Warga sebelah Wae Musur Mengerti Politik

Baca Juga

Warga sebelah Wae Musur Mengerti Politik
Ilustrasi jembatan darurat | Photo: Youtube Yano Durung

Praktik demokrasi politik menghasilkan kekuasaan. Soalnya adalah, setelah menghasilkan kekuasaan, lalu bagaimana?

Kekuasaan--yang dihasilkan dari demokrasi politik--adalah cara dan jalan pewujudan kesejahteraan. Kesejahteraan hanya terwujud jika kekuasaan melayani tuntuan keadilan, kesetaraan, dan tanggung jawab etik. Caranya: melalui pembangunan. Pembangunan direncanakan dan dijalankan oleh pemangku kuasa, para pemegang kendali kekuasaan politik.

Pembangunan merupakan proses mengejawantahkan kekuasaan yang dijalankan secara adil dan merata. Ia bukan narasi baru pascapemilu. Atau sekedar laporan harian. Bukan pula sekadar ritual dan seremoni setelah berkuasa. Pembangunan meniscayakan pendistribusian keadilan.

Distribusi keadilan mensyaratkan kesetaraan dan kesamaan hak menikmati pembangunan. Bukan syarat kalkulasi elektoral pemilu. Sentimen elektoral pemilu harus berhenti saat pemungutan suara selesai. Pemenang pemilu adalah pemimpin bagi semua, bukan hanya bagi mereka yang memilihnya.

Secara ideal, politik ditempatkan sebagai jalan mewujdkan kesejahteraan. Politik tidak melayani tuntutan kalkulasi elektoral. Tetapi sepenuhnya melayani tuntutan persoalan pembangunan.

Pemilu bukan syarat mutlak kebijakan politik. Pemilu adalah syarat mutlak kekuasaan politik. Melayani publik, mendistribusikan keadilan, dan (pada akhirnya) menghadirkan kesejahteraan adalah syarat mutlak kebijakan politik.

Keputusan memilih saat pemilu adalah cara publik menitipkan pesan kebutuhan kesejahteraan itu. Keputusan itu, pada tataran ideal, tak lahir tiba-tiba. Kalkulasi akal politik, fakta keadilan sosial yang dialami, hingga kejenuhan terhadap elite, status quo, dan pemangku kebijakan yang kerap membual, ada di sana. Bagi publik, keputusan memilih adalah upaya menghadirkan negara dalam persoalan pembangunannya.

Itulah standar politik publik. Standar itu harus diterima sebagai bukti kecerdasan publik dalam berdemokrasi. Bukan kebodohan (bahkan jika secara halus dibungkus dengan kemasan istilah manis ‘seandainya mereka mengerti politik’). Lain halnya jika standar itu mengakomodasi sentimen suku, agama, ras, dan golongan (SARA).

Di Pilkada Manggarai Timur 2018, warga sebelah Wae Musur di Manggarai Timur telah mengeluarkan keputusan politik dengan standar di atas. Salah dua yang menguat adalah fakta keadilan sosial yang dialami dan kejenuhan terhadap elite  yang kerap membual.

Mereka marah karena sejak kabupaten Manggarai Timur terbentuk, pembangunan masih stagnan di sana. Penerangan tak dinikmati. Air minum bersih sulit. Infrastruktur jalan buruk. Kemiskinan meningkat. Anak-anak sulit untuk mengakses pendidikan. Mereka merasa terisolasi.

Inilah deretan kondisi sosio-ekonomi yang tak bisa dilepaspisahkan dari pengambilan keputusan politik warga sebelah Wae Musur saat Pemilu. Lalu, untuk menjawab tuntutan itu, kaum cerdas-pandai—atas nama keamanan suaka perut di lingkaran kekuasaan politik Manggarai Timur—mencap mereka ‘bodoh’, dengan bungkusan ‘seandainya mereka mengerti politik’? Sungguh kejam dan arogan!

Bagi penikmat kuasa—sekali lagi bagi mereka yang mencari suaka ‘keamanan perut’ di lingkaran kekuasaan politik—memang, pemikiran-pemikiran yang cenderung memaksa publik untuk memandang kekuasaan politik tanpa pertimbangan etika politik dan murni pertimbangan elektoral, adalah iman.

Bagi kelompok ini, politik adalah pertarungan kekuatan, pertarungan kekuasaan. Di tangan kelompok ini, berlaku: yang baik adalah apa saja yang memperkuat kekuasaan penguasa. Bahkan dengan cara menindas sekalipun. Di tangan kelompok ini, hanya mereka yang menyumbang suara terbanyak lah yang berhak atas kue pembangunan. Sebab, takaran elektoral adalah koentji.

Jika pemilih yang tak memilihnya saat pemilu hendak mendapatkan kue pembangunan, datanglah pada penguasa untuk meminta (jika tak ingin disebut mengemis). Pembangunan lantas menjadi soal jatah-jatahan. Bukan hak yang harus diterima semua warga.

Model pemikiran seperti ini perlu dikoreksi secara frontal. Selain menghapus peran negara sebagai elemen pembangunan demokrasi, juga berpotensi memperkuat oligarki politik. Oligarki politik akan mengkultuskan kecongkakan, melanggengkan pendindasan. Bagi orang di lingkaran oligarki, ketimpangan pembangunan adalah konsekuensi elektoral, bukan prahara pembangunan.
Penjilat mungkin bisa maju tapi tidak akan pernah jadi kepala. Karena posisinya selalu di bawah pantat
Kembali ke soal Wae Musur. Baru beberapa bulan yang lalu sebuah stasiun televisi nasional menayangkan potret kemiskinan di Manggarai Timur. Secara terang, potret pemiskinan struktural tergambar dalam tayangan itu. Bertahun-tahun akses ke wilayah sebelah Wae Musur sulit. Belum lagi soal lapangan kerja, kesehatan ibu dan anak, dan sederet fakta lainnya yang pernah terekam dalam sorotan pemberitaan.

Maka, sengkarut pembangunan yang berakibat pada jauhnya kesejahteraan dari realita kehidupan warga sebelah Wae Musur itu seharusnya dibaca dalam kalkulasi ketimpangan pembangunan, bukan ‘kebodohan’ berpolitik saat pemilu!

Tugas penguasa setempat, Agas – Jahur, mengubur ketimpangan itu dalam-dalam. Mengubahnya menjadi potret kesejahteraan. Meskipun, tugas itu terancam gagal. Salah satu sebabnya adalah munculnya kaum terdidik dengan seabrek kata-kata manis nan sastrawi, bertutur melalui tulisan penuh istilah asing hasil comot referensi filosofis (hanya agar terkesan punya setumpuk referensi tekstual dan melek literasi), di Manggarai Timur,  yang—untuk kepentingan suaka ekonominya—menarik diskursus ketimpangan pembangunan Manggarai Timur menjadi diskursus elektoral pemilihan kepala daerah.

Kelompok ini, boleh jadi, masuk kategori penjilat. Yang dalam candaan komika Indonesia, Sammy Not a Slim Boy, digambarkan sebagai “orang yang bisa maju. Tapi tidak akan pernah jadi kepala. Karena posisinya selalu di bawah pantat”.

Begitulah..
Warga sebelah Wae Musur Mengerti Politik Warga sebelah Wae Musur Mengerti Politik Reviewed by Marsel Gunas on Jumat, Maret 29, 2019 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.