Guru Serba Salah dan Murid yang 'ngaku Salah

Baca Juga

Minggu kemarin saya pulang ke Jokja. Pulang untuk jadi ‘asisten rumah tangga (ART)’ sementara. Sheila sedang mengikuti kegiatan di sekitar wilayah kota. Semacam tugas kantor begitu lah. Di rumah hanya ditemani Sergio, si ganteng dan menggemaskan itu. 

Guru Serba Salah dan Murid yang 'ngaku Salah
Dokpri Marsel Gunas

Seru sekali di rumah. Sergio yang usil campur lucu bikin suasana asyik terus. Capek, galau, dan beban yang dibawa dari Jakarta buyar. Di ruang tengah, tempat Sergio bermain, mainannya berserakan. Tak ketinggalan, buku-buku anak yang dibelikan ibunya, juga berserakan di lantai. Sesekali Sergio membuka buku-buku itu dan menunjukkan gambar-gambar di dalamnya. 

Sekembalinya dari tempat kegiatan, Sheila mengajak saya berdiskusi cukup serius. Ya, seperti hari-hari lain sebelumnya, selalu ada banyak tema diskusi yang tumpah di obrolan kami. Mulai dari tema-tema receh tentang kehidupan rumah tangga, hingga ke tema-tema serius. 

Sambil menemani Sergio yang sedang rebahan, kami memulai diskusi kami dengan satu pertanyaan sederhana; “Apa harapan untuk Menteri Pendidikan yang baru?” 

Sheila adalah seorang guru. Tentu pertanyaan itu relevan dengan dunia yang ia geluti. Dunia pendidikan. Di sekolahnya, Sheila tidak hanya memikul tanggung jawab sebagai pengajar, tetapi juga sebagai wali kelas. Tugas yang punya tanggung jawab besar dan penting.

Sheila tak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia malah bercerita tentang fenomena—saya menganggapnya ‘pengalaman’—yang kerap terjadi di dunia pendidikan, persisnya di sekolah-sekolah. Fenomena mendampingi murid yang ‘sedang bermasalah’

Bagi seorang wali kelas, tugas pendampingan anak didik tidak hanya sekadar memastikan anak didiknya mengikuti proses akademik secara efektif. Tidak pula sekadar memastikan anak didiknya hadir di kelas untuk memenuhi persyaratan kehadiran. Tetapi lebih dari itu, ia perlu memastikan masalah yang sedang dialami anak didiknya terselesaikan secara cepat dan tepat.

Dalam sebuah diskusi dengan teman-teman gurunya, seorang sahabatnya membagikan pengalaman mendampingi murid yang ‘bermasalah’. Sekali waktu, sahabatnya itu bercerita, ia menghampiri seorang muridnya yang tak masuk kelas sore hari. Sebagai wali kelas, ia perlu mengetahui alasan anak didiknya itu tak masuk kelas. Jika ada masalah, tentu akan ditindaklanjuti dengan upaya mencari solusi. Itu memang sudah jadi semacam Standard Operational Procedure (SOP) seorang wali kelas.

Namun, sayang. Ia tak mendapatkan jawaban yang cukup ‘enak didengar’ dari muridnya.

“Kenapa kemarin tidak ikut pelajaran?” tanya sahabatnya itu.
“Malas,” jawab muridnya.

Jawaban singkat muridnya itu sempat membuat geram. Tak habis pikir muridnya melontarkan jawaban seperti itu. Tapi, kata Sheila, sahabatnya tak merespon muridnya dengan marah. Bahkan bersuara keras pun tidak. Ia memilih untuk berupaya menenangkan situasi—menghindari debat dengan muridnya itu. Ia masih ingin mengetahui alasan muridnya tak ikut les sore. ‘Malas’, baginya, bukan jawaban yang menerangkan alasan sebenarnya. 

Dialog berlanjut. Sang guru terus berusaha agar muridnya bisa kembali ikut pelajaran di kelas. Ia berupaya untuk mengingatkan muridnya, bahwa sebentar lagi muridnya itu akan mengikuti ujian akhir. Murid itu kini duduk di kelas XII.

“Hari ini kamu akan ikut les, nggak?”
“Tidak.”
Lho, kok tidak?”
“Terus, kalau tidak ikut kenapa, Bu?” 
“Ya, berarti nanti kamu akan dipanggil BK.” 
“Ya, udah. Nggak apa-apa saya dipanggil biar saya sendiri nanti yang bilang ke guru BK.” 
Lho, kok begitu cara berpikirmu. Begini, lho. Mengikuti les itu bukan demi sekolah, demi guru, atau demi saya. Tapi demi kelancaranmu agar kamu dapat menjalani ujian akhir dengan lancar, lulus dengan hasil baik.”
Lha, saya itu harus kerja sore. Malah njenengan suruh les. Nggak dapat uang dong saya. Terus gimana?”
“Nah. Kamu kan ternyata punya alasan itu. Alasan itu yang aku ingin tahu. Ini kan kamu ditanya tapi malah dijawab “malas”. Saya hanya ingin mengetahui alasanmu tidak mengikuti les. Kalau kamu ada masalah, saya akan bantu cari solusinya.”
Alah, salah terus aku. Wis, terserah, bu.”

Kemudian, murid itu pergi. Sahabat Sheila hanya bisa terdiam kaku. Tak habis pikir dengan sikap muridnya itu. Di sekolah, memang, berlaku ketentuan: pembinaan terhadap “murid bermasalah” menjadi tugas bidang Bimbingan Konseling (BK). 

“Tapi kan dia wali kelas. Sebelum itu dilanjutkan ke BK, tentu dia harus punya solusi. Sebagai wali kelas dia memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan persoalan anak didiknya,” ucap Sheila.

Rencana sahabatnya itu untuk melimpahkan pendampingan muridnya itu ke divisi BK pun urung. Ia berupaya untuk menemukan solusi tanpa harus langsung ke pihak BK. Kepada anak didiknya, sahabatnya mengirimkan pesan cukup panjang via Whatsapp. Intinya, permohonan maaf, jika ada kata-kata yang kurang berkenan saat mengingatkan muridnya itu. Apa yang dia lakukan sebenarnya hanya untuk memastikan anak didiknya itu sukses dalam belajar, dan tak tersangkut masalah akademik apapun. 

Pada malam harinya, murid yang “ditegur” itu pun membalas. Ia mengaku salah. Pesannya singkat. 

Kulo nggeh salah,” balasnya singkat.

Cerita Sheila membuat saya tergugah. Imajinasi saya langsung pergi ke situasi-situasi yang saya alami selama masa SMA di Ruteng, Flores. Ada banyak cerita yang masih terekam jelas di ingatan. Tidak hanya soal belajar dan pembelajaran di sekolah, tetapi juga pengalaman menimba pelajaran di lingkungan sosial, tempat saya tinggal.

Peran guru yang begitu sentral dalam proses belajar membuat banyak harapan digantungkan pada kiprah guru. Tidak hanya soal akademik, tetapi juga pendidikan karakter siswa. Guru, menurut Suparlan (2008), dapat diartikan sebagai orang yang tugasnya terkait dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dalam semua aspeknya, baik spiritual dan emosional, intelektual, fisikal, maupun aspek lainnya. 

“Everyone who remembers his own education remembers teachers, not methods and techniques. The teacher is the heart of the educational system,” kata filsuf Amerika, Sidney Hook.

Saya jadi ingat kata-kata seorang teman dalam sebuah diskusi malam di Warung Kopi di sudut kota Bengkulu beberapa tahun silam. 

“Apa-apa, guru yang disalahkan. Murid nakal, guru yang disorot. Murid gagal, guru yang dievaluasi,” komentarnya suatu ketika. 

Kompleksitas Masalah Pendidikan

Tapi tentu saja definisi guru di atas akan menjadi terlampau ideal dalam konteks visi terwujudnya kualitas pendidikan. Kualitas output pendidikan tidak hanya bergantung pada guru. Guru hanya salah satu faktor. Perjumpaan guru dan murid di sekolah hanya salah satu proses pendidikan. Bahkan, barangkali, efeknya terlalu sedikit.

Proses pendidikan juga berlangsung di luar sekolah. Di rumah—di lingkungan keluarga, dan di masyarakat. Dinamika yang terjadi di lingkungan keluarga dan di masyarakat turut membentuk, selain kemampuan berpikir seorang peserta didik, juga kepribadian, karakter, dan ragam kecerdasan seorang anak.

Latar belakang ekonomi keluarga yang mempengaruhi kesuksesan mengenyam pendidikan seorang anak juga berbeda-beda di setiap daerah di Indonesia. Fasilitas penunjang belajar di sekolah juga berbeda-beda. 

Di sebuah daerah yang jauh dari hingar bingar ibu kota, ada potret pendidikan dimana seorang anak, selain harus berjuang untuk sukses belajar di sekolah, mereka juga harus ikut berjuang menambah penghasilan keluarga dengan membantu orang tuanya di sawah. Pakaian mereka lusuh. Kadang-kadang, dari sekolah mereka tak pulang ke rumah tetapi langsung ke sawah. Seragam yang dipakai di sekolah, juga dipakai menarik kerbau untuk membajak sawah. Meski lelah, malam harinya mereka harus belajar. Baca buku dan mengerjakan PR dari sekolah ditemani penerangan dari ‘lampu pelita’.

Di tempat lain, ada juga potret berbeda. Anak-anak belajar di sekolah yang dindingnya membusuk dimakan rayap. Jika musim hujan tiba, mereka harus meminjam tempat yang lebih nyaman untuk belajar. Biasanya kantor desa dan tempat ibadah.

Di tengah situasi itu, guru harus tetap tampil mantap: menjamin transfer knowledge secara efektif di kelas, dan menjalankan pendidikan kepribadian dan moral bagi anak didiknya. Sampai saat ini, saya masih yakin, tidak ada guru yang ingin anak didiknya ‘gagal’: guru selalu ingin anak-anak didiknya sukses.

Meskipun demikian, dalam beberapa kasus, ada juga guru yang menyimpang dari tugas pokoknya. Yang tidak menjadikan dirinya sebagai teladan. Yang cenderung hanya menjadi pengajar, tidak menjadi pendidik. Yang terlibat tindakan kriminal dan pelanggaran hukum.

Maka, di tangan Mas Menteri Nadiem, sepertinya harapan untuk membenahi kompleksitas persoalan pendidikan di tanah air kembali direbahkan. Pembenahan perlu dilakukan secara holistik. Tidak parsial. Tidak hanya pada satu variabel. Tidak hanya dengan suntikan anggaran yang besar, tetapi juga dengan upaya memastikan apakah anggaran yang besar di sektor pendidikan mampu termanifestasi dalam proses dan output pendidikan yang diharapkan.

Di sekolah, proses pendidikan yang berkualitas menjadi tanggung jawab semua komponen. Guru, siswa, dan orang tua perlu ambil bagian secara aktif dalam menyukseskan proses pendidikan. Kesadaran untuk memajukan pendidikan sekiranya terpatri dalam sanubari semua komponen itu.

Diskusi kami pun selesai. Sergio sudah nyenyak.
“Jamnya pacaran,” ucapku. #ehh

Tabe
Marsel Gunas
Guru Serba Salah dan Murid yang 'ngaku Salah Guru Serba Salah dan Murid yang 'ngaku Salah Reviewed by Marsel Gunas on Selasa, November 12, 2019 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.