Rangkul Milenial, Gelorakan Kreativitas, Merawat Kebangsaan

Baca Juga

Jennifer Bachdim harus rela berpisah semalam dengan suami dan anak-anaknya. Wanita kelahiran Kinettlingen, Jerman, 6 April 1987 itu harus berangkat ke Jakarta. Jenny, sapaan Jennifer, tinggal di Bali. Jenny adalah istri pesepakbola Irfan Bachdim yang kini memperkuat klub sepak bola kebanggan masyarakat Bali, Bali United.


Selain menggeluti dunia model, Jenny juga merupakan fashion blogger, vlogger dan influencer yang cukup populer di kalangan milenial. Karena itulah ibu dua anak ini diundang ke Istana Bogor. Wanita bernama lengkap Jennifer Jasmin Kurniawan ini hendak menghadiri pertemuan para kreator konten (content creator) peserta XYZ Day 2018 dengan Presiden Joko Widodo di Istana Bogor, Jawa Barat, Minggu (22/4/2018).

Jenny merasa terhormat ketika mendapat undangan itu. Sebab, pada kesempatan itu, kakak pesepak bola Kim Jeffrey Kurniawan itu akan bertemu secara langsung dengan orang nomor satu di Indonesia, Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“SPEECHLESS!!! I was super nervous to meet Mr. President and actually talk to him hahaha, I guess you can tell if you see the video. Anyways we have the coolest and nicest President ever. Thank you Mr. President for inviting me to Istana Bogor, it's a huge honor for me. Love, Jennifer Bachdim,” tulis Jennifer di channel Youtubenya yang diunggah pada 23 April 2018. Unggahan itu diberi judul “MEETING WITH MR. PRESIDENT JOKOWI”.



Pertemuan Presiden Jokowi dengan para kreator konten XYZ dikemas sederhana dan santai di halaman Istana Bogor. Dalam dialognya dengan Jokowi, isu-isu seputar kreativitas memproduksi konten di media sosial dibahas. Ada semacam komitmen agar konten yang dipromosikan di media sosial adalah konten positif yang bermanfaat bagi masyarakat.

Jokowi berharap, sebagai influencer di media sosial, hendaknya para kreator konten dapat menghitung kebermanfaatan konten yang hendak ditampilkan di media sosialnya.

Saat diwawancarai Jennifer—untuk kebutuhan Vlog Jeniffer—Jokowi juga menyampaikan alasannya membuat akun dan aktif di media sosial khususnya Youtube Channel. Jokowi mengatakan, sebagai kepala negara, Jokowi berkepentingan agar publik mengetahui setiap aktivitasnya, baik yang bersifat formal kepemerintahan maupun aktivitas pribadinya, dan membiarkan publik berinteraksi dengannya melalui media sosial secara terbuka.

“Ya supaya program-program pemerintah, kegiatan-kegiatan saya itu bisa diketahui oleh masyarakat. Supaya masyarakat bisa tahu kegiatan-kegiatan saya, kegiatan-kegiatan resmi kemudian juga program-program yang ada,” ujar Jokowi.

Memang, interaksi masyarakat dengan presiden Jokowi selama ini dibikin terbuka. Tengok saja linimasa media sosial Jokowi, baik Facebook, Twitter, Instagram maupun kanal Youtube. Jokowi membuka kran komunikasinya dengan masyarakat tanpa saring (filter). Komentar-komentar negatif, sinis, dan bahkan bully pun tak terhindarkan.

Di hadapan para kreator konten XYZ Day 2018 itu, Jokowi bahkan mengaku bahwa dia belajar dari kelompok milenial dalam membuat konten saat nge-vlog. Mulai dari penempatan kamera, sampai narasi konten yang hendak ditampilkan.

“Saya ikuti. Saya selalu ingin belajar,” tutur Jokowi.

Gelorakan Kreativitas

Pertemuan dengan peserta XYZ Day 2018 adalah pertemuan Jokowi yang kesekian kalinya dengan kelompok milenial, khususnya para influencer media sosial dengan jutaan pengikut. Tahun 2016, Jokowi mengundang Jovial da Lopez dan Andovi da Lopez (SkinnyIndonesian24), dan sejumlah Youtuber papan atas lainnya ke Istana Merdeka Jakarta.

Pertemuan itu mengisyaratkan apresiasi Jokowi bagi kaum milenial yang memanfaatkan media sosial secara positif. Jokowi ingin menggelorakan kreativitas kaum milenial melalui pemanfaatan media sosial secara positif dan konstruktif. Setidaknya, bagi Jokowi, media sosial layak dijadikan sebagai media penyaluran kreativitas berkarya, bukan berprahara.

Sebagai pemimpin, mutlak bagi Jokowi untuk mendorong dan memperkuat kreativitas kalangan milenial. Tujuannya agar jalan kreativitas mereka, selain bermanfaat bagi para pelaku, juga dapat menjadi inspirasi bagi kalangan milenial lainnya.

Dorongan Jokowi sebagai Presiden bagi kaum milenial itu tentu relevan juga dengan fakta penggunaan media sosial yang menyimpang dari tujuannya saat ini. Media sosial kerap dipakai sebagai media penyebaran fitnah dan berita bohong (hoax). Jika masih dibiarkan, kondisi itu tidak hanya akan mengoyakan keakraban warga negara, tetapi juga berpotensi merusak persatuan dan kesatuan bangsa. Jika milenial juga masuk perangkap destruktif itu, tentu saja harapan lahirnya ‘penerus’ yang berintegritas, etis, dan kompeten bakal sirna.

Melawan Hoax, Merawat Kebangsaan

Tantangan menjamurnya berita bohong alias hoax tidak hanya di hadapi di Indonesia. Di Eropa, hoax dianggap menjadi ancaman serius bagi demokrasi-politik setelah munculnya hoax pada momentum Brexit tahun 2016, kala masyarakat Inggris memilih meninggalkan Uni Eropa.

Di Amerika, distribusi hoax dicurigai massif saat Pilpres Amerika yang mengantarkan kemenangan bagi Donald Trump. Facebook dituduh turut andil karena ada artikel hoax yang menguntungkan Trump dan menjadi viral di platform facebook.

Kita juga tentu masih ingat, kehebohan hoax terkait Perdana Menteri Italia Paolo Gentiloni pada hari-hari pertama bertugas. Di Indonesia, hoax mulai ramai saat Pemilihan Presiden tahun 2014 (kasus Obor Rakyat).

Fenomena penyebaran hoax dan fake news tidak hanya mengisyaratkan sebuah disrupsi pada penggunaan teknologi. Tetapi juga pada tingkat literasi digital pengguna internet. Riset DailySocial.id, bekerja sama dengan Jakpat Mobile Survey Platform tahun 2018 menunjukkan, masih banyak orang Indonesia yang tidak dapat mencerna informasi dengan sepenuhnya dan benar, tetapi memiliki keinginan kuat untuk segera membagikannya dengan orang lain.

Dari seluruh responden yang terlibat, riset ini juga mengungkapkan bahwa 44,19 persen responden mengaku tidak yakin mereka punya kepiawaian dalam mendeteksi berita hoax. Selain itu, tiga aplikasi media sosial yang paling banyak digunakan untuk menyebarkan hoax, antara lain Facebook sebesar 82,25 persen, WhatsApp 56,55 persen, dan Instagram sebesar 29,48 persen.

Melihat fenomena itu, diperlukan langkah serius dan cepat untuk mengubah paradigma para pengguna media sosial—khususnya generasi muda, generasi yang sangat dekat dengan gadget dan media sosial. Dari pengguanaan media sosial untuk sekadar menebar caci maki dan fitnah, penggunaan untuk penyaluran kreatifitas. Dari sekadar berprahara, ke penggunaan promosi karya positif.

Jika tidak segera diatasi, ketimpangan penggunaan media sosial, khususnya dalam hal distribusi informasi, berpotensi akan meruntuhkan semangat kebangsaan. Keakraban antarwarga negara sebagai sebuah bangsa akan lenyap seketika.

Negara perlu hadir untuk mengatasi ketimpangan itu. Para pemimpin perlu terus menyerukan semangat persatuan. Generasi muda perlu terus diarahkan untuk merawat keadaban hidup berbangsa. Perlawanan terhadap penyebaran hoax mutlak menjadi tugas bersama. Mari!
Rangkul Milenial, Gelorakan Kreativitas, Merawat Kebangsaan Rangkul Milenial, Gelorakan Kreativitas, Merawat Kebangsaan Reviewed by Marsel Gunas on Rabu, Maret 27, 2019 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.