Murid Menulis di Papan dan Judul-judul Debat Pendidikan yang Terlalu Rumit

Baca Juga

Minggu lalu, seorang sahabat Facebook mengunggah sebuah foto seorang siswa sekolah dasar (SD) sedang menulis di ‘papan tulis’. Foto yang penuh makna. Membawa saya kembali mengingat banyak kenangan saat mengenyam pendidikan dasar. 

Murid Menulis di Papan dan Judul-judul Debat Pendidikan yang Terlalu Rumit
Seorang anak SD di Flores sedang menulis di Papan Tulis. Dok. Facebook Nitha Ningsi
Saat duduk di bangku SD, kira-kira mulai kelas IV, saya termasuk orang yang sering sibuk mendapat tugas mulia itu: menulis materi pelajaran di papan, dan teman-teman sekelas menyalinnya di buku catatan masing-masing. Guru memberikan teks materi pelajaran, baik berupa buku maupun diktat dan saya menuliskan isinya di papan tulis. Papan tulis adalah istilah umum untuk menyebut papan hitam (blackboard), alat penyajian materi pelajaran di dalam kelas. Menulis di papan menggunakan kapur tulis.

Yang dipercayakan untuk menulis di papan tulis biasanya murid yang dikenal hurufnya bagus. Huruf tegak dan jelas. Bukan huruf, yang dalam istilah beberapa guru, dikategorikan “huruf cakar ayam”. Saban hari, di hampir semua mata pelajaran, aktivitas itu kerap berlangsung. Tidak ada yang keberatan dengan metode penyalinan materi pelajaran seperti itu. Apalagi protes.

Apakah dengan menjalankan tugas itu murid yang kerap diberi tugas menulis di papan tulis mendapat nilai tambahan? Oh, tentu tidak, sodara-sodara! Saya pernah mengira, peristiwa penuh kenangan ini akan berakhir setelah saya tamat SD. Eh, ternyata saya salah. Di SMP, pekerjaan itu berlanjut. Kemudian berhenti saat masuk SMA. Pengalaman itu sangat berkesan. Juga tidak mengecewakan.

Dengan tugas itu, dulu, saya malah terpacu untuk terus melatih untuk ‘menulis indah’, sebuah istilah yang pernah diucapkan mendiang ayah untuk menggambarkan cara menulis dengan huruf yang jelas, rapi, dan bisa dibaca banyak orang. 

Papan tulis merupakan salah satu alat pembelajaran di sekolah. Papan tulis memiliki sejarah panjang dalam dunia pendidikan. Dalam Bahasa Inggris, dikenal dua istilah untuk menyebut ‘papan tulis’: Blackboard dan Chalkboard. Keduanya memiliki makna yang hampir sama jika ditelisik berdasarkan fungsi dan penggunaannya. Dua-duanya merupakan tempat menulis materi pelajaran tertentu oleh guru dengan menggunakan kapur tulis.

Seiring waktu dan perkembangan dunia pendidikan, papan tulis (yang berwarna hitam dan hijau) kini telah digantikan oleh papan tulis berwarna putih (whiteboard). Ya, kalau dipikir-pikir, memang, papan tulis hitam lebih sering bikin repot. Terkesan kotor dan kurang ramah lingkungan karena debu kapur yang dipakai untuk menulis berpotensi menimbulkan alergi tertentu bagi peserta pembelajaran. Termasuk guru.

Tapi tidak semua sekolah di Indonesia telah meninggalkan penggunaan papan tulis hitam. Di banyak sekolah di daerah-daerah (atau di kota-kota besar juga?), papan tulis hitam masih dipakai. Salah satunya ya di sekolah tempat teman Facebook saya itu mengabdi.

Apakah ini menandakan potret pendidikan yang masih belum maju? Keterbatasan fasilitas pembelajaran yang modern dan efektif? Entahlah! Saya tak punya jawaban pasti. Namun, dengan potret ini, setidaknya judul-judul debat pendidikan—khususnya pascapenetapan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru, Nadiem Makarim—sepertinya sudah perlu menyentuh hal-hal semacam ini.

Kebanyakan kita mendiskusikan model ideal kemajuan pendidikan yang maju. Tapi lupa mengangkat hal-hal mendasar terkait kebutuhan pembelajaran di sekolah-sekolah. Ketersediaan buku, alat dan media pembelajaran, gedung sekolah yang berkualitas, laboratorium, ketersediaan guru, jaringan listrik dan air bersih di sekolah, dan berbagai kebutuhan sekolah lainnya.
Murid Menulis di Papan dan Judul-judul Debat Pendidikan yang Terlalu Rumit
Judul-judul debat di sektor pendidikan, sekolah persisnya, yang harus adaptif dengan teknologi, misalnya, mungkin saja akan jadi judul rumit ketika berhadapan dengan kondisi riil dimana masih banyak sekolah-sekolah yang belum tersambung jaringan listrik. Komputer mau dinyalakan pakai apa, coba? 

Judul inovasi belajar berbasis praktikum. Ya bagaimana bisa praktik kalau laboratoriumnya belum lengkap atau bahkan tidak ada? 

Kebutuhan-kebutuhan mendasar di sekolah adalah variabel mendasar yang wajib dipenuhi. Termasuk ketersediaan dan kualitas guru! Tanpa pemenuhan kebutuhan-kebutuhan sekolah itu, sepertinya harapan akan kemajuan pendidikan hanya menjadi utopia. Hanya selesai menjadi harapan dan doa di tiap pergantian Menteri Pendidikan Nasional.

Publik berharap, suntikan APBN yang amat besar di bidang pendidikan setidaknya perlu menjawab berbagai kebutuhan di sekolah, termasuk kebutuhan sarana dan prasarana pembelajaran. Itu mungkin yang perlu dipastikan Mas Menteri Nadiem ke depan. Hehe


Tabe
Marsel Gunas
Murid Menulis di Papan dan Judul-judul Debat Pendidikan yang Terlalu Rumit Murid Menulis di Papan dan Judul-judul Debat Pendidikan yang Terlalu Rumit Reviewed by Marsel Gunas on Rabu, Oktober 23, 2019 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.