Ajakan untuk Saring sebelum Sharing

Baca Juga

Ramai sekali di beberapa whatsapp grup (WAG) komunitas saudara sekampung, Flores. Dari adu ide hingga adu bully tumpah ruah di sana. Mereka membahas video kekerasan yang diunggah ke media sosial oleh seorang yang RA. RA adalah seorang musisi lokal NTT asal Manggarai.

Ajakan untuk Saring sebelum Sharing
Ilustrasi literasi media sosial | Photo: istimewa

Saya tidak banyak komentar di WAG itu. Sikap saya sederhana: di balik tersebarnya video berkonten kekerasan itu, ada perkara besar yang tengah terjadi di Flores. NTT, umumnya. Perkara krisis literasi media sosial. Perkara itulah yang perlu lebih menjadi concern masyarakat NTT. Manggarai khususnya.

Namun, terpisah dari itu, apapun bentuknya, kekerasan yang disiarkan dan selanjutnya disebarluaskan di media sosial bukan sebuah hal yang positif. Juga, tidak patut diikuti. Selain merusak sendi-sendi etika sosial, juga berpotensi menjadi tindakan kriminal yang melanggar hukum. Apapun modus operandinya.


Rentetan kasus kekerasan yang ditampilkan, disiarkan, disebarluaskan di media sosial perlu menjadi alarm akan adanya krisis literasi media sosial di kalangan pengguna.

Literasi media sosial salah satunya berkaitan dengan penggunaan media sosial secara bijak, mengedepankan rasa hormat kepada privasi pengguna lain, tidak menyebarkan konten pornografi dan pornoaksi, dan tidak mengunggah konten-konten kekerasan. Termasuk menjauhi #cyberbullying.

Dalam kasus tertentu--dimana pengguna mengunggah konten kekerasan, salah satu kendala yang masih dihadapi hingga saat ini adalah bahwa perusahaan platform media sosial-nya (Facebook, Twitter, Youtube, dsb) juga sebetulnya berandil besar dalam persoalan itu; masih ada semacam pembiaran konten itu terunggah dan, bahkan, dengan mudah dibagikan sebanyak mungkin.

Kasus bunuh diri, perkelahian pelajar, persekusi, yang disiarkan langsung di Facebook, tak seharusnya terunggah jika Facebook sebagai platform penyalur konten bisa melumpuhkan konten itu saat diunggah. Atau minimal dalam hitungan 10 detik penyiaran, kontennya ditutup, akunnya ditangguhkan.

Sampai saat ini, hal itu belum terjadi. Facebook, misalnya, masih memberi ruang konten itu terunggah dan akan ditinjau jika ada laporan dan keluhan dari pengguna lainnya. Bahkan, jika sebuah konten dilaporkan, tidak otomatis ditindaklanjuti. Orientasi bisnis terlalu meraja? Entahlah.

Akhirnya, mari kembali ke soal literasi media sosial tadi. Literasi media sosial penting mengingat kita hidup di tengah masyarakat digital. Aktivitas sosio-ekonomi masyarakat kini lebih banyak digerakkan media sosial.

Mari mulai dengan sadar menggunakan media sosial yang perlu diikuti dengan sadar tujuan penggunaan; tidak hanya unggah, tapi perlu sadar untuk tujuan apa, dan dampak apa yang ditimbulkan saat sebuah konten diunggah.

Oh iya, sadar bermedia sosial juga berkaitan dengan kebiasaan saring sebelum sharing.
Mari!

Tabe
Ajakan untuk Saring sebelum Sharing Ajakan untuk Saring sebelum Sharing Reviewed by Om Marcell on Minggu, Agustus 26, 2018 Rating: 5

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.