Yuk, Lawan Pelecehan Seksual di Sekolah!

Baca Juga

Kasus pelecehan seksual di sekolah masih terjadi. Tidak hanya di level lembaga pendidikan dasar, tetapi juga di lingkungan pendidikan tinggi.

Yuk, Lawan Pelecehan Seksual di Sekolah!
Ilustrasi. Foto: Istockphoto
Di Medan, Sumatera Utara, kasus pelecehan seksual di Yayasan Amal Sosial Al Jamiyatul Washliyah terungkap setelah puluhan siswa sekolah itu berdemo dan mendesak Kepala Sekolahnya dipecat. MH (39), kepala sekolah tersebut, diduga telah melakukan pelecehan seksual terhadap siswi sekolah tersebut, D dan dua teman D pergi ke Pantai Cermin.

Di perjalanan, korban mendapat perlakuan tidak senonoh dari M. Paha korban diraba dan dipanggil dengan sebutan "sayang".

"Kami punya bukti berupa capture chat kepala sekolah sama si D. Guru mengajarkan supaya menghindari perzinahan. Akan tetapi, kenapa dugaan pelecehan seksual ini terjadi," kata seorang siswa, Muhammad Rusdi, saat berdemo di sekolahnya, Rabu, 29 Agustus 2019 kepada Antara.

Kasus pelecehan seksual di lingkungan sekolah lainnya juga terjadi di SMA Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Kasus itu melibatkan seorang guru yang melakukan pelecehan seksual menyimpang terhadap seorang murid laki-lakinya.

Di lingkungan pendidikan tinggi, kasus serupa juga tak kalah marak. Paling anyar, kasus pelecehan seksual di Universitas Negeri Palangkaraya (UPR), Kalimantan Tengah. Sejumlah mahasiswi di UPR diduga mengalami pelecehan seksual oleh dosennya.

UPR membenarkan adanya pelecehan seksual yang dilakukan oleh salah seorang dosennya. Dalam rilis UPR yang didapatkan JokowiApp, Kamis, 29 Agustus 2019 disebutkan kasus tersebut terungkap setelah 6 orang mahasiswi UPR melaporkan perbuatan seorang dosen kepada Dekan FKIP UPR pada 29 Juli 2019.

Penelusuran pihak kampus pun dimulai. Tim investigasi dibentuk, dan dikoordinasikan langsung oleh Rektor UPR. Berdasarkan hasil investigasi tim yang dibentuk rektor UPR itu, dosen terduga pelaku pencehan seksual pun diberhentikan.

Sedikitnya 19 orang saksi termasuk korban sudah diperiksa pihak kepolisian terkait kasus itu. Pelaku, berinisial PS, juga telah ditetapkan sebagai tersangka.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia ( KPAI) menyebut, pelecehan seksual di lingkungan sekolah umumnya dilakukan guru dan kepala sekolah. Data KPAI mengungkapkan, guru olahraga dan guru agama adalah yang paling dominan terlibat dalam kasus pelecehan seksual di sekolah, selain guru seni budaya, guru IPS dan guru komputer.

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyart menjelaskan, sepanjang Januari-Juni 2019, terdapat 13 kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan. Kasus tersebut terjadi di tingkat sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP). Di SD ada 9 kasus. Kemudian, di SMP ada 4 kasus.

Sementara, berdasarkan jenis kelamin, korban anak perempuan ada 9 kasus dan korban anak laki-laki ada 4 kasus.

Menurut Retno, ada berbagai modus yang dilakukan guru untuk mengajak seorang anak melakukan hubungan seksual. Pertama, pelaku mengajak anak menonton film berkonten pornografi di kelas. Selain itu, pelaku memberikan uang kepada korban. Kemudian, sang guru juga mengancam akan memberikan nilai buruk kepada anak, apabila menolak ajakan melakukan hubungan seksual.

"Pelaku mengancam korban memberikan nilai jelek jika menolak atau melaporkan perbuatan pelaku kepada siapa pun. Pelaku memacari anak, kemudian dibujuk rayu untuk melakukan persetubuhan," kata Retno.

Seilha Romana, seorang guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Bantul, Yogyakarta, mengatakan pelecehan seksual di sekolah, bisa saja terjadi di dalam lingkungan sekolah dan di luar sekolah. Baik di dalam maupun di luar sekolah, kata Seilha, kebanyakan dilakukan oleh guru ke muridnya.

“Paling sering di banyak tempat memang dilakukan guru ke muridnya,” kata Seilha saat dihubungi, Kamis, 29 Agustus 2019.

Pelecehan seksual di sekolah lebih didominasi faktor ‘human’. Bukan karena adanya penerapan aturan atau manajemen sekolah tertentu. Guru, menurut Seilha, memiliki kode etik tertentu dalam melangsungkan pembelajaran, baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

“Saya kira itu faktornya, faktor orangnya, ya. Sekolah membuat aturan dan tata tertib tertentu juga berdasarkan aturan yang lebih tinggi, didasari regulasi yang kuat. Jadi lebih ke faktor human,” ujarnya.

Tabe
Marsel Gunas

*Laporan ini telah dipublikasikan di aplikasi JokowiApp
Yuk, Lawan Pelecehan Seksual di Sekolah! Yuk, Lawan Pelecehan Seksual di Sekolah! Reviewed by Marsel Gunas on Kamis, Agustus 29, 2019 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.