Cerita Situ Pamulang yang Tak Lagi Angker

Baca Juga

Pamulang kini bukan kota mistis. Sisi mistis Pamulang sudah hilang ditelan waktu dan pembangunan berwawasan kota. Cerita itu dibagikan seseorang di dalam kereta menuju Yogyakarta, dua tahun silam. Sebuah perjalanan yang menyenangkan.

Cerita Situ Pamulang yang Tak Lagi Angker - Marsel Gunas
Situ Pamulang | Photo Credit: Instagram @santosugita

Lelaki separuh baya itu sedang menerima panggilan telephone saat aku masuk ke gerbong kereta. Kadang-kadang, ia menyelingi obrolan via teleponnya itu dengan tawa yang keras. Penumpang di sebelahnya melirik ke arahku. Ekspresinya kesal. Dia sedang marah?

Obrolan di telephone masih berlanjut. Pengucapan kata-kata yang dibaluti dialek Sunda keluar dari mulutnya tanpa keseleo lidah sedikit pun. Aku yang duduk di sampingnya mulai khawatir: jangan-jangan tangannya ikut mengekspresikan amarah. Aku juga mulai berpikir serius andai saja percakapan di telephone itu berlanjut hingga tujuan akhir perjalanan, Yogyakarta.

Pukul 13.00 WIB, kereta berangkat. Yes! Setidaknya, suara obrolan yang gaduh itu-jika masih diteruskan-akan terganggu oleh suara kereta. Sebab, telinga sulit menerima dua kebisingan sekaligus di lubangnya yang amat kecil itu, bukan?

“Eh, nanti kita lanjutkan sampai di Jogja ya? Ente telpon lagi kalau kereta udah nyampe Jogja.” begitu dia menutup obrolan itu.

Yang jelas, bukan hanya aku yang lega saat pembicaraan itu selesai. Seorang ibu dengan kedua anaknya yang duduk berhadapan dengan kami juga rupanya ikut lega. Wajahnya tak lagi murung.

Tinggal satu keadaan lagi yang perlu segera diubah: kami perlu ngobrol. Aku tipe orang yang sulit menikmati perjalanan-khususnya jika menggunakan bus dan kereta, tanpa obrolan, diskusi. Ngobrol lah intinya. Usia ku memang jauh lebih muda dari mereka. Satunya bapak-bapak, satunya emak-emak.

“Turunnya di mana, Mas,?” ibu itu tiba-tiba menanyaiku.
“Di Jogja, Bu” jawabku singkat.

Obrolan ramai nian kala pria yang tadi gaduh juga ikut nimbrung dalam obrolan kami. Dengan senyum yang ramah. Ia mulai menyapa.

“Aslinya Jogja ya, Mas?”
“Nggak, Pak. Aku aslinya NTT. Flores,” jawabku.
“Flores? Wah, saya pernah ke sana. Dua bulan saya di sana. Saya dagang pakaian bekas di sana,” katanya lagi.
“Oh begitu. Terimakasih, telah mengunjungi pulau kami,” jawabku lagi. “Ya, begitu lah. Kalau masih muda, harus sering-sering eksplor banyak tempat di Indonesia. Harus kemana-mana,” pintanya.

Kami bersalaman, saling berkenalan. Pak Abdul, namanya. Ibu yang duduk di berhadapan juga ikut disalami. Nama ibu itu Lia. Suasana jadi akrab. Obrolan berlanjut.

Aku senang dengan suasana itu. Pak Abdul mulai berkisah. Ia berasal dari Pamulang, Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Ia memiliki empat orang anak dari dua orang istri. Istrinya yang pertama, Jurmiah, tinggal di Pamulang. Sedangkan, satunya lagi, Madisa, tinggal di Yogyakarta.

Dari pernikahannya dengan Jurmi, sapaan Jurmiah, mereka dikarunia dua orang anak. Begitu pula dengan Madisa. Mereka juga dikaruniai dua orang anak. Kini, anak-anak mereka tengah menempuh studi di perguruan tinggi di Pamulang dan di Yogyakarta.

Pak Abdul lahir di Pamulang, di Kelurahan Benda Baru. Ayahnya adalah seorang berdarah Minang, dan Ibunya Sunda.

“Ayah saya dulunya petani. Tetapi sejak Tangerang makin maju, pusat perbelanjaan skala besar dibangun, ayah saya menjual semua sawahnya dan membuka sebuah warung makan. Ia banting stir jadi pedagang,” tutur Pak Abdul.

Dulunya, kata Pak Abdul, Pamulang tak seperti sekarang. Saat ia masih kecil. Belum banyak pabrik di sana. Penduduknya masih belum sebanyak sekarang. Belum seramai sekarang. Ia bahkan masih sempat kecipratan kerasnya usaha pertanian sawah ayahnya.

“Pamulang belum seperti sekarang. Dulu ya..kami masih punya sawah. Jadi, saya tuh udah pernah ngerasain jadi petani,” imbuh Pak Abdul.
“Pamulang itu yang Situ Pamulang itu kan ya, Pak?” Bu Lia tiba-tiba menjedahi kisah Pak Abdul.
“Oh..Situ Pamulang..itu cerita masa lalu, Bu,” Jawab Pak Abdul.
“Itu memang sejak lama begitu. Angker, ada hantu lah, dan sebagainya. Tapi, sebenarnya itu dulu. Sekarang mah, tempat itu udah jadi tempat rekreasi atau tempat nongkrong santai warga,” lanjut Pak Abdul.
“Saya sih tahu cerita Pamulang dari itu aja sih, Pak. Soalnya itu kan ramai tuh diberitakan dulu,” ucap Bu Lia.

Aku sekonyong-konyong mengambalikan ingatanku tentang Situ Pamulang. Perjumpaan pertama dengan Pamulang dalam imajinasiku adalah Situ Pamulang. Situ Pamulang, dalam banyak cerita, adalah tempat mistis, angker dan penuh horror di Pamulang.

Mitos tentang Situ Pamulang selalu berkaitan dengan hal-hal mistik atau angker. Sebenarnya, Situ Pamulang adalah sebuah danau. Warga yang lahir dan dibesarkan di Pamulang biasa menyebutnya sebagai Situ Sasak atau Situ Sasak Tinggi. Letaknya di Jl. Raya Padjajaran, Kedaung, Pamulang, Tangerang selatan, Banten, tepat di pinggir ruas jalan Pamulang- Ciputat.


Situ Pamulang atau Sasak itu adalah salah satu dari banyak situ yang ada di wilayah Tangerang Selatan, antara lain; Situ Tujuh Muara, Situ Gintung, Situ Parigi, Situ Rampong, Situ Pondok Jagung dan Situ Kayu Atap. Ada juga Situ Bungur dan Situ Legoso. Semua Situ itu kini menjadi tempat wisata favorit warga Tangerang Selatan.

“Tangerang Selatan itu sebenarnya sekarang terkenal karena Wali Kotanya, Si Airin, Pak,” aku menjedahi obrolan mereka. Gelak tawa Pak Abdul seketika pecah.
“Anak muda mah pasti ke Ibu Airin semua matanya kalau ke Tangerang,” timpal Pak Abdul.

Kriing..Kriing.Telepon Pak Abdul berbunyi.

“Hallo..” Pak Abdul menerima panggilan lagi. Namun, suaranya tak sekeras sebelumnya. Bu Lia kembali melirik. Aku diam. Ah, sudahlah, Pak Abdul memang orang sibuk. Dia pebisnis. Tetapi, bagiku, cerita Pak Abdul tentang Pamulang adalah ajakan sekaligus untuk mengunjungi Pamulang.

Minimal, aku sudah mengantongi jawaban jika muncul pertanyaan “Kenal Pamulang dari Siapa?” Kami akhirnya berpisah di Yogyakarta. Sebelum berpisah, Pak Abdul mengajak aku dan Bu Lia untuk, jika sedang mengunjungi Tangerang, mampir ke rumahnya. Buatku, ini perkenalan yang berkesan.

Tabe
Cerita Situ Pamulang yang Tak Lagi Angker Cerita Situ Pamulang yang Tak Lagi Angker Reviewed by Marsel Gunas on Kamis, Oktober 11, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.