapa Dua gampang musnah. Toh, teritorial dan historisitas Palestina jauh lebih penting. Saya solider dengan Palestina, juga (semestinya) solider dengan air mata dan ratapan keluarga yang ditinggalkan para korban di Mako Brimob. Perkara kesendirian dan kesepian mereka? Duh...saya jadi ingat ibu, Regina, di rumah yang kini menanggung kesendiriannya setelah ditinggal ayah tahun lalu.

Keputusan harus segera diambil. Saya putuskan untuk tidak ke Monas. Saya ke kamar, bersembunyi di balik sorot kamera handphone, menutup jendela (biar tetangga tak mengintip), bertelut. Kepada-Nya, semua dipasrahkan. Yang jelas, semua yang dari Dia baik adanya.



Demikianlah #Aksi115: I Stand for My Wife. Karena sarannya tadi. Sayangnya, dia tak minta #Aksi115 itu disiarkan langsung di jejaring maya, dipertontonkan di hadapan publik, dinarasikan melalui pers, diiklankan di kaos dan spanduk. *LOL

Tabe
#Aksi115: I Stand for My Wife #Aksi115: I Stand for My Wife Reviewed by Marsel Gunas on Jumat, Mei 11, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.